Mata juling sering dianggap hanya persoalan tampilan, padahal strabismus adalah gangguan medis yang bisa memengaruhi fungsi penglihatan anak. Jika terlambat dikenali, kondisi ini dapat mengganggu persepsi kedalaman dan memicu mata malas atau ambliopia.
Peringatan itu kembali disorot oleh JEC Eye Hospitals & Clinics, yang mengingatkan orang tua untuk lebih peka saat melihat mata anak tampak tidak sejajar. Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menegaskan bahwa penanganan medis dibutuhkan agar tata laksana bisa tepat sejak awal.
Gejala yang tidak selalu jelas terlihat
Strabismus terjadi ketika kedua mata tidak bergerak atau tidak sejajar ke arah yang sama. Kondisi ini bisa muncul pada anak-anak maupun orang dewasa, tetapi dampaknya pada anak sering lebih penting karena berkaitan dengan masa tumbuh kembang.
Pada bayi, mata yang belum sejajar masih bisa terjadi karena koordinasi saraf mata belum sempurna. Namun bila kondisi itu masih terlihat setelah usia enam bulan, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter mata.
Gejalanya juga tidak selalu muncul terus-menerus. Pada sebagian anak, mata juling terlihat jelas setiap saat, tetapi pada sebagian lain hanya tampak saat lelah, mengantuk, sakit, atau kurang fokus.
Ada juga kasus yang baru terdeteksi setelah pemeriksaan mata menyeluruh. Karena itu, pemeriksaan tidak sebaiknya ditunda sampai kondisi tampak makin jelas atau mulai mengganggu aktivitas harian.
Dampaknya bisa lebih jauh dari sekadar mata tampak beda
Menurut Tjahjono, strabismus dapat mengganggu persepsi kedalaman, yaitu kemampuan menilai ruang dan jarak secara akurat. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan kualitas penglihatan karena mata dan otak tidak bekerja selaras.
Risiko lain yang ikut dikhawatirkan adalah ambliopia atau mata malas pada anak. Kondisi ini bisa membuat salah satu mata tidak berkembang optimal bila gangguan tidak segera ditangani.
Semakin cepat strabismus diketahui, semakin besar peluang pasien mendapatkan tata laksana yang sesuai. Deteksi dini juga membantu mencegah komplikasi yang lebih sulit ditangani saat anak bertambah besar.
Penyebab beragam, terapi disesuaikan dengan hasil pemeriksaan
JEC menyebut strabismus dapat dipicu oleh banyak faktor, mulai dari gangguan otot mata, kelainan saraf, faktor genetik, hingga gangguan refraksi seperti rabun jauh, rabun dekat, atau silinder yang tidak terkoreksi.
Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan medis dibutuhkan untuk mencari sumber utama pada tiap pasien. Hasil pemeriksaan itu menjadi dasar dokter menentukan langkah penanganan yang paling sesuai.
Dalam sejumlah kasus, kacamata dapat membantu memperbaiki fokus sekaligus posisi mata. Pada kondisi tertentu, dokter juga bisa merekomendasikan terapi penutup mata atau patching, terapi penglihatan, hingga operasi bila memang diperlukan.
Orang tua diminta tidak menunggu gejala memburuk
Imbauan utama dari dokter adalah tidak menunggu hingga mata tampak makin juling atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari. Pemeriksaan lebih awal memberi peluang lebih besar untuk menemukan masalah sebelum berdampak pada fungsi penglihatan anak.
Langkah ini juga penting karena strabismus kerap memunculkan stigma sosial. Padahal, kondisi tersebut dapat ditangani bila terdeteksi dan ditangani dengan benar sejak awal.
JEC menyebut kesadaran masyarakat mulai meningkat, terlihat dari jumlah tindakan penanganan strabismus yang naik 29 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan itu dinilai sebagai tanda bahwa lebih banyak orang mulai memahami mata juling sebagai kondisi medis yang bisa ditangani.
Untuk memperluas pemahaman publik, JEC menjalankan kampanye “Strabismus: From Stigma to Confidence” lewat media digital, seminar kesehatan mata, podcast, publikasi media, skrining mata, dan program sosial operasi mata juling gratis. Upaya edukasi itu juga mengantarkan JEC Eye Hospitals & Clinics meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Impactful Omnichannel Social Campaign.
Dengan perhatian yang lebih besar terhadap gejala mata yang tidak sejajar, dokter berharap orang tua segera memeriksakan anak bila ada tanda yang mencurigakan. Pemeriksaan dini tetap menjadi langkah penting untuk mencari penyebab strabismus dan mencegah gangguan penglihatan yang lebih berat.
