McDonald’s Coba Lagi AI Drive-Thru, 90% Pesanan Tuntas Tanpa Sentuhan Manusia

McDonald’s kembali menguji kecerdasan buatan untuk drive-thru, dan kali ini hasil awalnya terlihat jauh lebih meyakinkan. Sistem ArchIQ yang sedang diuji di lima restoran di Amerika Serikat disebut telah memproses lebih dari satu juta transaksi, dengan sekitar 90% pesanan selesai tanpa campur tangan manusia.

Langkah ini menunjukkan bahwa McDonald’s tidak hanya mengejar otomatisasi pemesanan, tetapi juga berusaha menjadikan AI sebagai alat untuk mempercepat operasi restoran. Fokusnya ada pada drive-thru sekaligus pengelolaan kerja di belakang layar, dua area yang selama ini paling sensitif bagi jaringan makanan cepat saji.

AI yang Tidak Cuma Menerima Pesanan

ArchIQ dikembangkan bukan sekadar untuk mencatat pesanan pelanggan. Sistem ini juga diposisikan sebagai platform kecerdasan terpusat yang membantu manajer mengidentifikasi hambatan operasional, memantau kinerja restoran, dan menangani masalah sebelum terasa oleh pelanggan.

McFranchisee, akun media sosial yang kerap membahas pembaruan McDonald’s, menyebut ArchIQ sebagai semacam “asisten pribadi” bagi operator restoran. Akun itu juga mengatakan perangkat keras Google Edge Cloud diperkirakan akan dipasang di seluruh sistem McDonald’s sebelum ekspansi yang lebih besar dilakukan.

Pelajaran dari Upaya Sebelumnya

Uji coba ini datang setelah McDonald’s pernah mengalami kegagalan yang cukup mencolok dalam penerapan teknologi serupa. Pada 2024, perusahaan mengakhiri kemitraan berprofil tinggi dengan IBM setelah sekitar dua tahun menguji pemesanan drive-thru otomatis berbasis AI.

Masalah utamanya berkaitan dengan akurasi, termasuk beberapa insiden viral ketika pesanan pelanggan salah dipahami. Karena itu, setiap percobaan baru McDonald’s di ranah AI kini mendapat perhatian lebih besar dari publik maupun industri.

McDonald’s Mencari Keseimbangan Baru

Menurut Fox Business, Google disebut sebagai mitra teknologi kunci dalam pengembangan proyek ini. Pernyataan itu memperkuat kesan bahwa McDonald’s sedang membangun sistem yang tidak hanya cerdas, tetapi juga terhubung dengan infrastruktur komputasi yang lebih luas.

Di sisi lain, perusahaan juga masih membawa agenda pembaruan yang lebih besar lewat strategi NEXT yang baru diumumkan CEO Chris Kempczinski. Di dalamnya ada rencana memperbarui menu, menguji produk ayam premium, meningkatkan pilihan minuman, memodernisasi tata letak restoran, dan memanfaatkan teknologi untuk memperlancar operasi.

Industri Masih Mencari Formula yang Pas

McDonald’s bukan satu-satunya jaringan restoran cepat saji yang mencoba AI untuk layanan pemesanan. Taco Bell sebelumnya memperluas teknologi pemesanan AI bertenaga Nvidia ke ratusan lokasi, lalu beralih ke pendekatan hibrida yang memadukan otomatisasi dan pengawasan manusia setelah beberapa kesalahan pemesanan ramai dibicarakan.

Starbucks memilih jalur berbeda dengan memakai alat AI di balik meja untuk membantu karyawan, bukan menempatkan chatbot langsung di antara pelanggan dan staf. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa industri masih mencari titik seimbang antara kecepatan, akurasi, dan sentuhan manusia.

Respons Awal Belum Seragam

Sejumlah konsumen menyuarakan kekhawatiran di internet bahwa AI bisa makin mengurangi interaksi manusia di restoran. Namun McFranchisee menegaskan bahwa karyawan tetap akan berada di jendela pengambilan dan pembayaran.

Teknologi ini, menurut akun tersebut, dimaksudkan untuk mendukung operasional, bukan menghapus peran layanan pelanggan. Dengan uji coba yang masih berlangsung, ArchIQ kini menjadi salah satu percobaan paling penting bagi McDonald’s untuk menentukan seberapa jauh AI akan dipakai di drive-thru dan di balik operasional restoran.

Terkait