Kans Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa kembali menjadi sorotan setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz memberi isyarat bahwa Kiev mungkin harus menerima kenyataan kehilangan sebagian wilayah dalam kesepakatan damai dengan Rusia. Pernyataan itu langsung menambah bobot perdebatan tentang masa depan Ukraina, terutama karena ia mengaitkannya dengan jalur menuju keanggotaan Uni Eropa yang dinilai belum bisa ditempuh secara cepat.
Merz menekankan bahwa Ukraina pada akhirnya akan menghadapi gencatan senjata dan, semoga, perjanjian damai. Dalam pandangannya, ada kemungkinan bahwa “satu bagian dari wilayah Ukraina tidak lagi menjadi Ukraina” ketika kompromi politik itu tercapai.
Isyarat kompromi teritorial dalam proses damai
Pernyataan Merz disampaikan di hadapan siswa di Carolus-Magnus-Gymnasium, Marsberg, di North Rhine-Westphalia. Ia menghubungkan kemungkinan kompromi wilayah itu dengan upaya Presiden Volodymyr Zelenskiy membangun dukungan publik di dalam negeri.
Menurut Merz, jika Zelenskiy ingin menjelaskan langkah tersebut kepada rakyatnya dan memperoleh mayoritas, termasuk lewat referendum, maka keputusan itu juga harus dipahami sebagai bagian dari jalan menuju Eropa. Ia menempatkan isu teritorial dan integrasi Eropa dalam satu kerangka politik yang saling terkait.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan bahwa pembahasan damai tidak hanya menyangkut penghentian perang. Pembahasan tersebut juga menyentuh harga politik yang mungkin harus dibayar Ukraina untuk menjaga dukungan internasional dan membuka ruang integrasi lebih jauh dengan Barat.
Aksesi ke Uni Eropa belum bisa dipercepat
Di sisi lain, Merz menolak anggapan bahwa Ukraina bisa segera menjadi anggota Uni Eropa. Ia menilai perang yang masih berlangsung membuat proses aksesi tidak mungkin berjalan cepat, dan Ukraina tetap harus memenuhi syarat ketat yang berlaku bagi semua kandidat.
Ia menyoroti prinsip-prinsip dasar seperti supremasi hukum dan pemberantasan korupsi sebagai syarat yang tidak bisa diabaikan. Dalam penilaiannya, proses menuju keanggotaan penuh harus bergantung pada kesiapan institusi dan politik, bukan semata pada dorongan solidaritas terhadap Ukraina.
Merz juga menyebut target yang pernah dibayangkan Zelenskiy, yakni masuk Uni Eropa pada 1 Januari 2027, sebagai sesuatu yang tidak akan terwujud. Bahkan, menurutnya, 1 Januari 2028 pun belum realistis.
Sikap itu memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Ukraina tidak otomatis berarti percepatan keanggotaan. Uni Eropa tetap menuntut konsistensi reformasi, sementara perang membuat banyak tahapan formal sulit dijalankan secara normal.
Hambatan dari dalam Uni Eropa dan peluang yang masih terbuka
Ukraina saat ini berstatus kandidat resmi Uni Eropa. Status tersebut penting sebagai pengakuan politik, tetapi belum menjadi jaminan bahwa keanggotaan penuh akan datang dalam waktu dekat.
Sebelumnya, kemajuan Ukraina sempat tertahan oleh Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban. Kekalahan Orban dalam pemilu awal bulan ini kemudian memunculkan harapan baru bahwa proses dapat bergerak ke tahap berikutnya.
Namun, hambatan politik di dalam blok tetap menjadi faktor besar. Karena itu, Merz melihat perlunya pendekatan yang lebih bertahap agar Ukraina tetap dekat dengan lembaga-lembaga Eropa tanpa harus menunggu seluruh proses aksesi selesai.
Usulan peran pengamat sebagai jalan tengah
Sebagai opsi antara, Merz mengusulkan agar Ukraina diberi peran pengamat di lembaga-lembaga Uni Eropa. Ia menyebut gagasan itu mendapat penerimaan luas dari para pemimpin Eropa dalam pertemuan puncak pekan lalu di Siprus, yang juga dihadiri Zelenskiy.
Pendekatan ini dipandang sebagai upaya menjaga hubungan politik Ukraina dengan Uni Eropa sambil tetap mempertahankan aturan formal keanggotaan. Bagi Kiev, status pengamat bisa menjadi sinyal bahwa Eropa masih membuka pintu, meski belum pada tahap penuh.
Uni Eropa sendiri pekan lalu menyetujui pinjaman 90 miliar euro untuk Ukraina, yang disebut dapat menutup sebagian besar kebutuhan negara itu hingga 2027. Meski begitu, blok tersebut masih terbelah soal seberapa cepat pembicaraan aksesi seharusnya dilanjutkan.
Dengan situasi itu, pernyataan Merz menegaskan bahwa masa depan Ukraina di Eropa berada di persimpangan antara perang, kompromi damai, dan reformasi dalam negeri. Jalur menuju Uni Eropa tetap terbuka, tetapi setiap langkahnya masih bergantung pada syarat politik, hukum, dan dinamika cepat di medan perang serta meja perundingan.
