Laba Indonesia Re Melonjak 544%, Saat Aset Menyusut Investasi dan Ekuitas Justru Naik

PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re mencatat lonjakan laba setelah pajak 544,42% sepanjang 2025. Kinerja ini menonjol karena terjadi saat total aset konsolidasi perusahaan justru mengalami penurunan dibandingkan akhir 2024.

Laba setelah pajak konsolidasi mencapai Rp176,96 miliar, melonjak dari Rp27,46 miliar pada tahun sebelumnya. Pemulihan tersebut memperlihatkan perbaikan tajam pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari bisnis reasuransi dan pengelolaan investasinya.

Hasil Jasa Asuransi Menjadi Penggerak

Lonjakan laba terjadi setelah hasil jasa asuransi bersih konsolidasi naik 484,84% menjadi Rp471,67 miliar. Pada 2024, pos ini tercatat sebesar Rp80,65 miliar, sehingga kenaikannya menjadi salah satu perubahan paling besar dalam laporan keuangan 2025.

Hasil asuransi dan investasi bersih juga meningkat 131,35% menjadi Rp593,38 miliar. Sementara itu, pendapatan jasa asuransi hanya tumbuh 1,90% menjadi Rp6,80 triliun, yang menunjukkan hasil bersih tumbuh jauh lebih cepat daripada pendapatan jasa.

Indikator Konsolidasi20252024Perubahan
Laba setelah pajakRp176,96 miliarRp27,46 miliarNaik 544,42%
Hasil jasa asuransi bersihRp471,67 miliarRp80,65 miliarNaik 484,84%
Hasil asuransi dan investasi bersihRp593,38 miliarNaik 131,35%
Pendapatan jasa asuransiRp6,80 triliunNaik 1,90%

Laba sebelum pajak konsolidasi ikut berbalik positif menjadi Rp101,13 miliar. Pada 2024, Indonesia Re masih membukukan rugi sebelum pajak Rp45,47 miliar.

Data laporan keuangan yang dipublikasikan Bisnis.com menunjukkan perbaikan laba berlangsung di tengah penyusutan total aset konsolidasi. Nilai aset turun dari Rp13,18 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp12,52 triliun pada 2025.

Investasi dan Ekuitas Tetap Bertumbuh

Penurunan aset tidak menghentikan pertumbuhan nilai investasi Indonesia Re. Nilai investasi konsolidasi meningkat 6,95% menjadi Rp7,44 triliun, sedangkan aset kontrak reasuransi tumbuh 19,53% menjadi Rp1,95 triliun.

Ekuitas konsolidasi juga naik 18,47% menjadi Rp1,21 triliun. Kenaikan ini memperkuat posisi permodalan perusahaan ketika total aset berada di bawah posisi akhir tahun sebelumnya.

Posisi Keuangan Konsolidasi2025Perubahan
Total asetRp12,52 triliunTurun dari Rp13,18 triliun
Nilai investasiRp7,44 triliunNaik 6,95%
Aset kontrak reasuransiRp1,95 triliunNaik 19,53%
EkuitasRp1,21 triliunNaik 18,47%

Kinerja Entitas Induk Ikut Membaik

Pada laporan nonkonsolidasi, laba setelah pajak juga tercatat Rp176,96 miliar, naik dari Rp27,46 miliar pada 2024. Laba sebelum pajak entitas induk meningkat menjadi Rp105,98 miliar dari Rp53,13 miliar.

Hasil jasa asuransi bersih entitas induk naik 145,66% menjadi Rp319,30 miliar. Hasil asuransi dan investasi bersih bertambah 41,16% menjadi Rp414,15 miliar, meski pendapatan jasa asuransi turun 6,19% menjadi Rp5,95 triliun.

Total aset entitas induk tercatat Rp10,28 triliun atau turun 5,64%. Namun, nilai investasi naik 6,91% menjadi Rp6,61 triliun dan ekuitas meningkat 18,47% menjadi Rp1,21 triliun.

Solvabilitas Tetap di Atas Batas Minimum

Rasio pencapaian solvabilitas asuransi Indonesia Re berada di level 133,38% untuk laporan konsolidasi dan nonkonsolidasi. Angka tersebut naik dari 132,83% pada 2024 serta melampaui ketentuan minimum 120% dari Otoritas Jasa Keuangan.

Rasio kecukupan investasi konsolidasi tercatat 130,26% dengan rasio likuiditas 114,77%. Pada entitas induk, rasio kecukupan investasi mencapai 132,49% dan rasio likuiditas berada pada 119,27%.

Laporan keuangan tahun buku 2025 memperoleh opini Wajar Tanpa Modifikasian dan menjadi laporan pertama Indonesia Re yang menggunakan PSAK 117 tentang Kontrak Asuransi. Dalam laporan konsolidasi, perusahaan menggabungkan kinerja PT Asuransi Asei Indonesia dan PT Reasuransi Syariah Indonesia.

Indonesia Re dimiliki PT Danantara Asset Management (Persero) sebesar 99,99989%, sedangkan Negara Republik Indonesia memegang saham Seri A Dwiwarna sebesar 0,00011%. Perbaikan hasil jasa asuransi dan investasi menjadi faktor utama di balik penguatan laba perusahaan pada 2025.

Source: finansial.bisnis.com
Terkait