Marc Klok menanggapi ramainya polemik bonus yang menyertai Persib Bandung dengan nada tenang. Gelandang naturalisasi itu menilai pemberian bonus dalam sepak bola profesional adalah hal yang wajar dan tidak semestinya dibesar-besarkan.
Isu ini mencuat setelah unggahan konten Dedi Mulyadi tentang bonus dari Maruarar Sirait menarik perhatian publik di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada 24 April 2026. Dari sana, percakapan di media sosial berkembang cepat dan ikut memunculkan reaksi suporter, termasuk spanduk bernada protes saat Persib menghadapi Arema FC.
Bonus dan apresiasi dinilai umum di sepak bola
Klok menegaskan bahwa bonus merupakan bagian dari sistem apresiasi yang lazim di dunia sepak bola. Menurut dia, hampir semua klub punya mekanisme serupa ketika tim menampilkan hasil yang baik di lapangan.
“Di sepakbola itu hal biasa untuk dapat apresiasi dan dapat bonus. Saya tidak terlalu mengerti kenapa ada banyak pertanyaan buat itu. Karena setiap klub di Liga 1 punya itu,” kata Klok, dikutip dari detikJabar.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Klok memandang bonus bukan sebagai hal istimewa atau menyimpang. Ia justru melihatnya sebagai praktik profesional yang sudah umum dan melekat dalam kompetisi.
Sorotan publik membuat isu terasa lebih besar
Klok juga menyoroti peran media dalam memperbesar diskusi soal bonus. Ia menilai persoalan ini menjadi ramai karena mendapat perhatian luas, bukan karena praktiknya berbeda dengan yang terjadi di banyak klub lain.
“Mungkin kalau sekarang di media, baru orang bicara. Kalau kamu lihat siapa klub ada di Liga 1, ada itu. Itu hal biasa di dunia, bukan di Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan sudut pandang Klok bahwa bonus bukan hanya milik Persib. Ia melihatnya sebagai bagian dari budaya sepak bola profesional yang berlaku lebih luas dan tidak berhenti di satu klub atau satu kompetisi.
Fokus tim tetap tertuju ke hasil pertandingan
Di tengah sorotan terhadap isu non-teknis tersebut, Klok memastikan perhatian tim tidak bergeser dari target utama. Ia menilai konsentrasi skuad tetap berada pada performa dan hasil di lapangan hingga akhir musim.
Bagi Persib, capaian pertandingan tetap menjadi ukuran utama dalam menilai kerja tim. Klok menekankan bahwa apresiasi hanya hadir jika ada hasil yang layak dihargai, sedangkan tanpa pencapaian, bonus tidak akan berarti.
“Kenapa (mengganggu) konsentrasi? Itu hal biasa di sepakbola. Kalau ada hasil, ada apresiasi. Kalau tidak ada hasil, tidak ada apresiasi. Jadi buat kami, kami harus kasih hasil. Itu saja,” ucap Klok.
Tekanan menjelang akhir musim tidak mengubah arah tim
Polemik bonus muncul ketika Persib berada di bawah sorotan besar karena target prestasi yang masih berjalan. Dalam situasi seperti ini, setiap isu yang menyentuh pemain, manajemen, maupun suporter mudah melebar menjadi konsumsi publik.
Meski begitu, sikap Klok memperlihatkan bahwa tim berusaha menjaga fokus agar tidak terdistraksi. Ia menilai perhatian terhadap bonus tidak boleh menutup tujuan yang lebih penting, yakni mempertahankan konsistensi permainan dan hasil hingga fase akhir Liga 1.
Perbincangan yang berkembang di luar lapangan tetap menjadi bagian dari dinamika klub besar yang selalu menarik perhatian. Namun bagi Persib, hasil pertandingan akan tetap menjadi tolak ukur utama, baik dalam menilai kerja para pemain maupun dalam melihat apakah apresiasi tambahan memang layak diberikan.
