Kotak Hitam Boeing 737 K2 Airways Masih Hilang, Penyebab Jatuhnya Belum Terungkap

Pencarian lima awak Boeing 737 kargo milik K2 Airways yang jatuh ke Laut Arab masih belum membuahkan hasil. Hingga Jumat (10/7/2026), kotak hitam pesawat itu juga belum ditemukan, membuat penyebab kecelakaan belum bisa dipastikan.

Kondisi ini membuat penyelidikan berjalan hati-hati karena data penerbangan dan rekaman suara kokpit masih hilang. Tanpa dua perangkat penting itu, penjelasan paling kuat soal apa yang terjadi di udara belum bisa ditarik.

Bangkai Sudah Ditemukan, Tapi Petunjuk Utama Masih Dicari

Otoritas Bandara Pakistan atau Pakistan Airports Authority (PAA) sebelumnya mengonfirmasi bangkai pesawat ditemukan pada Rabu (8/7/2026) setelah pencarian sekitar 12 jam. Tim investigasi juga menemukan sejumlah bagian tambahan pesawat yang akan dianalisis lebih lanjut, seperti diberitakan BeritaSatu mengutip Business Insider.

Pesawat itu sedang menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Uni Emirat Arab menuju Karachi, Pakistan, ketika mengalami perubahan ketinggian yang tidak normal selama sekitar tiga menit sebelum hilang dari radar. Menurut PAA, awak sempat melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi.

Fakta UtamaDetail
OperatorK2 Airways
Jenis pesawatBoeing 737 kargo
Jumlah awak5 orang
RuteUni Emirat Arab ke Karachi, Pakistan
Waktu temuan bangkaiRabu (8/7/2026)

Data Penerbangan Menunjukkan Penurunan Tajam

Data Flightradar24 menunjukkan pesawat beberapa kali naik-turun secara tidak beraturan sebelum akhirnya mengalami penurunan tajam dengan kecepatan sekitar 22.400 kaki per menit. Laju itu jauh di atas penurunan normal saat pesawat berada dalam fase jelajah atau cruise.

Perubahan ketinggian yang drastis itu menjadi salah satu alasan mengapa penyelidikan belum mengarah ke satu kesimpulan. Sejumlah kemungkinan masih terbuka, mulai dari gangguan sistem kendali penerbangan, kesalahan penataan muatan kargo, kerusakan mesin, hingga kesalahan manusia di udara maupun di darat.

Penyelidikan Masih Terbuka Lebar

Mantan pilot Delta Air Lines yang pernah menerbangkan Boeing 737, Mark Stephens, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan. Ia mengatakan, “Semua informasi yang saya baca sejauh ini belum cukup untuk membuat saya mengambil kesimpulan pasti.”

Analis keselamatan penerbangan Anthony Brickhouse juga menilai perubahan ketinggian yang sangat drastis sebelum pesawat hilang dari radar merupakan hal yang mengkhawatirkan. Menurut dia, semua kemungkinan masih terbuka sampai ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Brickhouse menjelaskan penyelidik akan memeriksa pola kerusakan pada puing pesawat untuk mencari petunjuk faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan. Ia juga mengingatkan bahwa investigasi kecelakaan di laut umumnya lebih sulit karena banyak komponen penting tenggelam ke dasar laut.

Ia mencontohkan pencarian Air France Flight 447 yang jatuh di Samudra Atlantik pada 2009, yang memakan waktu lima hari untuk menemukan bangkai pesawat dan hampir dua tahun untuk menemukan kotak hitamnya. Sementara itu, pesawat Malaysia Airlines yang hilang pada 2014 hingga kini belum berhasil ditemukan.

Meski begitu, Brickhouse menilai pencarian pesawat K2 Airways relatif lebih mudah karena area pencarian lebih sempit dan didukung teknologi pelacakan yang lebih canggih.

Bukan Boeing 737 Max

Kecelakaan ini dipastikan tidak melibatkan Boeing 737 Max yang sempat menjadi sorotan dunia akibat dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019. Pesawat yang jatuh terdaftar dengan nomor registrasi AP-BOI dan mulai beroperasi pada 1999 sebagai pesawat penumpang.

Pada 2011, pesawat tersebut dikonversi menjadi pesawat kargo. Selama 27 tahun masa operasinya, pesawat itu sempat digunakan oleh sejumlah operator dari berbagai negara sebelum akhirnya disewa K2 Airways pada 2024.

Hingga kotak hitam dan lima awak ditemukan, penyidik belum punya dasar kuat untuk mengunci penyebab jatuhnya pesawat di Laut Arab. Karena itu, operasi pencarian masih menjadi kunci utama untuk membuka kronologi lengkap kecelakaan tersebut.

Source: www.beritasatu.com
Terkait