Lebanon Pisahkan Jalur Negosiasi Israel, Aoun Tak Mau Terseret Agenda AS-Iran

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa pembicaraan dengan Israel di Washington berjalan di jalur yang berbeda dari negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Ia ingin proses itu tetap fokus pada kepentingan Lebanon, terutama soal gencatan senjata di Lebanon selatan.

Pernyataan itu memperlihatkan sikap Beirut yang tidak ingin perundingan bilateralnya tercampur dengan dinamika diplomasi yang lebih luas. Di tengah tekanan keamanan yang masih tinggi, Lebanon berupaya memastikan setiap langkah negosiasi menghasilkan dampak langsung di lapangan.

Target Lebanon Masih Jelas

Aoun menyebut rangkaian pembahasan yang berjalan diarahkan untuk membuka jalan bagi penarikan pasukan Israel, pengerahan tentara Lebanon, kepulangan warga, pembebasan tahanan, dan dimulainya rekonstruksi. Dalam pertemuan dengan delegasi Parlemen Inggris, ia juga mengatakan ada sejumlah upaya untuk mengonsolidasikan gencatan senjata di wilayah selatan.

Kantor Kepresidenan Lebanon menyebut status zona percontohan masih dibahas dan menunggu persetujuan dari pihak Israel. Bagi Aoun, isu itu menjadi bagian dari negosiasi yang lebih luas untuk mencapai kestabilan di perbatasan selatan.

Washington Jadi Jalur Tersendiri

Dalam pertemuan lain dengan delegasi kementerian luar negeri dan kementerian migrasi Belanda, Aoun mengatakan negosiasi di Washington bertujuan membangun landasan yang jelas agar seluruh tuntutan Lebanon bisa terpenuhi. Ia menegaskan proses itu diharapkan membuka jalan menuju perdamaian yang nyata dan langgeng.

Aoun juga menekankan bahwa Lebanon telah mengambil kembali kendali atas kewenangan dan keputusannya. Karena itu, ia menilai perundingan harus dijalankan secara mandiri demi kepentingan nasional, bukan sebagai bagian dari agenda pihak lain.

Latar Diplomasi yang Beririsan

Pernyataan Aoun muncul setelah putaran terbaru pembicaraan antara Lebanon dan Israel digelar di Washington, D.C., sebagai bagian dari proses menuju kesepakatan antara kedua pihak. Departemen Luar Negeri AS sebelumnya mengumumkan putaran baru negosiasi langsung itu pada Jumat, 19 Juni, dengan jadwal pelaksanaan pada 23-25 Juni.

Pembicaraan tersebut berlangsung setelah nota kesepahaman AS-Iran mulai berlaku pada Kamis, 18 Juni. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut menandatangani dokumen kesepahaman itu secara elektronik.

Tekanan di Lebanon Selatan Belum Reda

Isi kesepahaman AS-Iran itu mencakup ketentuan yang mengikat kedua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon. Di saat yang sama, Israel masih menduduki sejumlah wilayah di selatan Lebanon yang sebagian telah dikuasai selama puluhan tahun.

Situasi keamanan juga tetap rapuh karena serangan Israel disebut telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 orang lainnya sejak 2 Maret, berdasarkan data resmi Lebanon. Sebagian wilayah lain direbut selama perang 2023-2024, sehingga isu penarikan pasukan dan penegakan gencatan senjata tetap menjadi inti perundingan yang berlangsung.

Dengan kondisi itu, sikap Aoun menegaskan satu hal penting: Lebanon ingin menjaga agar jalur pembicaraan dengan Israel tetap berdiri sendiri, tanpa tenggelam dalam negosiasi AS-Iran yang lebih luas.

Source: www.viva.co.id

Terkait