BP membukukan lonjakan laba pada kuartal pertama 2026 ketika harga minyak dan gas menguat di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perusahaan energi asal Inggris itu meraih laba US$ 3,2 miliar, naik lebih dari dua kali lipat dari US$ 1,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Hasil tersebut juga melampaui perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan laba sekitar US$ 2,63 miliar. Kinerja ini menunjukkan bahwa BP mampu menangkap momentum harga energi global yang sedang menguntungkan, terutama saat pasar masih mencermati tekanan pasokan dari konflik di kawasan Teluk.
Kinerja perdagangan dan midstream jadi penopang
BP menyebut aktivitas perdagangan minyak berjalan sangat kuat sepanjang periode laporan. Selain itu, segmen midstream juga mencatat perbaikan dan ikut memberi dorongan tambahan bagi laba perusahaan.
CEO BP Meg O’Neill mengatakan bisnis perusahaan tetap berada di jalur yang tepat. Dalam pernyataannya, ia menegaskan kuartal tersebut kembali menghadirkan “kinerja operasional dan keuangan yang kuat” sekaligus menjaga kemajuan menuju target 2027.
Kenaikan pendapatan itu tidak lepas dari pergerakan harga energi global yang terdorong naik. Pasar merespons meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sementara gangguan di Selat Hormuz menambah kekhawatiran karena jalur itu berperan penting dalam arus pasokan energi dunia.
Saham BP ikut menguat
Kabar laba yang lebih tinggi langsung tercermin pada pergerakan saham BP. Pada perdagangan pagi, saham perusahaan naik sekitar 2,5% dan telah menguat lebih dari 32% sepanjang tahun ini.
Penguatan tersebut menempatkan BP di jajaran perusahaan energi dengan kinerja terbaik di antara raksasa minyak global. Kondisi ini juga memperlihatkan bagaimana investor menilai harga minyak yang lebih tinggi masih bisa menopang pendapatan emiten energi besar.
Prospek produksi masih menghadapi tekanan
Di balik hasil yang kuat, BP memberi sinyal bahwa output hulu pada kuartal II berpotensi lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Perusahaan menyebut perawatan musiman dan gangguan di Timur Tengah sebagai faktor yang dapat menekan produksi.
Sinyal itu menegaskan bahwa industri energi masih menghadapi risiko operasional meski harga komoditas sedang mendukung. Untuk perusahaan terintegrasi seperti BP, perubahan pada produksi dan distribusi tetap bisa berdampak besar terhadap hasil keuangan.
Utang naik, target keuangan tetap dijaga
Dari sisi neraca, utang bersih BP naik menjadi US$ 25,3 miliar pada akhir kuartal pertama dari US$ 22,18 miliar pada akhir 2025. Meski naik, perusahaan tetap mempertahankan arah penyehatan keuangan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
BP masih menargetkan utang bersih turun ke kisaran US$ 14-US$ 18 miliar pada akhir tahun depan. Target itu menandakan perusahaan belum mengubah fokus pada disiplin keuangan, meski tetap harus menyeimbangkan kebutuhan ekspansi dan volatilitas pasar energi.
Perseroan juga mempertahankan rencana belanja modal 2026 di kisaran US$ 13-US$ 13,5 miliar. Pada saat yang sama, BP menargetkan pendapatan dari divestasi dan sumber lainnya sebesar US$ 9-US$ 10 miliar sepanjang tahun.
Analis menilai kenaikan harga minyak memberi keuntungan bagi seluruh pelaku industri, terutama perusahaan terintegrasi seperti BP. Dalam situasi harga energi yang tinggi, arus kas perusahaan besar cenderung tertopang oleh kombinasi produksi, perdagangan, dan pengelolaan aset yang lebih efisien.
Source: www.beritasatu.com






