Mitsubishi meminta pemerintah mempertimbangkan insentif otomotif yang menjangkau lebih banyak jenis kendaraan, bukan hanya teknologi tertentu. Usulan ini muncul ketika permintaan mobil baru di Indonesia masih melemah dan target penjualan nasional belum mudah dikejar.
Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Atsushi Kurita, menilai stimulus yang merata dapat menghidupkan kembali minat beli masyarakat. Menurutnya, kondisi pasar saat ini membutuhkan dukungan yang lebih luas untuk menjaga pergerakan industri.
Kurita menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta pada Kamis (16/7/2026), di sela peluncuran Mitsubishi Xforce HEV. Ia menekankan bahwa kebutuhan insentif tidak semestinya hanya dikaitkan dengan kendaraan hybrid dan kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV.
“Jadi insentif ini, dibutuhkan tidak hanya untuk hybrid maupun BEV saja. Karena sekarang di Indonesia pasar otomotif itu sedang tidak stabil, permintaan juga menurun cukup tajam,” kata Atsushi Kurita.
Target 850.000 Unit Masih Menjadi Tantangan
Industri otomotif menargetkan penjualan nasional sebesar 850.000 unit hingga akhir tahun. Namun, distribusi kendaraan dari pabrik ke diler sepanjang Januari hingga Juni 2026 baru mencapai 436.564 unit.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan distribusi wholesales membaik pada Juni dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, peningkatan bulanan itu belum serta-merta menghilangkan tekanan untuk mengejar sasaran penjualan tahunan.
| Periode | Wholesales | Keterangan |
|---|---|---|
| Mei 2026 | 69.219 unit | Distribusi dari pabrik ke diler |
| Juni 2026 | 77.550 unit | Meningkat dibandingkan Mei |
Wholesales pada Juni 2026 tercatat 77.550 unit, naik dari 69.219 unit pada Mei. Angka tersebut memperlihatkan adanya perbaikan distribusi, tetapi pasar masih memerlukan dorongan agar pemulihan permintaan dapat berlanjut.
Bagi Mitsubishi, stimulus yang hanya diarahkan kepada varian atau teknologi tertentu berisiko membuat dampaknya tidak maksimal bagi pasar secara keseluruhan. Kebijakan yang lebih inklusif dinilai bisa memberi ruang bagi konsumen untuk memilih kendaraan sesuai kebutuhan mereka.
“Dukungan dari pemerintah untuk industri otomotif harusnya secara adil dan merata, tidak secara spesifik tergantung segmen atau varian tertentu,” jelas Kurita. Ia menilai pendekatan tersebut dapat memotivasi pasar agar berkembang lebih baik dan membantu meningkatkan permintaan.
Dampak Insentif Tidak Berhenti di Diler
Insentif otomotif dinilai penting bukan hanya bagi masyarakat yang sedang mempertimbangkan pembelian mobil. Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan investasi dan aktivitas manufaktur di dalam negeri.
Industri kendaraan memiliki efek berganda terhadap banyak sektor pendukung. Rantai tersebut mencakup industri komponen, logistik, jasa pembiayaan, hingga penyerapan tenaga kerja.
Ketika penjualan kendaraan meningkat, aktivitas pada sektor pendukung diharapkan ikut bergerak. Karena itu, pemulihan pasar dipandang sebagai kebutuhan yang menyentuh ekosistem otomotif secara lebih luas.
Belajar dari Insentif Saat Pandemi
Pemerintah pernah menerapkan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah atau PPnBM DTP untuk kendaraan tertentu saat pandemi COVID-19. Kebijakan itu disebut mampu membantu mendongkrak penjualan mobil domestik ketika kondisi ekonomi berada dalam tekanan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan pelaku industri berharap dukungan pasar kembali dipertimbangkan. Bedanya, Mitsubishi menginginkan skema yang tidak bergantung pada segmen atau varian tertentu.
Di era elektrifikasi, pemerintah juga memberikan insentif PPN bagi kendaraan listrik berbasis baterai yang memenuhi persyaratan tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN. Skema itu memperlihatkan insentif telah dipakai untuk mendorong pengembangan teknologi kendaraan tertentu.
Mitsubishi berharap kebijakan berikutnya dapat mengambil pendekatan yang lebih merata bagi industri otomotif. Menurut Kurita, dukungan yang lebih luas berpotensi menjaga daya saing Indonesia saat pasar melambat dan persaingan global terus berjalan.
