Malaysia Mulai Produksi Baterai EV Lokal, Graphene Jadi Senjata Baru Lawan Rival ASEAN

Malaysia bergerak lebih cepat ke industri baterai kendaraan listrik dengan memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene bulan ini. Langkah itu menandai upaya negara tersebut membangun rantai pasok baterai nasional sekaligus memperkuat posisi di ASEAN.

Yang membuat proyek ini menonjol bukan hanya soal kapasitas awalnya, tetapi juga karena teknologi yang dipakai dikembangkan di dalam negeri. Fasilitas tersebut disebut sebagai pabrik pertama di Malaysia yang memproduksi teknologi baterai hasil pengembangan lokal, dan salah satu yang pertama di kawasan yang menggabungkan pengembangan serta produksi teknologi baterai lokal.

Teknologi Lokal di Balik Pabrik Baru

Chief Executive Officer NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, mengatakan fasilitas itu hampir beroperasi dan menjadi tonggak penting bagi industri baterai Malaysia. “Kami hampir mengoperasikan pabrik produksi teknologi baterai lokal pertama di Malaysia,” ujar Rezal dikutip Selasa (14/7/2026).

Proyek ini mendapat investasi sekitar 20 juta ringgit Malaysia atau setara Rp 89 miliar. Produksinya dilakukan di Gigafactory Malaysia, anak usaha yang sepenuhnya dimiliki NanoMalaysia dan berada di bawah Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia.

AspekInformasi
Jenis bateraiLithium-ion berbasis graphene
Kimia utamaNMC, bukan LFP
Material elektroda negatifGraphene menggantikan grafit
Investasi20 juta ringgit Malaysia
Lokasi produksiGigafactory Malaysia, Suria, Sepang

NanoMalaysia berdiri sejak 2011 dan menempatkan proyek ini sebagai bagian dari penguatan industri teknologi nasional. Baterai yang diproduksi juga disebut memakai kimia NMC, berbeda dari banyak baterai EV lain yang mengandalkan lithium iron phosphate atau LFP.

Target Jarak Tempuh dan Kapasitas Awal

Penggunaan graphene pada elektroda negatif diklaim bisa meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibanding baterai lithium-ion konvensional berbasis grafit. Dari sisi performa, baterai itu diklaim mampu membawa kendaraan menempuh hingga 640 kilometer dalam sekali pengisian.

NanoMalaysia belum mengungkap kapasitas baterai maupun kendaraan acuan yang dipakai dalam pengujian tersebut. Namun, perusahaan menyebut produk itu sudah mendukung fast charging dan memiliki kepadatan energi lebih dari 200 Wh/kg.

Pada tahap awal, NanoMalaysia mengaku telah menerima pesanan baterai 25 kWh dari salah satu organisasi lokal. Fasilitas produksi perdana menempati area sekitar 15.000 kaki persegi di Kawasan Industri Suria, Sepang.

TahapDetailTargetNilai Tambahan
AwalProduksi di SepangPesanan 25 kWhArea 15.000 kaki persegi
LanjutanSkala megawatt-jamSeptember 20261 MWh per tahun atau sekitar 92.000 sel baterai

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi naik ke skala megawatt-jam paling cepat pada September 2026. Jika beroperasi penuh, pabrik itu diperkirakan mampu menghasilkan kapasitas baterai sekitar 1 MWh per tahun atau setara sekitar 92.000 sel baterai.

Indonesia Juga Mengejar Kapasitas Besar

Di saat Malaysia mulai menyalakan lini produksi lokal, Indonesia juga menyiapkan kapasitas besar melalui pabrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia (CATIB) di Karawang, Jawa Barat. Bayu Hermawan selaku Director of Corporate Public Affairs PT CATIB mengatakan target operasional yang semula kuartal III/2026 dipercepat menjadi sekitar Juli 2026.

“Insha Allah, kami targetkan bisa mulai beroperasi pada pertengahan 2026,” ujar Bayu dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI yang disiarkan secara daring, Senin (2/2/2026). Ia menambahkan, pabrik itu akan memproduksi battery cell, battery module, battery pack, hingga Battery Energy Storage System atau BESS.

ProyekKapasitas AwalTarget LanjutanInvestasi
Malaysia, NanoMalaysiaTahap awal produksi di SepangSkala MWh pada September 202620 juta ringgit Malaysia
Indonesia, PT CATIB6,9 GWh15 GWhRp 7 triliun

Pada tahap awal, fasilitas CATIB akan memiliki kapasitas 6,9 GWh dengan nilai investasi sekitar Rp 7 triliun. Ke depan, kapasitas itu ditargetkan naik menjadi 15 GWh untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Indonesia.

Pabrik tersebut juga diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja dan menjadi bagian dari proyek Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium Antam-IBC-CBL yang masuk Proyek Strategis Nasional. Dengan langkah Malaysia dan Indonesia ini, persaingan industri baterai EV di ASEAN kini bergerak dari rencana menuju produksi nyata.

Source: otomotif.kompas.com
Terkait