Malam Puncak Apresiasi Konektivitas Digital, Dari Desa Hingga 3T yang Mengubah Akses

Malam Puncak Apresiasi Konektivitas Digital digelar di The Sultan Hotel Jakarta dan menjadi sorotan karena menempatkan pemerataan akses internet sebagai kerja bersama lintas sektor. Ajang ini memberi penghargaan kepada pemerintah daerah, sekolah, puskesmas, komunitas, individu, hingga mitra industri yang dinilai aktif mendorong konektivitas dari desa sampai wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Momentum ini menunjukkan bahwa pembangunan digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Pemerataan akses juga menuntut kolaborasi yang kuat agar layanan internet benar-benar hadir di tingkat akar rumput dan bisa dipakai untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta layanan publik.

Kolaborasi Jadi Penentu

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam memperluas akses internet. Ia menyebut keterlibatan banyak pihak, mulai dari sekolah, puskesmas, TNI, hingga industri, membuat upaya pemerataan konektivitas berjalan lebih efektif.

“Ini untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu kerja sama dengan banyak pihak,” ujar Meutya dalam acara tersebut. Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan digital membutuhkan sinergi berkelanjutan, bukan langkah yang berdiri sendiri.

Penilaian Berbasis Data

Ajang penghargaan ini juga menonjol karena proses penilaiannya disebut objektif dan dapat diverifikasi. Arief Tri Hardiyanto, Inspektur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, mengatakan penilaian dilakukan berbasis data dan fakta, serta juri tidak memiliki hubungan langsung dengan peserta.

Dewan juri yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dan profesional menilai ratusan kandidat dari berbagai latar belakang. Heru Sutadi, Dewan Juri sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, menyebut tujuan utama penjurian adalah memberikan apresiasi kepada pihak yang tepat tanpa conflict of interest.

Berikut poin penting dalam proses penilaian:

  1. Penilaian berbasis data dan fakta yang bisa diverifikasi.
  2. Juri berasal dari unsur pemerintah, akademisi, dan profesional.
  3. Seleksi dilakukan terhadap ratusan kandidat.
  4. Tidak ditemukan konflik kepentingan dalam proses penjurian.

Penggerak Lapangan Dari Desa hingga 3T

Sorotan besar dalam acara ini tertuju pada para penggerak di lapangan yang selama ini bekerja langsung menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Muhammad Arif, Ketua Umum APJII, menilai penghargaan ini memberi dorongan moral bagi para pelaku yang terus memperjuangkan konektivitas digital Indonesia.

Farida Dwi Cahyarin, Dewan Juri yang juga Widyaiswara Utama Pusdiklat Kementerian Komunikasi dan Digital, menambahkan bahwa peran penggerak lapangan bukan sekadar menyediakan akses. Mereka juga membantu masyarakat memahami bahwa konektivitas digital sudah menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Pemenang dari Berbagai Sektor

Penghargaan diberikan dalam berbagai kategori yang mencerminkan luasnya ekosistem konektivitas digital. Daftar pemenang menunjukkan bahwa pemerataan akses melibatkan banyak sektor, dari pemerintah daerah hingga operator seluler dan komunitas lokal.

Kategori Pemenang
Pemda Provinsi Pendorong Ekonomi Digital Daerah Istimewa Yogyakarta
Pemda Provinsi Pendukung Akselerasi Konektivitas Digital Kalimantan Timur
Pemda Kabupaten Pelopor UMKM Digital Sumedang
Desa Digital Unggulan Desa Krandegan
BUMDes Inovatif dalam Bisnis Digital BUMDesma Bina Sejahtera Mandiri
Puskesmas Inovatif dalam Digitalisasi Layanan Kesehatan Puskesmas Tayando Ohoiel
Sekolah Teladan Digital SMA Negeri 1 Bintan Pesisir
Mitra Pendukung Konektivitas Digital di Wilayah 3T TNI
Operator Selular Perintis Pemerataan Konektivitas Digital di Wilayah 3T Terbaik Telkomsel

Sorotan lain datang dari kategori individu dan komunitas, termasuk pegiat literasi digital di desa, pejuang internet masuk desa, serta relawan TIK Aceh. Kehadiran kategori tersebut memperlihatkan bahwa konektivitas digital tidak hanya soal jaringan, tetapi juga soal pendampingan, edukasi, dan keberlanjutan pemanfaatan internet di masyarakat.

Di tengah fokus pemerintah memperluas akses digital, wilayah 3T tetap menjadi tantangan utama karena hambatan biaya, medan, dan keterbatasan infrastruktur. Karena itu, penghargaan seperti ini memberi pengakuan atas kerja teknis dan sosial yang selama ini menjaga layanan digital terus bergerak hingga ke daerah yang paling sulit dijangkau.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version