3 Lini Bisnis Tugure yang Masih Bergantung pada Reasuradur Asing

PT Tugu Reasuransi Indonesia atau Tugure masih melihat tiga lini bisnis yang paling bergantung pada kapasitas reasuradur asing. Ketiganya adalah Marine & Aviation termasuk satelit, Property & Engineering untuk risiko besar dan katastrofe, serta Energy & Large Infrastructure.

Ketergantungan itu disebut bukan tanda lemahnya industri. Bagi Tugure, penempatan sebagian risiko ke pasar global justru menjadi cara menjaga pengelolaan risiko tetap sehat, terutama ketika eksposur yang dihadapi sangat besar dan sistemis.

Risiko besar masih butuh kapasitas tambahan

Direktur Keuangan Tugure, Dradjat Irwansyah, menjelaskan bahwa reasuransi domestik sebenarnya sudah mampu menahan sebagian besar risiko di segmen menengah hingga retail. Namun, kebutuhan berbeda muncul ketika perusahaan berhadapan dengan risiko besar dan kompleks.

Pada Marine & Aviation, nilai pertanggungan kerap besar dan karakter risikonya rumit. Hal serupa juga muncul pada Property & Engineering untuk risiko besar dan katastrofe, serta pada Energy & Large Infrastructure yang biasanya membutuhkan penanganan khusus.

Premi ke luar negeri dinilai sebagai keputusan bisnis

Tugure menanggapi pandangan bahwa retensi reasuransi di Indonesia masih rendah karena kapasitas modal domestik belum cukup besar. Perusahaan menyebut sekitar 35% premi reasuransi masih mengalir ke luar negeri, tetapi angka itu dinilai lebih mencerminkan keputusan bisnis industri ketimbang semata-mata keterbatasan lokal.

Ada dua alasan utama yang disebut mendorong kondisi tersebut. Pertama, reasuradur asing sering menawarkan kapasitas lebih besar, pricing lebih kompetitif, dan diversifikasi risiko global, terutama di pasar softening saat ini.

Kedua, beberapa risiko large dan complex dinilai lebih efisien ditempatkan ke luar negeri agar portofolio domestik tetap seimbang. Dalam pandangan Tugure, langkah itu sejalan dengan prinsip spreading the risk yang menjadi dasar industri asuransi dan reasuransi.

Retensi lokal perlu optimal, bukan sekadar maksimal

Tugure menilai keberhasilan reasuransi nasional tidak cukup diukur dari seberapa besar risiko yang ditahan di dalam negeri. Yang lebih penting adalah komposisi retensi yang optimal agar industri tetap sehat dan efisien.

Karena itu, perusahaan mendorong industri fokus pada optimalisasi retensi, bukan maksimalisasi retensi. Tugure juga menilai regulasi perlu memberi ruang bagi kompetisi yang sehat dan pricing yang efisien, sehingga kapasitas lokal dapat naik secara alami karena pelaku domestik makin kompetitif.

Dradjat menyoroti pentingnya penguatan spesialisasi, kualitas data, analytics, governance, dan permodalan secara selektif. Menurut dia, perbaikan fundamental itu akan membantu industri menempatkan risiko lebih tepat sesuai profil masing-masing lini bisnis.

Kolaborasi dan insentif dinilai penting

Selain perbaikan internal, Tugure menilai regulasi berbasis insentif juga dibutuhkan. Skema seperti ini dapat mendorong penempatan domestik pada risiko yang memang wajar untuk ditahan, tanpa menutup akses ke pasar global untuk diversifikasi dan pricing yang kompetitif.

Perusahaan juga melihat perlunya Public-Private Partnership untuk pengelolaan risiko besar, termasuk energi dan infrastruktur. Kolaborasi yang lebih erat dinilai dapat membuat risiko besar dikelola lebih efisien tanpa meninggalkan prinsip spreading the risk.

Pernyataan Tugure ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, yang sebelumnya menilai retensi reasuransi di Indonesia masih rendah. Namun, Tugure menegaskan bahwa arus premi ke luar negeri perlu dibaca sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, bukan semata-mata kelemahan pasar domestik.

Source: finansial.bisnis.com

Terkait