Mazda mengambil langkah yang lebih tegas untuk memperkuat posisinya di pasar New Energy Vehicle (NEV) Tiongkok lewat kemitraan dengan Changan. Di ajang Beijing Auto Show 2026, pabrikan Jepang itu menegaskan bahwa kerja sama tersebut menjadi jalur utama untuk tetap relevan di tengah percepatan elektrifikasi industri otomotif global.
Perubahan arah ini terlihat jelas dari cara Mazda membangun strategi barunya. Jika sebelumnya pabrikan itu masih mencari formula yang paling pas, kini Mazda mulai memetik hasil dari kolaborasi jangka panjang yang sudah berjalan selama dua dekade bersama Changan.
Kolaborasi yang mulai membuahkan hasil
Mazda dan Changan tidak membangun hubungan dalam waktu singkat. Kemitraan yang telah berlangsung lama itu kini menjadi modal penting bagi Mazda untuk menghadirkan produk NEV yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen di Tiongkok.
Salah satu langkah paling nyata datang dari pemanfaatan arsitektur EPA milik Changan. Dari platform itu, Mazda meluncurkan sedan 6e yang di pasar domestik dikenal sebagai EZ-6, serta SUV menengah CX-6e yang juga disebut EZ-60.
Kedua model tersebut tidak hanya hadir sebagai kendaraan listrik murni. Mazda juga menawarkan opsi Range Extended EV atau REEV, sehingga konsumen mendapat lebih banyak pilihan sesuai kebutuhan penggunaan harian dan karakter pasar yang berbeda.
Dari percobaan yang belum kuat ke pendekatan yang lebih terarah
Mazda sebenarnya sudah lebih dulu masuk ke segmen kendaraan listrik sebelum mengandalkan Changan secara lebih agresif. Upaya awal dimulai lewat MX-30 pada 2019, tetapi model itu belum mendapat sambutan pasar yang kuat.
Langkah berikutnya melalui CX-30 EV juga belum memberi dorongan besar bagi posisi Mazda di pasar kendaraan listrik. Dua pengalaman itu tampaknya mendorong perusahaan untuk mengubah pendekatan, dari berjalan sendiri menjadi memanfaatkan sinergi dengan mitra yang memahami pasar lokal.
Toru Nakajima, Direktur Eksekutif Senior Mazda, menyebut perusahaan kini sudah menemukan ritme yang tepat untuk menghadapi pasar kendaraan listrik di Tiongkok. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Mazda melihat kemitraan dengan Changan bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan strategi bisnis yang lebih matang.
Penjualan ikut terdorong oleh model baru
Hasil strategi tersebut mulai terlihat dari performa pengiriman kendaraan. Berdasarkan data China EV DataTracker, Mazda mencatat pengiriman 91.061 unit dalam periode April 2025 hingga Maret 2026.
Capaian itu melampaui target internal yang sebelumnya ditetapkan sebesar 76.000 unit. Secara sederhana, realisasi tersebut berada hampir 20 persen di atas sasaran awal, dan ini menunjukkan ada momentum yang mulai terbentuk.
Kontribusi model baru juga tidak kecil. Penjualan gabungan EZ-6 dan EZ-60 menyumbang lebih dari 40 persen terhadap total penjualan bulanan Mazda pada kuartal pertama 2026.
Peluang besar di tengah persaingan NEV Tiongkok
Bagi Mazda, keberhasilan ini punya arti yang lebih luas daripada sekadar angka penjualan. Kemitraan yang makin solid dengan Changan membuka ruang bagi lahirnya lebih banyak produk NEV yang dirancang agar lebih relevan dengan pasar Tiongkok.
Ada pula potensi penting lain yang kini terbuka. Mazda berpeluang menjadi perusahaan patungan pertama di Tiongkok yang menjual lebih banyak NEV dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin atau ICE.
Jika tren tersebut terus berlanjut, kolaborasi Mazda dan Changan bisa menjadi contoh transisi yang berhasil dari mobil bermesin konvensional menuju kendaraan energi baru. Dalam konteks persaingan otomotif modern, posisi seperti ini bisa sangat menentukan arah bisnis jangka panjang Mazda.
Di luar Tiongkok, Mazda 6e disebut akan segera hadir di Indonesia. Mobil itu bahkan sudah sempat terlihat menjalani tes jalan dengan balutan kamuflase, sehingga minat pasar regional terhadap model berbasis kerja sama Mazda-Changan ikut meningkat.
SUV CX-6e juga tidak menutup kemungkinan masuk ke Indonesia, terutama karena segmen SUV listrik dinilai memiliki pasar yang cukup besar. Dengan begitu, langkah Mazda bersama Changan tidak hanya penting bagi peta NEV di Tiongkok, tetapi juga menarik untuk dicermati di pasar Asia yang lebih luas.
