Lucy Ungkap Donaldjohanson, Jejak Tabrakan Kuno dan Sisa Air Purba di Asteroid

Author: Cung Media

Wahana Lucy milik NASA menemukan petunjuk baru yang mengejutkan dari asteroid 52246 Donaldjohanson. Objek di sabuk utama itu ternyata menyimpan jejak tabrakan besar, perubahan permukaan yang aktif, dan kemungkinan sisa air purba.

Temuan ini penting karena Donaldjohanson menjadi salah satu batu loncatan Lucy sebelum mencapai target utamanya, asteroid Trojan yang berbagi orbit dengan Jupiter. Data dari terbang lintas ini membantu ilmuwan membaca proses awal pembentukan benda kecil di tata surya.

Asteroid kecil, tetapi menyimpan sejarah besar

Donaldjohanson berukuran sekitar 8 kilometer panjang dan 3,5 kilometer lebar. Meski tidak besar, pengamatan Lucy menunjukkan asteroid ini punya riwayat geologi yang jauh lebih rumit dari tampilannya.

Nama asteroid ini diambil dari paleoantropolog Donald Johanson, penemu fosil hominin Lucy pada 1974. Hubungan nama itu sejalan dengan misi Lucy yang juga terinspirasi oleh fosil penting bagi pemahaman asal-usul manusia tersebut.

Terbentuk dari keluarga asteroid muda

Analisis terbaru menempatkan Donaldjohanson sebagai bagian dari keluarga asteroid Erigone yang berisi sekitar 2.000 anggota. Para ilmuwan meyakini kelompok ini berasal dari satu benda induk yang hancur akibat tabrakan besar sekitar 150 juta tahun lalu.

Bagi ukuran tata surya, usia itu masih tergolong muda. Simone Marchi dari Southwest Research Institute, yang juga wakil peneliti utama misi Lucy, mengatakan kondisi ini memberi kesempatan langka untuk mempelajari pembentukan asteroid dengan lebih jelas.

Bentuk kacang tanah raksasa dan perubahan rotasi

Gambar yang dikirim Lucy menunjukkan Donaldjohanson memiliki dua lobus besar yang dihubungkan bagian sempit seperti leher. Bentuknya menyerupai kacang tanah raksasa dan diduga terbentuk dari dua objek yang bergerak lambat lalu menyatu.

Setelah itu, pengaruh sinar Matahari perlahan mengubah rotasinya melalui efek YORP. Proses ini diduga ikut memicu pergerakan material di permukaan dan membentuk rupa asteroid seperti yang terlihat sekarang.

Marchi menyebut data Lucy membantu membatasi sejumlah proses fisik yang membentuk karakter asteroid tersebut, termasuk penggabungan dua lobus, perlambatan rotasi, longsoran material, keberadaan air purba, kawah, dan perkiraan umur permukaan.

Kawah kecil yang nyaris hilang

Salah satu petunjuk paling menarik datang dari distribusi kawah di permukaan. Dari gambar beresolusi tinggi, peneliti memperkirakan umur permukaan Donaldjohanson sekitar 155 juta tahun, angka yang cocok dengan usia keluarga Erigone.

Namun tim juga menemukan hal yang janggal karena asteroid ini hampir tidak memiliki kawah kecil dengan diameter di bawah sekitar 400 meter hingga 500 meter. Kondisi itu menunjukkan permukaan Donaldjohanson mengalami perubahan aktif selama jutaan tahun.

Para peneliti menduga longsoran asteroid atau guncangan dari tumbukan lain sekitar 40 juta tahun lalu ikut menghapus banyak kawah kecil. Perubahan itu juga membuat wilayah leher asteroid tampak sangat halus.

Jejak air purba dalam mineralnya

Instrumen Lucy menemukan filosilikat yang mengandung besi, jenis mineral yang umumnya terbentuk lewat interaksi dengan air cair. Temuan ini mengarah pada kemungkinan bahwa benda induk keluarga Erigone pernah mengandung air pada fase awal pembentukan tata surya.

Marchi menyebut komposisi Donaldjohanson menunjukkan air sudah hadir pada tahap awal, mungkin tidak lama setelah badan induknya terbentuk. Meski begitu, perubahan kimia akibat air pada asteroid ini tidak sebesar yang terlihat pada Bennu dan Ryugu.

Petunjuk air purba ini tetap penting karena membantu ilmuwan memahami bagaimana air dan senyawa pembentuk kehidupan bisa menyebar di tata surya. Banyak peneliti menilai asteroid dan komet ikut membawa air serta bahan organik ke Bumi muda.

Langkah berikutnya menuju target utama Lucy

Donaldjohanson memang bukan tujuan akhir, tetapi hasil pengamatannya memperkuat bekal ilmiah Lucy sebelum masuk ke fase paling penting. Wahana ini berhasil menggabungkan data tentang bentuk, sejarah tumbukan, evolusi permukaan, dan komposisi mineral ke dalam satu gambaran yang utuh.

Langkah berikutnya bagi Lucy adalah asteroid Trojan Eurybates, yang berdiameter sekitar 68 kilometer, beserta satelit kecilnya Queta. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2027.

Setelah itu, Lucy akan melanjutkan kunjungan ke tiga asteroid Trojan lain di kelompok depan Jupiter sebelum kembali melintas dekat Bumi pada 2031 untuk bantuan gravitasi. Manuver ini akan memberi tambahan kecepatan sebelum wahana bergerak ke kelompok Trojan di belakang Jupiter pada 2033.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru