Mendag Tegaskan Minyakita Tak Langka, Pasokan Aman Meski Persepsi Pasar Menggoyang

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa minyak goreng rakyat merek Minyakita tidak langka di pasaran. Ia memastikan pasokan minyak goreng nasional masih aman dan tetap tersedia melalui berbagai jalur distribusi.

Pernyataan itu muncul di tengah persepsi sebagian konsumen yang menilai Minyakita sulit didapat di sejumlah titik penjualan. Pemerintah menilai kondisi tersebut lebih tepat disebut penyesuaian pasokan, bukan kelangkaan nasional.

Minyakita berada dalam skema stabilisasi harga

Budi menjelaskan Minyakita sejak awal dirancang sebagai instrumen intervensi pemerintah untuk menjaga harga minyak goreng domestik tetap terjangkau. Mekanisme yang dipakai adalah domestic market obligation atau DMO, yakni kewajiban produsen memasok kebutuhan dalam negeri sebagai syarat untuk bisa melakukan ekspor.

Skema itu membuat volume Minyakita yang beredar di pasar bisa berubah mengikuti dinamika ekspor. Jika ekspor turun, maka pasokan DMO juga ikut menyesuaikan, tetapi kondisi tersebut tidak otomatis berarti pasar kekurangan minyak goreng.

Pasokan nasional dinilai aman

Menurut Mendag, stok minyak goreng merek lain masih tersedia di pasar dengan harga yang relatif stabil. Karena itu, pemerintah menilai isu yang berkembang di masyarakat perlu dilihat secara lebih utuh, bukan hanya dari keberadaan satu merek.

Berikut poin utama dari penjelasan pemerintah:

  1. Minyakita tidak mengalami kelangkaan secara nasional.
  2. Pasokan minyak goreng nasional masih aman.
  3. Volume Minyakita dipengaruhi skema DMO dan aktivitas ekspor.
  4. Merek minyak goreng lain tetap tersedia di pasar.
  5. Kemendag terus memantau distribusi di pasar tradisional.

Pemerintah juga menilai situasi di lapangan masih terkendali karena produk minyak goreng dengan kualitas serupa tetap mudah ditemukan. Dalam konteks ini, ketersediaan barang di pasar tidak bisa diukur hanya dari satu merek yang sedang menjadi perhatian publik.

Persepsi langka muncul karena Minyakita jadi acuan

Budi menilai persepsi langka sering muncul karena Minyakita kerap menjadi acuan utama harga minyak goreng di masyarakat. Saat harga merek ini bergerak naik sedikit atau stoknya terlihat terbatas, publik cenderung langsung menganggap minyak goreng sedang mahal atau langka.

Padahal, kata dia, stok merek lain tetap ada dan beredar normal di pasar. Kondisi itu menunjukkan bahwa gambaran pasar minyak goreng perlu dibaca dari keseluruhan pasokan, bukan dari satu label dagang saja.

Pemantauan pasar terus dilakukan

Kementerian Perdagangan tetap melakukan pemantauan langsung ke pasar tradisional untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Langkah ini penting agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi dan harga di tingkat konsumen tidak bergejolak.

Pemantauan lapangan juga dipakai untuk melihat apakah distribusi Minyakita dan minyak goreng merek lain berjalan seimbang. Dengan pasokan yang disebut aman, perhatian pemerintah kini tertuju pada kelancaran distribusi serta konsistensi harga ritel agar masyarakat mendapat produk dengan harga wajar.

Source: www.beritasatu.com
Terkait