Janice Tjen memasuki Madrid Open 2026 dengan agenda ganda yang penting. Petenis Indonesia peringkat 39 dunia itu turun di nomor tunggal sekaligus ganda, dan sektor ganda kembali ia jalani bersama Aldila Sutjiadi untuk mencari hasil yang lebih baik di turnamen WTA 1000 tersebut.
Di La Caja Magica, pasangan Janice/Aldila langsung mendapat ujian berat pada babak pertama. Berdasarkan jadwal resmi penyelenggara, mereka akan menghadapi duet Ukraina-Denmark, Marta Kostyuk dan Clara Tauson, pada laga pembuka.
Duet yang sudah punya rekam jejak positif
Janice dan Aldila bukan pasangan baru di tur WTA. Keduanya pernah meraih gelar bersama saat menjuarai WTA 250 Chennai Open 2025, sehingga kemitraan ini tetap menyimpan modal penting ketika kembali dipasangkan di Madrid.
Meski begitu, performa terakhir mereka belum stabil. Di Charleston Open, langkah duet Indonesia itu terhenti lebih cepat, sehingga Madrid menjadi kesempatan untuk membenahi ritme dan membuktikan daya saing mereka di level yang lebih tinggi.
Uji coba di tanah liat untuk bangkit
Bagi Janice, Madrid juga menjadi ajang penting untuk mengukur konsistensi di lapangan tanah liat. Turnamen ini datang pada fase yang cukup menantang setelah rangkaian hasilnya menurun dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam empat turnamen terakhir, Janice belum meraih kemenangan. Catatan itu termasuk kegagalan di Indian Wells, Miami Open, dan Charleston Open, sementara ia juga batal tampil di Rouen Open pekan lalu karena cedera setelah membela Indonesia di ajang internasional.
Situasi tersebut membuat Madrid terasa seperti titik evaluasi. Janice perlu menemukan kembali ritme permainan agar bisa bersaing di dua nomor sekaligus, terlebih turnamen level WTA 1000 menuntut ketahanan fisik dan konsentrasi penuh.
Lawan tunggal berubah, peluang tetap ada
Di nomor tunggal, Janice semula dijadwalkan bertemu unggulan ke-33 Maria Sakkari. Namun, mundurnya Ekaterina Alexandrova membuat susunan lawan berubah dan Janice kini akan melawan petenis Rusia, Alina Charaeva.
Charaeva saat ini berada di peringkat 129 WTA, sehingga secara posisi ranking Janice memiliki peluang untuk tampil lebih percaya diri. Meski begitu, jadwal baru tetap tidak bisa dianggap ringan karena setiap pertandingan di level ini menuntut disiplin sejak awal.
Perubahan lawan juga menambah dinamika tersendiri bagi Janice. Situasi seperti ini kerap menuntut penyesuaian cepat, baik dari sisi strategi maupun kesiapan mental, karena waktu persiapan menjelang laga biasanya terbatas.
Modal dari tim nasional masih terbawa
Di tengah tren hasil yang belum ideal, Janice tetap membawa bekal positif dari penampilannya bersama tim nasional. Pada awal April, ia tampil apik saat membantu Indonesia menembus babak play-off qualifier Piala Billie Jean King di India.
Penampilan itu menunjukkan bahwa kapasitas Janice untuk bersaing tetap ada ketika ia menemukan momentum yang tepat. Modal tersebut menjadi penting saat ia kembali masuk ke persaingan WTA yang padat dan menuntut respons cepat dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.
Kehadiran Aldila Sutjiadi juga memberi nilai tambah bagi sektor ganda Indonesia di Madrid. Kombinasi pengalaman, rekam jejak juara di Chennai, dan kebutuhan untuk bangkit membuat laga di La Caja Magica menjadi ujian yang relevan bagi keduanya untuk melihat sejauh mana chemistry mereka bisa kembali bekerja di tanah liat.
Source: www.viva.co.id





