
Presiden Taiwan Lai Ching-te akhirnya tiba di Eswatini setelah rute perjalanannya sempat diblokir oleh pencabutan izin melintas udara di sejumlah negara Afrika. Kedatangan ini langsung menarik perhatian karena Eswatini adalah satu-satunya sekutu diplomatik Taiwan di Afrika, dan kunjungan tersebut berlangsung di tengah tekanan keras dari Beijing.
Lai menyebut perjalanan awalnya “ditangguhkan karena kekuatan eksternal yang tak terduga”. Ia mengatakan tim diplomatik dan keamanan nasional bekerja diam-diam selama beberapa hari sebelum rombongan berhasil tiba pada Sabtu.
Kunjungan yang sempat terganggu
Rencana awal Lai untuk mengunjungi Eswatini semula dijadwalkan pada 22-26 April. Namun, agenda itu batal setelah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar mencabut izin melintas udara secara “tak terduga dan tanpa pemberitahuan”, menurut kantor Lai.
Seorang penasihat dekat Lai saat itu mengatakan pencabutan izin terjadi setelah “tekanan intens” dari Beijing. Peristiwa ini kembali menyoroti persaingan diplomatik panjang antara Taiwan dan China, terutama di Afrika.
Pesan politik dari Taipei
Dalam unggahan di Facebook, Lai mengatakan kunjungannya diharapkan dapat memperdalam hubungan Taiwan dan Eswatini. Ia menyoroti peluang kerja sama yang lebih erat di bidang ekonomi, pertanian, budaya, dan pendidikan.
Lai juga menyatakan perjalanan itu dapat mendorong kerja sama internasional Taiwan. Bagi Taipei, kunjungan ke Eswatini memiliki bobot simbolis karena negara kecil kerajaan yang dulu dikenal sebagai Swaziland itu masih mempertahankan hubungan resmi dengan Taiwan.
Respons keras dari Beijing
Kementerian luar negeri China mengecam perjalanan tersebut dan menyebut Lai membuat “farce pelarian ala penyusup” yang menjadikannya “bahan tertawaan internasional”. Dalam pernyataan di situs kementerian, juru bicara yang tidak disebut namanya menegaskan bahwa apa pun yang dilakukan otoritas Partai DPP bersama “kekuatan eksternal” tidak akan mengubah fakta bahwa Taiwan adalah bagian dari China.
Beijing juga mendesak Eswatini dan negara lain agar melihat “arus besar sejarah” dan tidak “mengambil buah berangan dari api” untuk sekelompok kecil separatis “kemerdekaan Taiwan”. Sikap ini sejalan dengan upaya China selama bertahun-tahun untuk mendorong negara-negara memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Makna hubungan Taiwan dan Eswatini
Eswatini termasuk dalam 12 negara yang masih mengakui Taiwan secara diplomatik. Taiwan mengelola pemerintahan sendiri, tetapi China tetap menganggap pulau itu bagian dari wilayahnya dan menolak legitimasi hubungan resmi Taipei dengan negara lain.
Kunjungan Lai ke Eswatini juga berkaitan dengan peringatan 40 tahun naik takhtanya Raja Mswati III. Agenda itu sempat dijadwalkan pada April sebelum akhirnya tertunda akibat masalah izin terbang lintas negara di Afrika.





