Sejumlah mobil listrik yang sudah beredar di Indonesia ternyata memakai baterai nikel, dan daftar mereknya justru lebih banyak diisi pabrikan non-China. Fakta ini menjadi menarik karena pemerintah menyiapkan insentif yang memberi perlakuan lebih besar untuk mobil listrik berbaterai nikel dibandingkan model nonnikel.
Baterai yang dimaksud umumnya adalah Nickel Manganese Cobalt atau NMC. Jenis ini punya kepadatan energi lebih tinggi daripada Lithium Iron Phosphate atau LFP, sehingga jarak tempuh bisa lebih jauh dengan ukuran baterai yang lebih ringkas.
Di sisi lain, NMC juga membutuhkan biaya produksi yang lebih mahal dan proses yang lebih kompleks. Karena itu, baterai ini lebih sering dipakai pada model premium dan mobil dengan fokus jarak tempuh.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkap rencana insentif untuk 100 ribu mobil listrik mulai Juni 2026. Skemanya berupa diskon pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP mulai 40 persen hingga 100 persen.
Purbaya menyebut mobil listrik dengan baterai nikel bisa mendapat diskon PPN 100 persen. Sementara itu, mobil listrik nonnikel akan mendapat diskon mulai 40 persen.
Mekanisme insentif itu akan ditetapkan lebih lanjut oleh Kementerian Perindustrian. Fokus pada baterai nikel diarahkan untuk mendorong pemanfaatan material yang jumlahnya besar di dalam negeri.
BMW dan Hyundai paling menonjol
BMW menjadi salah satu merek dengan banyak model berbaterai NMC di Indonesia. Daftarnya mencakup i4 eDrive35, i5 eDrive40, i5 M60, i5 eDrive40 Touring, iX1 eDrive20, iX xDrive45, iX xDrive40, iX xDrive50, serta i7 xDrive60 Gran Lusso dan xDrive60 Gran Lusso two tone.
Hyundai juga punya deretan model baterai nikel di pasar domestik. Pada Ioniq 5, tersedia varian N, Batik, Prime (SR), Prime (LR), Signature (SR), dan Signature (LR), sementara Ioniq 6 hadir dalam varian Signature.
Untuk Kona, Hyundai menawarkan N, Style (SR), Prime (SR), Prime (LR), Signature (SR), dan Signature (LR). Kehadiran banyak varian ini menunjukkan bahwa baterai NMC tidak hanya dipakai pada mobil impor utuh, tetapi juga pada model yang sudah akrab di pasar Indonesia.
Kia, Mercedes-Benz, Mini, hingga Volvo ikut masuk
Kia juga tercatat menjual EV6 dengan varian GT dan GT Line, serta EV9 dengan varian GT Line dan Earth. Dari kelas yang lebih premium, Mercedes-Benz menghadirkan EQB 250+ Progressive Line, EQE 350+ Electric Art Line dan 350 4Matic, serta EQS 450+ Electric Art Line, 450+ AMG Line, 450+ Edition One, dan 450 4Matic AMG Line.
Mercedes-Benz juga memasukkan G 580 with EQ Technology dan Maybach EQS 680 ke daftar ini. Kehadiran model-model tersebut memperkuat kesan bahwa baterai NMC masih dominan di segmen atas karena karakteristiknya yang cocok untuk jarak tempuh lebih jauh.
Mini ikut masuk dengan Electric, Cooper SE, Cooper John Cooper Works Electric, Countryman SE All4, dan Aceman SE. Volvo juga membawa EX30 Plus dan Ultra, serta EX40 dan EC40.
MG dan Xpeng melengkapi daftar
MG memiliki Cyberster dan 4 Max sebagai model berbaterai NMC. Sementara itu, Xpeng hadir lewat X9 LR Pro Plus.
Daftar ini memperlihatkan bahwa mobil listrik berbaterai nikel di Indonesia tidak didominasi merek China. Sebagian model berasal dari pabrikan Eropa, Korea Selatan, dan Jepang yang lebih dulu kuat di segmen premium maupun menengah atas.
Kondisi ini sejalan dengan karakter NMC yang lebih mahal dan kompleks untuk diproduksi. Dengan insentif yang disiapkan pemerintah, posisi mobil listrik berbaterai nikel berpotensi makin menonjol di pasar yang selama ini banyak diisi mobil listrik berbaterai LFP.
Source: www.cnnindonesia.com






