Merasa sehat tidak selalu berarti tubuh benar-benar aman dari penyakit serius. Kisah Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik menunjukkan bahwa stroke dan serangan jantung bisa muncul tiba-tiba, bahkan saat seseorang merasa aktif dan sudah menjaga pola hidup.
Dua pengalaman itu juga memperlihatkan satu bahaya yang sering luput disadari, yaitu hipertensi yang bergerak diam-diam tanpa gejala jelas. Karena sering baru terdeteksi setelah memicu komplikasi berat, cek tekanan darah rutin menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Stroke bisa datang saat tubuh terasa normal
Iwet Ramadhan mengaku sempat tidak percaya dirinya bisa terkena stroke. Ia merasa sudah cukup aktif berolahraga dan menjaga kebugaran, tetapi tekanan hidup yang menumpuk ternyata ikut memberi dampak pada kesehatannya.
Dari pengalaman itu, Iwet menilai rasa sehat tidak boleh membuat orang lengah. Ia mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin perlu dilakukan sebelum keluhan muncul dan tubuh memberi peringatan yang terlambat.
Setelah mengalami stroke, Iwet mulai menata ulang kebiasaan hidupnya. Ia tetap berolahraga, menambah latihan angkat beban selain lari, dan lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Perubahan paling besar justru terjadi pada cara Iwet menghadapi stres. Ia kini tidak lagi memilih memendam emosi seperti dulu dan berusaha lebih jujur saat merasa tidak nyaman.
Ia juga belajar menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Menurut Iwet, stres sering muncul ketika kenyataan tidak sesuai harapan, sehingga sikap lebih tenang dan berserah menjadi bagian penting dalam pemulihan mentalnya.
Serangan jantung membuat prioritas hidup berubah
Dave Hendrik mengalami hal serupa ketika serangan jantung datang tanpa tanda yang ia sadari sebelumnya. Dari pengalaman itu, ia menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama dan tidak lagi menganggap pemeriksaan rutin sebagai hal kecil.
Dave menilai banyak orang merasa baik-baik saja sampai kondisi tubuh memburuk tanpa disadari. Karena itu, ia memandang pemantauan kesehatan secara berkala sebagai kebiasaan sederhana yang bisa memberi dampak besar.
Kini, Dave memegang tiga kebiasaan yang tidak bisa ditawar dalam hidupnya, yaitu makan bergizi, olahraga, dan tidur cukup. Ia juga berusaha tidur lebih awal, sekitar pukul 9 atau 10 malam.
Hipertensi sering tidak terasa, tetapi dampaknya berat
Kisah Iwet dan Dave menggambarkan bagaimana penyakit kardiovaskular bisa menyerang orang yang tampak sehat sekalipun. Salah satu pemicu paling berbahaya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi, yang sering hadir tanpa gejala.
Organisasi Kesehatan Dunia mencatat stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pada 2021, angka kematian akibat stroke mencapai 140,8 per 100.000 penduduk, sementara penyakit jantung iskemik mencapai 90,4 per 100.000 penduduk.
Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Dr. Eka Harmeiwaty, menegaskan bahwa hipertensi memang kerap tidak menimbulkan keluhan. Namun, dampaknya bisa sangat serius dan berujung pada stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, hingga kepikunan.
Ia juga menyoroti pentingnya pengukuran tekanan darah yang benar dan akurat. Pemeriksaan mandiri di rumah menggunakan alat yang telah tervalidasi klinis dinilai bisa membantu deteksi lebih dini.
Dr. Eka mengingatkan bahwa hipertensi juga berkaitan dengan gangguan irama jantung atrial fibrillation atau AFib. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat dan sering muncul hilang-timbul, sehingga pemantauan rutin menjadi sangat penting.
Dorongan memantau tekanan darah dari rumah
Kesadaran akan pentingnya deteksi dini mendorong Omron Healthcare Indonesia meluncurkan Tensimeter Seri EZ dan IQ di Indonesia dalam momentum Hari Hipertensi Sedunia. Perangkat ini ditujukan untuk memudahkan masyarakat memantau tekanan darah dari rumah.
Director Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan inovasi tersebut dibuat agar pengukuran tekanan darah terasa lebih mudah, cepat, dan nyaman. Seri EZ menawarkan pengoperasian satu sentuhan dengan teknologi IntelliSense, sementara Seri IQ hadir dengan layar lebih besar, manset yang lebih nyaman, dan teknologi IntelliSense AFib berbasis AI.
Di tengah meningkatnya kasus hipertensi dan penyakit ginjal kronis pada usia produktif, kebutuhan untuk memantau tekanan darah menjadi semakin relevan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan kelompok usia 25–34 tahun juga mulai banyak menjalani hemodialisis atau cuci darah, dengan hipertensi sebagai salah satu penyebab utamanya.
Kisah dua figur publik itu memperlihatkan bahwa tubuh bisa tampak baik-baik saja, tetapi risiko penyakit serius tetap mengintai. Karena itu, rutin mengecek tekanan darah, menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup, dan mengelola stres menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko stroke dan serangan jantung.
Source: www.suara.com






