Lebih dari 1.000 ASN Jabar Terjerat Judol, Ada yang Habiskan Rp800 Juta

Lebih dari 1.000 aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terindikasi terlibat judi online. Temuan itu membuat praktik judol di kalangan ASN Jabar disebut sudah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan, dengan nilai transaksi yang tersebar dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah per orang.

Data yang diterima Pemprov Jabar dari PPATK juga menunjukkan pola yang tidak biasa. Di antara para ASN yang terdata, ada yang sudah berada di penghujung masa pengabdian dan bahkan menjelang pensiun.

Transaksi Paling Besar Tembus Rp800 Juta

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan temuan itu muncul setelah dirinya menerima data dari PPATK. Ia menyebut para ASN yang terlibat banyak berasal dari wilayah kota-kota besar seperti Bekasi, Bandung, dan sekitarnya.

Erwan menuturkan PPATK memberi peringatan khusus saat dirinya bersilaturahmi dengan Kepala PPATK Ivan Yustiavandana. Dalam pertemuan itu, PPATK disebut mengingatkan bahwa judi online di kalangan ASN Jawa Barat sudah sangat meresahkan.

“Saya waktu itu silaturahmi dengan Kepala PPATK Pusat, Kang Ivan, kebetulan orang Jawa Barat. Kita ngobrol-ngobrol, di akhir pertemuan itu beliau sampaikan, ‘Kang, hati-hati, Jawa Barat judolnya sudah sangat meresahkan, terutama ASN’,” kata Erwan.

Yang paling mencolok adalah besaran transaksi yang tercatat. Erwan menyebut ada satu ASN yang menghabiskan lebih dari Rp800 juta untuk berjudi secara daring, sementara beberapa lainnya tercatat mengeluarkan dana di atas ratusan juta rupiah.

Di sisi lain, ada juga transaksi yang nilainya jauh lebih kecil, mulai sekitar seratus ribu hingga dua ratus ribu rupiah. Rentang angka itu memperlihatkan bahwa judi online di lingkungan ASN tidak hanya melibatkan pengeluaran besar, tetapi juga kebiasaan yang bisa berulang dalam skala kecil.

TemuanDetailKeterangan
Jumlah ASN terindikasiLebih dari 1.000 orangData dari PPATK
Nilai transaksi tertinggiLebih dari Rp800 jutaSatu ASN
Nilai transaksi lainRatusan juta rupiahBeberapa ASN
Nilai transaksi terkecilSeratus ribu sampai dua ratus ribu rupiahSejumlah transaksi lain

Akan Dipanggil dan Diproses Internal

Erwan menegaskan seluruh ASN yang tercantum dalam data PPATK akan dipanggil oleh inspektorat di masing-masing daerah. Mereka akan dimintai klarifikasi dan diproses sesuai aturan disiplin ASN yang berlaku.

Ia meminta inspektorat di kota dan kabupaten segera menindaklanjuti temuan tersebut. Menurut dia, para ASN yang terlibat harus menerima sanksi sesuai aturan setelah dilakukan pemeriksaan internal.

“Banyak sekali ASN di Jawa Barat, terutama di kota-kota besar ya, di Bekasi, Bandung, dan sekitarnya, banyak sekali yang terlibat judol. Saya berharap kita segera menindaklanjutinya, para inspektorat di kota dan kabupaten untuk segera memanggil para ASN yang terlibat judol tersebut, memberikan sanksi ya sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujarnya.

Menjelang Pensiun Juga Ikut Terlibat

Fakta lain yang disorot Erwan adalah adanya ASN dengan transaksi besar yang ternyata sudah mendekati masa pensiun. Kondisi itu membuatnya heran karena pelaku disebut telah menerima gaji dan tunjangan, tetapi tetap memilih berjudi.

“Eh, lebih. Ada satu ASN saja sampai delapan ratus jutaan. Satu ASN. Bahkan ada beberapa yang di atas ratusan juta. Yang terkecil itu sekitar seratus dua ratus ribuan,” katanya.

Ia juga menyoroti pertanyaan soal manfaat yang bisa ditinggalkan para ASN tersebut untuk keluarga setelah pensiun. Karena itu, temuan dari PPATK ini dipandang bukan sekadar pelanggaran disiplin, tetapi juga alarm serius bagi lingkungan birokrasi Jawa Barat.

“Dan yang tadi saya sebutkan salah satunya yang besar itu mereka menjelang pensiun. Ngapain coba? Apa yang akan mereka berikan untuk anak cucunya ketika nanti setelah pensiun?” pungkasnya.

Source: www.detik.com
Terkait