Banyak orang menganggap rasa mengantuk setelah makan nasi hanya terjadi karena perut terlalu penuh. Padahal, tubuh juga sedang menjalankan proses biologis yang membuat kewaspadaan menurun sesaat setelah makanan tinggi karbohidrat masuk.
Artinya, kantuk setelah makan bukan selalu tanda tubuh malas. Dalam banyak kasus, kondisi itu adalah respons normal yang muncul dari cara tubuh memproses nasi dan mengatur energi.
Mengapa nasi bisa membuat tubuh terasa lebih mengantuk
Associate Director Internal Medicine CK Birla Hospital Gurugram, Dr. Tushar Tayal, menjelaskan bahwa nasi termasuk makanan kaya karbohidrat. Saat karbohidrat dikonsumsi, tubuh merespons dengan melepaskan insulin untuk membantu mengatur kadar gula darah.
Peningkatan insulin ini ikut memengaruhi pergerakan asam amino di dalam tubuh. Akibatnya, lebih banyak triptofan dapat masuk ke otak dan kemudian diubah menjadi serotonin, lalu melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam pengaturan tidur.
“Dengan berkurangnya persaingan, triptofan lebih mudah masuk ke otak, lalu diubah menjadi serotonin dan kemudian melatonin, yaitu zat kimia yang mengatur tidur,” ujar Dr. Tayal, seperti disadur Only My Health, Senin (13/7/2026).
Karena proses itu, rasa kantuk ringan bisa muncul setelah makan. Dr. Tayal menegaskan, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan proses biokimia daripada kurangnya kemauan untuk tetap terjaga.
Porsi besar dan nasi putih bisa membuat efeknya lebih terasa
Ukuran porsi juga ikut menentukan seberapa kuat rasa kantuk muncul. Saat makan dalam jumlah besar, tubuh mengalihkan lebih banyak aliran darah ke sistem pencernaan agar proses pengolahan makanan berjalan optimal.
Akibatnya, energi yang tersedia untuk menjaga tubuh tetap waspada menjadi berkurang. Itulah sebabnya seseorang bisa merasa lemas atau ingin tidur setelah makan siang.
Dr. Tayal juga menjelaskan bahwa nasi putih cenderung memicu lonjakan gula darah lebih cepat dibanding nasi merah karena telah melalui proses pengolahan. Setelah lonjakan itu, kadar gula darah bisa turun lebih cepat sehingga rasa lelah menjadi lebih terasa.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan alasan untuk menghindari nasi. Menurutnya, rasa kantuk usai makan adalah bagian normal dari proses pencernaan, bukan tanda ada sesuatu yang salah.
Supaya energi lebih stabil, nasi sebaiknya tidak dimakan sendirian
Head Dietitian Fortis Hospital Ludhiana, Gauri Soni, mengatakan kantuk tidak hanya dipicu oleh nasi, tetapi juga bisa muncul setelah porsi besar makanan tinggi indeks glikemik tanpa pendamping yang seimbang. Karena itu, komposisi menu ikut menentukan apakah energi tubuh terasa stabil atau justru mudah turun.
Ia menyarankan nasi dikonsumsi bersama sumber protein seperti ikan, ayam, telur, atau kacang-kacangan, serta sayuran yang kaya serat. Kombinasi ini membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah lebih stabil.
“Padukan nasi dengan protein dan serat seperti dal, sayuran, atau protein tanpa lemak, makanlah dalam porsi yang wajar, dan hindari langsung berbaring setelah makan,” imbau Gauri Soni.
| Faktor | Dampak | Saran |
|---|---|---|
| Nasi tinggi karbohidrat | Memicu insulin dan proses yang berkaitan dengan kantuk | Konsumsi dengan pendamping yang seimbang |
| Porsi makan besar | Fokus tubuh lebih banyak ke sistem pencernaan | Atur porsi makan agar tidak berlebihan |
| Nasi putih | Lonjakan gula darah lebih cepat lalu turun lebih cepat | Padukan dengan protein dan serat |
Temuan yang disebutkan Gauri Soni juga didukung penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2020. Studi itu menunjukkan pola makan berbasis nasi dapat meningkatkan kualitas tidur pada malam hari, salah satunya karena berkaitan dengan penurunan stres oksidatif di dalam tubuh.
Pada akhirnya, rasa kantuk setelah makan nasi bukan gejala yang aneh. Yang paling menentukan adalah porsi, lauk pendamping, dan cara menyusun menu agar energi tetap stabil setelah makan.







