
Peneliti di China menemukan mikroplastik dan nanoplastik hampir ada di semua sampel otak yang mereka periksa. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil tidak hanya beredar di lingkungan, tetapi juga mampu mencapai jaringan tubuh manusia yang paling sensitif.
Yang membuat temuan ini penting adalah pola sebarannya yang kini mulai terlihat lebih jelas. Studi tersebut menunjukkan partikel plastik hadir pada jaringan tumor otak dan jaringan otak sehat, dengan konsentrasi yang berbeda di masing-masing area.
Jejak plastik di sampel otak
Tim dari Beijing Tiantan Hospital, Peking Union Medical College Hospital, dan Chinese Research Academy of Environmental Sciences meneliti sampel selama empat tahun. Mereka menganalisis 156 sampel otak berpenyakit dari 113 pasien tumor otak dan 35 sampel otak sehat dari lima donor postmortem.
Hasilnya sangat mencolok. Mikroplastik dan nanoplastik terdeteksi pada 99,4 persen sampel otak berpenyakit dan pada seluruh sampel otak sehat, atau 100 persen.
Konsentrasi partikel itu juga lebih tinggi pada jaringan otak peritumoral dibandingkan jaringan otak sehat. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Health dan menjadi salah satu gambaran paling rinci tentang distribusi partikel plastik di otak manusia.
Nanoplastik jadi komponen dominan
Penelitian itu juga menunjukkan nanoplastik menyumbang lebih dari separuh total beban plastik. Ukuran yang jauh lebih kecil ini diduga memberi keuntungan bagi partikel untuk menembus penghalang darah-otak.
Beijing Tiantan Hospital menjelaskan bahwa ukuran partikel berperan penting dalam penetrasi ke jaringan otak. Semakin kecil partikelnya, semakin besar peluangnya melewati penghalang biologis yang melindungi otak.
Para peneliti mengajukan dua kemungkinan utama mengapa partikel plastik bisa ditemukan di otak. Salah satunya, partikel itu tetap berada di dalam sistem pembuluh darah otak.
Kemungkinan lain berkaitan dengan kondisi tumor otak. Dalam situasi itu, penghalang darah-otak atau penghalang darah-tumor mungkin terganggu, sehingga partikel plastik dapat melewati penghalang, masuk ke parenkim otak, lalu menumpuk di sana.
Masih ditelusuri sumber paparannya
Tim peneliti juga mencoba melihat faktor yang berkaitan dengan kandungan mikroplastik lebih tinggi pada pasien tumor otak. Sejumlah faktor yang tercatat meliputi frekuensi suntikan praoperasi, indeks massa tubuh, usia, frekuensi penggunaan kosmetik, dan penggunaan pembungkus makanan plastik.
Chen Xiaolin, kepala dokter Pusat Bedah Saraf di Beijing Tiantan Hospital, menyebut penelitian ini berhasil mengidentifikasi karakteristik distribusi mikroplastik dan nanoplastik di otak manusia. Ia juga menilai ada korelasi dengan status penghalang patologis dan indikator proliferasi tumor.
Namun, Chen menegaskan temuan itu belum membuktikan bahwa partikel plastik menyebabkan perkembangan tumor otak, mempercepat progresi, atau memperburuk prognosis. Hubungan antara paparan plastik dan penyakit otak masih memerlukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam.
Temuan ini menambah lapisan baru dalam pembahasan mikroplastik sebagai kontaminan global. Pertanyaannya kini bukan hanya seberapa luas partikel plastik menyebar di lingkungan, tetapi juga seberapa jauh partikel itu masuk ke otak dan bagaimana tubuh merespons keberadaannya.





