Mitsubishi XForce HEV Lebih Empuk, EV Mode Tetap Responsif di Kecepatan Tinggi

Mitsubishi XForce HEV menonjol bukan hanya karena sistem hybridnya, melainkan juga perubahan karakter suspensi yang terasa lebih lembut dibandingkan versi bensin. SUV ini tetap menjaga stabilitas saat melintasi jalan bergelombang, trek berbatu, hingga tikungan di area pengujian.

Di sisi lain, EV Mode memberi respons tarikan awal yang spontan ketika mobil mengandalkan tenaga baterai. Kombinasi kenyamanan dan respons tersebut menjadi nilai penting bagi pengguna yang menginginkan SUV harian dengan karakter lebih beragam.

Mitsubishi memperkenalkan XForce HEV di Indonesia pada 16 Juli 2026 untuk masuk ke persaingan SUV hybrid B-Segment lima penumpang. Model ini akan berhadapan dengan Toyota Yaris Cross HEV, Honda HR-V HEV, serta pilihan hybrid dan PHEV dari merek China.

Suspensi Lebih Lembut di Jalan Bergelombang

Perbedaan paling terasa dari XForce HEV berada pada peredaman suspensinya. Saat melintasi permukaan jalan yang tidak rata, bantingan versi hybrid ini terasa lebih empuk daripada XForce bermesin bensin.

Karakter tersebut juga terasa saat SUV ini melewati Jalan Tol MBZ yang memiliki sejumlah bagian bergelombang. Guncangan dapat diredam dengan baik sehingga kenyamanan kabin tetap terjaga dalam perjalanan jarak jauh.

Kabin baris kedua menyediakan ruang yang lega untuk penumpang dewasa. Panoramic sunroof turut membuat suasana interior terasa lebih lapang, meski dapat membuat kabin sedikit lebih hangat ketika cuaca terik.

Mitsubishi menyebut panoramic sunroof termasuk fitur yang banyak diminta konsumen Indonesia. Kehadirannya melengkapi fokus XForce HEV pada pengalaman berkendara yang nyaman dan senyap.

Empat Mode untuk Kondisi Berbeda

XForce HEV menyediakan sejumlah pengaturan berkendara untuk menyesuaikan respons mobil dengan kondisi jalan. Masing-masing mode mengubah prioritas sistem, mulai dari traksi di permukaan licin sampai akselerasi di aspal.

ModeFungsi UtamaKarakter Berkendara
Gravel ModeMembantu traksi di permukaan rendah cengkeramanSetir lebih berbobot dan mobil terasa stabil
EV ModeMemprioritaskan tenaga bateraiTarikan awal responsif dengan kerja mesin lebih minim
Tarmac ModeMendukung pengendaraan agresif di aspalRespons gas lebih sigap dan kemudi lebih mantap
Charge ModeMengisi baterai menggunakan mesin bensinPengisian lebih cepat dibanding Normal Mode

Di lintasan berbatu Karawang, Gravel Mode membantu mobil tetap mudah dikendalikan saat kecepatan dinaikkan hingga mendekati 50 km per jam. Ketika memasuki belokan tajam, bodi kendaraan masih terasa terkendali dan gejala selip dapat dikurangi oleh sistem penggerak.

Pengaturan ini memberi rasa setir yang lebih berbobot pada jalur dengan traksi rendah. Pengemudi pun dapat mempertahankan arah mobil dengan lebih percaya diri tanpa respons kendaraan yang terasa liar.

EV Mode dan Tarmac Mode Jadi Pembeda

Di Bridgestone Proving Ground, pengujian mencakup akselerasi, pengereman, cornering, serta simulasi body roll. Dua mode yang paling menjadi perhatian adalah EV Mode dan Tarmac Mode.

EV Mode memprioritaskan pasokan daya dari baterai agar mesin bensin bekerja seminimal mungkin. Namun, sistem tetap mempertimbangkan posisi pedal gas, kapasitas baterai, dan kondisi jalan sebelum mengaktifkan mesin bensin.

Pereli nasional sekaligus Brand Ambassador Mitsubishi, Rifat Sungkar, sebelumnya menyebut EV Mode dapat bekerja hingga kecepatan sekitar 120 km per jam. Dalam kondisi tertentu, kemampuan itu membuat sensasi berkendara XForce HEV mendekati mobil listrik.

Sementara itu, Tarmac Mode hanya tersedia pada varian hybrid dan tidak dimiliki XForce bermesin bensin. Mode ini membuat respons pedal gas lebih cepat, kemudi lebih mantap, serta mobil lebih siap diajak bermanuver di jalan beraspal.

Dery dari bagian aftersales Mitsubishi menjelaskan bahwa Tarmac Mode meningkatkan kemampuan mobil untuk dipacu lebih agresif. Akselerasi dari posisi diam terasa lebih spontan, sementara kendaraan tetap mudah diarahkan ketika memasuki tikungan.

Charge Mode dan Potensi Efisiensi

Charge Mode memakai mesin bensin untuk mempercepat pengisian daya baterai ketika kapasitasnya menurun. Menurut Dery, pengisian dari satu bar menuju lima bar dapat berlangsung sekitar 150 detik.

“Mode charged ini kurang lebih 150 detik dari satu bar ke 5 bar,” ujar Dery. Mode ini menjadi salah satu kelengkapan XForce HEV yang belum tersedia pada model Mitsubishi lain di Indonesia.

Otomotif Kompas mencatat perjalanan pengujian dari Jakarta menuju Proving Ground Karawang menempuh sekitar 120 km. Mobil membawa empat penumpang dewasa dan barang bawaan, sementara mesin tetap menyala saat berhenti untuk makan siang dan salat Jumat.

Indikator MID mencatat konsumsi terbaik 20,8 km per liter dalam perjalanan tersebut. Saat digunakan di lintasan gravel, angkanya berada di kisaran 19 km per liter, meski catatan ini bukan patokan resmi karena pengujian tidak dirancang khusus mengejar efisiensi.

Dalam pengujian lain, Rifat Sungkar mencatat perjalanan Jakarta-Bali sejauh 1.172 km dengan satu tangki bahan bakar. Dengan kapasitas tangki 42 liter dan kecepatan rata-rata sekitar 70-80 km per jam, hasilnya setara kurang lebih 28 km per liter.

Suspensi yang lebih empuk, kabin senyap, serta pilihan mode berkendara membuat XForce HEV menawarkan karakter yang berbeda dari versi bensin. Mitsubishi mengandalkan paket tersebut untuk memadukan efisiensi bahan bakar dengan respons berkendara yang tetap terasa sigap.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait