Kenaikan harga energi kembali mengubah perhitungan investor global setelah minyak Brent melampaui US$90 per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan menghambat pelonggaran kebijakan moneter.
Sentimen tersebut langsung membebani pasar saham Asia pada awal perdagangan Senin (20/7). Saham teknologi dan semikonduktor menjadi kelompok yang paling rentan karena valuasinya sensitif terhadap kenaikan imbal hasil obligasi.
Harga Energi Mengubah Arah Perhitungan Pasar
Harga minyak Brent naik sekitar 3% hingga menembus US$90 per barel, level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Pergerakan ini terjadi ketika militer Amerika Serikat memasuki hari kesembilan serangan terhadap Iran, sementara Teheran menyerang sejumlah target di kawasan.
Minyak yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya energi dan memperluas tekanan harga di berbagai sektor. Kondisi itu membuat pasar kembali menilai risiko inflasi yang sebelumnya mulai mereda.
Perhatian investor kini tertuju pada arah suku bunga The Fed karena kebijakan bank sentral AS memengaruhi arus modal, nilai tukar, hingga valuasi aset di banyak negara. Pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada September mencapai 60%.
Bruce Kasman, Kepala Ekonom JPMorgan, mengatakan keseimbangan risiko mulai berubah. “Perkiraan kami adalah perubahan menuju kenaikan suku bunga The Fed yang lebih bertahap pada 2027. Namun, keseimbangan risiko mulai bergeser ke arah kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya.
| Indikator | Pergerakan | Konteks |
|---|---|---|
| Minyak Brent | Naik sekitar 3% di atas US$90 per barel | Tertinggi dalam lebih dari sebulan |
| MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang | Turun 0,3% | Sentimen regional melemah |
| Bursa Korea Selatan | Turun 0,6% | Setelah anjlok hampir 9% pekan lalu |
| Indeks Philadelphia Semiconductor | Turun 10% pekan lalu | Sekitar 20% di bawah rekor Juni |
Imbal Hasil Tinggi Menekan Saham Teknologi
Imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun kembali menembus 5%, sehingga obligasi menawarkan alternatif yang semakin menarik bagi investor. Ketika imbal hasil naik, perusahaan perlu menunjukkan pertumbuhan laba yang lebih kuat untuk mempertahankan daya tarik sahamnya.
Tekanan ini terasa pada sektor teknologi, terutama saham semikonduktor dan kecerdasan buatan atau AI. Indeks Philadelphia Semiconductor telah jatuh 10% sepanjang pekan lalu dan berada sekitar 20% di bawah rekor tertingginya pada Juni.
Sentimen AI juga melemah setelah perusahaan China Moonshot memperkenalkan model open-weight Kimi K3. Moonshot menyatakan model itu memiliki kinerja yang mendekati model frontier Fable milik Anthropic dari Amerika Serikat.
Namun, proyeksi laba masih menjadi penopang bagi sektor teknologi. Analis BofA Savita Subramanian memperkirakan laba perusahaan dapat melampaui konsensus sekitar 5% atau tumbuh 28%, dengan teknologi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan tersebut.
Laba perusahaan semikonduktor bahkan diproyeksikan meningkat sekitar 130% secara tahunan. Laporan keuangan Alphabet, Intel, dan Tesla pada pekan ini akan menjadi ujian penting bagi optimisme investor terhadap pertumbuhan laba sektor teknologi.
Pasar Asia dan Eropa Ikut Menimbang Risiko Baru
Menurut Media Indonesia, indeks MSCI untuk bursa saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3%, sedangkan bursa Korea Selatan melemah 0,6%. Pasar Korea dinilai lebih rentan karena komposisinya didominasi emiten teknologi dan semikonduktor.
Bursa Jepang tidak beroperasi karena hari libur nasional setelah indeks Nikkei merosot 6,4% pada pekan sebelumnya. Penurunan itu menunjukkan aksi jual saham teknologi telah meluas ke pasar utama Asia.
Kenaikan harga minyak juga menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Kamis. Pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga pada level 2,25%.
Di pasar valuta asing, euro relatif stabil di US$1,1433 dan dolar AS berada di 162,41 yen. Harga emas turun 0,6% menjadi US$3.993 per troy ounce karena kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik aset tersebut.
Source: mediaindonesia.com






