Marina Budiman, Satu-Satunya Perempuan di 10 Besar Terkaya Berkat Data Center

Marina Budiman menjadi satu-satunya perempuan yang menembus daftar 10 orang terkaya di Indonesia. Posisi tersebut ditopang bisnis pusat data, sektor infrastruktur digital yang kebutuhannya terus meningkat.

Menurut data Forbes per 16 Juli 2026 yang dihimpun Kompas Tekno, kekayaan bersih Marina mencapai 5,7 miliar dollar AS. Nilai itu menempatkannya di peringkat kedelapan orang terkaya Indonesia dan urutan ke-727 di dunia.

Pencapaian Marina menonjol karena daftar 10 besar orang terkaya Indonesia masih didominasi tokoh bisnis laki-laki. Forbes per 14 Juli 2026 mencatat Marina sebagai satu-satunya perempuan dalam kelompok tersebut.

Sumber utama kekayaannya berasal dari kepemilikan di PT DCI Indonesia Tbk atau DCII. Marina merupakan salah satu pendiri sekaligus Presiden Komisaris perusahaan yang bergerak di bidang pusat data itu.

Bisnis pusat data di balik lonjakan nilai

DCI Indonesia didirikan pada 2011 oleh Marina Budiman bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia. Perusahaan ini mengembangkan fasilitas pusat data untuk mendukung kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data digital.

Fasilitas DCI Indonesia berada di Cibitung, Karawang, dan Jakarta. Perusahaan tersebut disebut memiliki pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara, sebuah standar yang menunjukkan perannya dalam penyediaan infrastruktur digital.

InformasiDetail
PerusahaanPT DCI Indonesia Tbk (DCII)
Tahun berdiri2011
Lokasi fasilitasCibitung, Karawang, dan Jakarta
Harga IPO 2021Rp 420 per saham
Kepemilikan Marina22,51 persen

DCII melantai di bursa pada 2021 dengan harga penawaran awal Rp 420 per saham. Nilai sahamnya kemudian meningkat jauh dari harga awal, sejalan dengan kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis pusat data.

Marina tercatat menguasai 22,51 persen saham DCII. Porsi tersebut menjadi kepemilikan terbesar kedua di perusahaan itu setelah Otto Toto Sugiri.

Kolaborasi panjang dengan Otto Toto Sugiri

Di daftar kekayaan Indonesia, posisi Marina berada satu tingkat di bawah Otto Toto Sugiri. Otto merupakan rekan bisnis lamanya yang kerap dijuluki “Bill Gates Indonesia”.

Kolaborasi keduanya tidak dimulai dari bisnis pusat data. Marina pertama kali bertemu Otto saat bekerja di Bank Bali pada 1985.

Marina lahir pada 1961 dan menempuh pendidikan ekonomi serta keuangan di University of Toronto. Setelah kembali ke Indonesia, ia memulai karier profesionalnya di sektor perbankan sebelum memperluas kiprah ke teknologi informasi.

Pada 1989, Marina bergabung dengan Sigma Cipta Caraka, perusahaan teknologi informasi. Pengalaman itu menjadi salah satu pijakan sebelum ia dan Otto masuk ke bisnis layanan internet.

Keduanya mendirikan Indonet pada 1994. Indonet dikenal sebagai penyedia layanan internet atau internet service provider pertama di Indonesia.

Marina dan Otto kemudian melepas kepemilikan saham mereka di Indonet pada 2023. Langkah tersebut menutup satu fase penting dari perjalanan bisnis keduanya di sektor teknologi.

Infrastruktur digital menjadi fondasi

Perjalanan Marina bergerak dari perbankan ke teknologi informasi, lalu layanan internet, hingga pusat data. Setiap tahap tersebut berkaitan dengan perkembangan kebutuhan digital yang semakin besar di Indonesia.

Bisnis data center menjadi pembeda utama dalam lonjakan kekayaan Marina. Kebutuhan akan penyimpanan, pengolahan, dan infrastruktur data terus membuka ruang pertumbuhan bagi perusahaan di sektor ini.

Peran Marina sebagai pendiri dan Presiden Komisaris DCI Indonesia memperlihatkan nilai strategis infrastruktur digital bagi bisnis modern. Kepemilikannya di DCII juga menjadi basis utama yang mengantarkannya ke jajaran terkaya di Indonesia.

Source: tekno.kompas.com
Terkait