MBG Bisa Jadi Pintu Perubahan, Konsumsi Susu RI Masih Tertinggal di ASEAN

Indonesia masih tertinggal dalam konsumsi susu dibanding banyak negara di Asia Tenggara, dan kondisi itu kini mendorong pemerintah mempercepat peta jalan kemandirian susu nasional. Dorongan itu tidak hanya soal menambah produksi, tetapi juga menekan ketergantungan pada pasokan impor yang masih besar.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai perubahan kebiasaan konsumsi harus bergerak bersama penguatan industri. Ia menyebut posisi Indonesia masih berada di urutan enam atau tujuh di ASEAN, bahkan masih di bawah Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

MBG Jadi Momentum Untuk Kebiasaan Baru

Hanif melihat program makan bergizi gratis atau MBG sebagai kesempatan penting untuk mendorong kebiasaan minum susu yang lebih baik. Menurut dia, program itu bisa menjadi pintu masuk untuk memperluas konsumsi susu, terutama di kalangan penerima manfaat.

Ia berharap susu hadir lebih rutin dalam menu MBG, sehingga konsumsi tidak lagi muncul sesekali. Dengan cara itu, susu dapat menjadi bagian yang lebih sering dari pola makan masyarakat yang menerima program tersebut.

Penguatan Industri Tak Bisa Sendiri

Hanif menegaskan bahwa peningkatan konsumsi susu tidak cukup disandarkan pada satu kebijakan. Sosialisasi kepada masyarakat, pembangunan minat publik, dan penyelesaian roadmap pengembangan industri susu nasional perlu berjalan beriringan.

Ia juga menilai hilirisasi, integrasi rantai pasok, dan peningkatan investasi harus bergerak bersama agar industri persusuan nasional tumbuh lebih cepat. Dalam pandangannya, penguatan sektor ini membutuhkan kerja gotong royong, bukan langkah yang berdiri sendiri.

Pemerintah menempatkan pengembangan industri persusuan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Fokusnya bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada ekosistem dari peternak, pengolahan, hingga distribusi agar rantai pasok berjalan lebih efisien.

Dengan penguatan dari hulu ke hilir, konsumsi susu diharapkan tidak berhenti pada kampanye gizi semata. Pemerintah ingin perubahan itu ikut menggerakkan struktur industri susu nasional sekaligus memperkuat kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri dari produksi lokal.

Source: www.beritasatu.com

Terkait