MacBook Neo langsung mencolok di kelas laptop murah karena menawarkan rasa premium yang jarang ditemukan pada rentang harga Rp10 jutaan. Dibanding banyak laptop Windows murah, perangkat ini membawa bodi aluminium, baterai lebih tahan lama, dan integrasi yang lebih rapi dengan ekosistem Apple.
Di segmen harga yang sama, banyak laptop Windows masih mengandalkan bodi plastik dan fitur dasar. Karena itu, MacBook Neo terasa seperti opsi yang lebih matang untuk pengguna yang ingin perangkat ringan, praktis, dan nyaman dipakai harian.
Bodi aluminium memberi kesan jauh lebih premium
WIRED menjelaskan bahwa MacBook Neo memakai material aluminium secara penuh. Material ini membuat perangkat terasa kokoh dan premium, dengan bobot 1,2 kilogram serta ketebalan 1,27 centimeter.
Dimensi tersebut membuatnya mirip MacBook Air dan terlihat lebih mewah dibanding laptop lain di kelas yang sama seperti Acer Aspire Go, HP Victus Gaming, dan Axioo Pongo 725. Aluminium juga disebut lebih tahan terhadap benturan, gesekan, dan pemakaian jangka panjang.
Keamanan biometrik jadi pembeda nyata
Di kelas Rp10 jutaan, laptop Windows umumnya belum menawarkan sensor biometrik. Pengguna biasanya masih bergantung pada kata sandi untuk membuka perangkat, sehingga pengalaman pakainya terasa lebih konvensional.
MacBook Neo sudah menghadirkan Touch ID sebagai sistem keamanan biometrik. Namun, Macworld menerangkan bahwa fitur ini hanya tersedia pada varian tertinggi 512GB, yang di Indonesia berada di kisaran Rp14 juta sampai Rp15 jutaan menurut harga retail dari berbagai distributor resmi.
Terhubung mulus dengan iPhone
Keunggulan lain MacBook Neo ada pada ekosistem Apple yang sudah terintegrasi sejak awal. Apple menjelaskan bahwa perangkat ini bisa tersambung ke iPhone tanpa kabel dan mendukung fitur seperti universal clipboard, screen mirroring, copy paste data instan, serta AirDrop.
Rangkaian fitur itu berjalan tanpa lag dan memudahkan alur kerja harian. Bagi pelajar, pekerja kantoran, atau pengguna yang sering berpindah perangkat, koneksi semacam ini bisa memangkas banyak langkah kecil saat bekerja.
| Aspek | MacBook Neo | Laptop Windows Murah |
|---|---|---|
| Material bodi | Aluminium penuh | Umumnya plastik |
| Bobot dan ketebalan | 1,2 kg; 1,27 cm | Bervariasi |
| Keamanan biometrik | Touch ID pada varian 512GB | Umumnya belum tersedia |
| Integrasi perangkat | Terhubung ke iPhone tanpa kabel | Tidak sefleksibel ekosistem Apple |
Performa dan daya tahan baterai ikut menguatkan posisinya
MacBook Neo memakai chipset Apple A18 Pro, yaitu chipset yang juga dipakai di iPhone. Meski begitu, performanya disebut sangat bersaing untuk penggunaan tertentu, termasuk game dan produktivitas ringan.
Hot Hardware mencatat MacBook Neo mampu menjalankan Resident Evil 2 Remake, Cyberpunk 2077, Elden Ring, dan Resident Evil 9 Requiem di kisaran 50 hingga 60 FPS. Uji Steel Nomad Light Stress Test juga menunjukkan kestabilan 89,8 persen.
Secara teknis, Apple A18 Pro dibangun dengan fabrikasi 3nm. Chipset ini mengandalkan GPU Apple A18 Pro GPU, clock speed hingga 4GHz, serta konfigurasi dua core Everest dan empat core Sawtooth.
Di sisi baterai, MacBook Neo juga unggul atas banyak laptop Windows murah. Apple mengklaim daya tahannya bisa mencapai 16 jam untuk video playback, sementara Tom’s Guide mencatat 13 jam 28 menit untuk penggunaan normal seperti browsing dan membuka Slack.
Angka itu berada di atas banyak laptop Windows yang umumnya bertahan di bawah 10 jam. Bahkan jika ada yang lebih lama, daya tahannya biasanya hanya sekitar 11 atau 14 jam, tetap di bawah MacBook Neo.
Berkat efisiensi daya tersebut, MacBook Neo cocok untuk pelajar dan pengguna mobile yang sering bepergian. Laptop ini lebih pas untuk penggunaan ringan hingga menengah, termasuk tugas sekolah, email, pekerjaan kantor, editing foto, dan rendering video 1080p, tetapi tidak ditujukan untuk gamer kompetitif atau editor animasi 3D.
