Kota 360 Masjid di Bangladesh Ini Menyimpan Legenda Buaya di Samping Makam Pendiri

Di Bangladesh, ada satu kawasan bersejarah yang menarik perhatian karena memadukan kota kuno, masjid-masjid tua, dan legenda buaya di samping makam pendirinya. Mosque City of Bagerhat bukan hanya situs Warisan Dunia UNESCO, tetapi juga jejak penting tentang bagaimana sebuah pusat Islam tumbuh tertata di Bengal bagian selatan.

Daya tariknya tidak berhenti pada bangunan tua. Di tempat ini, sejarah tata kota, arsitektur, dan cerita rakyat masih berjalan berdampingan hingga sekarang.

Jejak Khalifatabad yang masih tersisa

Sebelum dikenal sebagai Mosque City of Bagerhat, kawasan ini bernama Khalifatabad. Kota kuno itu dibangun pada abad ke-15 di wilayah yang kini masuk Bangladesh.

Pada masa kejayaannya, Khalifatabad berfungsi sebagai pusat permukiman sekaligus pusat pemerintahan dan keagamaan. Kawasan ini dilengkapi jalan, jembatan, waduk, dan bangunan umum yang menunjang kehidupan warganya.

Sisa-sisa penataan itu masih memberi gambaran bahwa wilayah ini pernah dirancang sebagai kota yang hidup dan teratur. Jejaknya tampak dari tata ruang, bangunan yang bertahan, dan warisan sejarah yang masih dirawat.

Dijuluki kota 360 masjid

Julukan kota 360 masjid muncul karena banyaknya masjid dan bangunan keagamaan yang pernah berdiri di kawasan tersebut. Kehadiran rumah ibadah dalam jumlah besar menunjukkan kuatnya pengaruh Islam di Bagerhat pada masa itu.

Bangunan-bangunan itu umumnya dibuat dari batu bata bakar. Gaya arsitekturnya memperlihatkan karakter Islam awal di wilayah Bengal, dengan Masjid Shat Gombuj atau Sixty Dome Mosque sebagai salah satu yang paling dikenal.

Jejak arsitektur ini membuat Bagerhat menonjol di antara situs sejarah lain di Asia Selatan. Kawasan ini menjadi contoh nyata bagaimana nilai keagamaan dan perencanaan kota bisa tumbuh dalam satu ruang.

Peran Khan Jahan Ali

Nama Khan Jahan Ali sangat lekat dengan lahirnya kawasan ini. Ia dikenal sebagai sufi yang dihormati di wilayah Bengal pada abad ke-15, sekaligus ulama dan pemimpin militer yang visioner.

Khan Jahan Ali memimpin pengikutnya membuka hutan rawa untuk membangun kota mandiri. Pendekatannya dalam menyebarkan nilai keagamaan dan membangun peradaban membuat namanya terus dikenang.

Kompleks makamnya juga menjadi bagian penting dari sejarah Bagerhat. Hingga kini, tempat itu masih ramai didatangi peziarah yang datang untuk mengenang sosok di balik berdirinya kawasan tersebut.

Pengakuan UNESCO dan nilai sejarahnya

Mosque City of Bagerhat ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1985. Pengakuan itu diberikan karena kawasan ini dinilai sebagai salah satu contoh penting kota Muslim abad pertengahan yang masih menyimpan banyak peninggalan sejarah.

UNESCO menilai Bagerhat memiliki nilai sejarah tinggi, arsitektur khas, dan tata kota yang terencana dengan baik. Sisa bangunan yang masih bertahan menjadi bukti perkembangan arsitektur Islam di wilayah Bengal.

Status itu juga memperkuat posisi Bagerhat sebagai kawasan yang tidak hanya penting bagi Bangladesh, tetapi juga bagi sejarah peradaban Islam di kawasan Asia Selatan.

Legenda buaya di Thakur Dighi

Di sisi lain, Bagerhat menyimpan kisah yang membuatnya semakin unik. Di samping makam Khan Jahan Ali terdapat kolam Thakur Dighi yang menurut legenda setempat pernah menjadi tempat dua buaya air tawar raksasa bernama Kalapahar dan Dhautopahar.

Legenda itu menyebut kedua buaya tersebut dipelihara oleh Khan Jahan Ali dan dianggap memiliki kekuatan magis. Meski buaya asli dari masa itu sudah mati, kolam tersebut masih diisi buaya penerus hingga sekarang.

Karena alasan keamanan, area kolam kini dipagari dengan ketat. Pengunjung juga dilarang memberi makan buaya secara langsung agar kawasan ini tetap aman bagi wisatawan.

Di antara sisa kota kuno, masjid-masjid bata, makam pendiri, dan kolam yang dipagari rapat, Bagerhat memperlihatkan warisan yang utuh antara sejarah dan cerita rakyat. Dari Khalifatabad hingga Thakur Dighi, kawasan ini masih menyimpan lapisan masa lalu yang terus hidup di tengah pelestarian.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button