Liburan keluarga Meisya Siregar dan Bebi Romeo di Bali berubah menjadi pengalaman yang mengkhawatirkan. Putra bungsu mereka, Muhammad Bambang Arr Ray Bach, nyaris tenggelam setelah terseret ombak saat bermain di pantai.
Meisya memilih tidak menyalahkan pihak lain atas peristiwa tersebut. Ia dan Bebi mengakui bahwa pengawasan sebagai orang tua ketika itu belum maksimal.
Momen di Pantai yang Berlangsung Cepat
Insiden terjadi ketika Meisya dan Bebi sedang bersantai serta berbincang dengan rekan-rekan di area beach bar hotel. Pada saat itu, Bambang berada di area pantai dan terseret ombak tanpa disadari keduanya.
Area tempat keluarga itu duduk tidak berada tepat di bibir pantai. Menurut Meisya, tamu harus menuruni tangga untuk mencapai pantai yang berjarak sekitar 400 meter hingga 1 kilometer dari area beach bar.
Sebelum bermain, Bambang sempat meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke pantai. Meisya mengatakan dirinya telah mengingatkan sang putra agar tetap bermain di pinggir karena kondisi laut sedang pasang.
“Bambang sempat izin, ‘Bun, Bambang ke pantai ya.’ Aku jawab, ‘Ingat ya, Nak, pantainya cuma boleh di pinggirnya aja, main pasir. Kalaupun mau main ombak, ingat lautnya lagi tengah (pasang),’” tutur Meisya.
Bambang disebut menjawab siap atas pesan tersebut. Selama empat hari berada di Bali, ia juga bermain di pantai yang sama setiap hari bersama keluarga.
Rasa Aman dari Lokasi yang Sudah Dikenal
Meisya menilai kebiasaan mengunjungi pantai yang sama membuat keluarganya merasa terlalu akrab dengan lingkungan tersebut. Rasa familier itu kemudian ia sebut sebagai salah satu titik kelengahan dalam pengawasan.
“Tempat itu bukan tempat asing, ibaratnya lingkungannya sudah kita kenal dan rasanya sudah kayak ‘di rumah sendiri’. Nah, itulah kelengahan kita,” kata Meisya dalam keterangannya yang dikutip detikHot.
Ia menegaskan bahwa kondisi laut dan ombak tidak dapat dipastikan. Meisya memandang kejadian itu sebagai takdir, sembari tetap mengakui kekurangan dirinya dan Bebi dalam mengawasi anak.
Pengakuan tersebut disampaikan Meisya sebagai bentuk sikap berjiwa besar setelah kejadian yang menegangkan itu. Ia mengatakan emosi dirinya dan sang suami bercampur pada malam setelah insiden.
“Kalau aku berdua sih harus berjiwa besar mengakui kalau ini adalah kelengahan kita sebagai orang tua. Malam itu perasaannya berkecamuk banget,” ujarnya.
Bebi Romeo Tak Ingin Berpisah dari Bambang
Dampak emosional peristiwa itu juga dirasakan Bebi Romeo. Meisya menyebut suaminya tidak ingin tidur terpisah dari Bambang pada malam setelah kejadian.
Biasanya, kamar Meisya dan Bebi terpisah dari kamar anak-anak mereka. Namun, setelah Bambang nyaris tenggelam, Bebi memilih tetap bersama putranya.
“Apalagi Bebi jadi nggak mau pisah tidur sama Bambang—padahal biasanya kan kamar kita beda sama anak-anak. Malam setelah kejadian itu, papanya nggak mau pisah sama Bambang,” kata Meisya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi keluarga Meisya Siregar dan Bebi Romeo. Kejadian di Bali itu mengingatkan mereka bahwa kondisi pantai yang terasa sudah dikenal tetap dapat berubah karena ombak dan laut.
