Layar Bikin Mata Makin Rentan, Miopia dan Mata Silinder Mengincar Usia Produktif

Penggunaan layar digital yang terus-menerus kini tidak lagi hanya soal mata lelah sesaat. Kebiasaan ini ikut berkaitan dengan makin sering ditemukannya miopia dan astigmatisme pada usia produktif.

Keluhan yang muncul memang sering terasa ringan pada awalnya. Namun, gangguan penglihatan bisa memengaruhi kenyamanan bekerja, fokus, interaksi sosial, dan produktivitas dalam jangka panjang.

Mata yang terus dipaksa fokus dekat

Menatap layar dalam durasi panjang membuat mata berulang kali bekerja pada jarak dekat. Dalam kondisi seperti itu, mata menjadi lebih mudah lelah dan rentan mengalami gangguan penglihatan.

Dokter Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, menyebut miopia dan astigmatisme semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Ia menilai penggunaan perangkat digital sejak usia dini ikut memperbesar risikonya.

Menurut dr. Zoraya, banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar atau membaca lama. Akibatnya, mata terus dipaksa bekerja pada jarak dekat dan lebih mudah mengalami kelelahan.

Miopia dan astigmatisme punya dampak yang berbeda

Miopia atau rabun jauh terjadi saat objek dekat terlihat jelas, tetapi objek jauh tampak buram. Pada kondisi ini, cahaya masuk ke mata dan jatuh di depan retina, bukan tepat di retina.

Sementara itu, astigmatisme atau mata silinder muncul karena bentuk kornea atau lensa tidak simetris. Akibatnya, cahaya tidak terfokus pada satu titik dan penglihatan bisa kabur atau berbayang dari jarak dekat maupun jauh.

Keluhan yang sering muncul meliputi pandangan kabur, mata mudah lelah, sakit kepala setelah membaca atau bekerja di depan komputer, serta kebiasaan menyipitkan mata saat melihat jauh. Gejala seperti ini kerap dianggap sepele, padahal pemeriksaan mata bisa membantu mendeteksinya lebih dini.

Kacamata membantu, tapi tidak selalu nyaman

Gangguan refraksi umumnya membuat seseorang membutuhkan kacamata atau lensa kontak agar bisa melihat lebih jelas. Namun, penggunaan alat bantu ini tidak selalu terasa nyaman untuk semua orang.

dr. Zoraya mengatakan kondisi tersebut sering memengaruhi kenyamanan, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari. Karena itu, perhatian pada kesehatan mata menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas hidup.

Dalam konteks longevity, penglihatan yang baik ikut menentukan kemampuan seseorang untuk tetap aktif dalam jangka panjang. Mata yang sehat membantu aktivitas harian tetap berjalan tanpa hambatan berarti.

Penuaan ikut menurunkan fokus mata

Selain gangguan refraksi pada usia produktif, mata juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Salah satu yang paling umum adalah presbiopia atau mata tua.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), menjelaskan presbiopia merupakan penurunan kemampuan fokus mata pada objek dekat. Kondisi ini biasanya mulai dirasakan sejak usia 40 tahun.

Ia menilai keluhan itu kini makin terasa karena penggunaan perangkat digital yang tinggi dalam aktivitas sehari-hari. Artinya, mata menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni penuaan alami dan paparan layar yang terus-menerus.

Pemeriksaan rutin tetap jadi langkah penting

Penanganan gangguan mata tidak sebaiknya menunggu keluhan menjadi berat. Pemeriksaan rutin diperlukan agar perubahan penglihatan bisa diketahui lebih awal dan pilihan koreksi dapat ditentukan dengan tepat.

Langkah sederhana seperti membatasi paparan layar, memberi jeda istirahat, dan menerapkan aturan 20-20-20 dapat membantu mengurangi beban pada mata. Kebiasaan ini memberi kesempatan mata beristirahat setelah lama bekerja pada jarak dekat.

Di sisi lain, teknologi oftalmologi juga membuka opsi penanganan yang lebih modern untuk gangguan refraksi. Salah satunya SMILE Pro atau Small Incision Lenticule Extraction Pro, teknologi koreksi penglihatan dengan laser femtosecond generasi terbaru yang dikenalkan Mayapada Eye Centre.

Prosedur ini ditujukan untuk membantu mengoreksi miopia dan astigmatisme melalui tindakan minimal invasif dengan sayatan yang sangat kecil. Proses lasernya berlangsung singkat, sekitar delapan detik, dan didukung Oculign System untuk membantu menjaga akurasi serta stabilitas selama tindakan.

Meski begitu, dokter menegaskan tidak semua orang cocok menjalani tindakan koreksi refraksi. Pemeriksaan mata menyeluruh tetap dibutuhkan untuk menentukan kondisi mata, kebutuhan pasien, dan pilihan terapi yang paling sesuai.

Source: www.suara.com

Terkait