
Kuota insentif kendaraan listrik untuk 2026 dinilai tidak lagi ideal jika porsinya dibuat seimbang antara mobil dan motor listrik. Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, menilai kuota yang lebih besar untuk sepeda motor listrik akan lebih sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat dan lebih tepat sasaran.
Pandangan itu muncul di tengah rencana pemerintah menyiapkan insentif kendaraan listrik dengan rincian masing-masing 100 ribu unit mobil dan 100 ribu motor listrik tahun ini. Agus menilai komposisi tersebut masih bisa diatur ulang agar manfaatnya lebih banyak dirasakan kelompok yang memang membutuhkan.
Motor listrik dinilai lebih dekat ke kebutuhan masyarakat
Agus menyebut pengguna motor listrik selama ini banyak berasal dari kalangan menengah bawah. Kelompok ini juga masih banyak menggunakan BBM subsidi, sehingga perpindahan ke motor listrik dinilai punya dampak yang lebih luas.
Karena itu, ia menilai porsi insentif yang lebih besar untuk motor listrik akan memberi manfaat yang lebih luas dibanding mobil listrik. Dalam pandangannya, kebijakan yang terlalu rata justru berisiko melebar ke segmen yang tidak menjadi prioritas utama.
Ia juga menekankan bahwa insentif perlu disusun lebih tersegmentasi. Menurut Agus, segmen mobil listrik cenderung menyasar kelompok menengah-atas, sehingga kuota yang disiapkan perlu disesuaikan dengan sasaran penerima.
“Kalau untuk mobil 100 ribu juga perlu segmented supaya tepat sasaran dan jumlahnya bisa disesuaikan untuk bisa menambah porsi jumlah segmen motor,” ujarnya.
Dorongan ke industri domestik
Agus juga menilai kendaraan listrik yang sudah mulai dirakit di Indonesia layak mendapat fasilitas yang lebih besar. Ia melihat kebijakan seperti itu bisa mendorong aktivitas ekonomi di dalam negeri dan memperkuat industri domestik.
Dalam pandangannya, realokasi insentif dari mobil ke motor listrik akan lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat. Motor listrik dianggap lebih dekat dengan pola mobilitas kelompok menengah bawah, sehingga dukungan yang lebih besar dinilai memberi dampak sosial yang lebih nyata.
Ia menambahkan, segmen yang sudah mulai dirakit di Indonesia sebaiknya diberi fasilitas lebih agar ekonomi domestik ikut bergerak. “Segmen yang sudah mulai dirakit di Indonesia lebih diberi fasilitas agar menggerakkan ekonomi domestik juga,” kata Agus.
Rencana pemerintah masih dibahas
Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa insentif EV akan disiapkan dengan rincian masing-masing 100 ribu unit mobil dan 100 ribu motor listrik tahun ini. Ia juga memperkirakan subsidi untuk motor listrik berada di angka Rp5 juta.
Namun, angka pasti stimulus kendaraan listrik itu masih akan diumumkan lebih detail bersama pihak-pihak terkait lainnya. Pemerintah menempatkan kebijakan ini sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak dan mengurangi beban subsidi energi.
Purbaya menyebut kebijakan tersebut relevan di tengah kenaikan harga minyak global. Dengan dorongan insentif yang tepat, pemerintah berharap transisi ke kendaraan listrik juga bisa membantu menahan tekanan pada anggaran subsidi energi.
Source: www.cnnindonesia.com




