Koridor Dua Trans Jatim Masih Tertahan, 4 Komponen Ini Jadi Penentu Rute

Author: Cung Media

Penentuan rute koridor dua Bus Trans Jatim di Malang Raya belum juga mengerucut, karena Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur masih menghitung sejumlah dampak di lapangan. Empat komponen kini dipakai sebagai dasar agar rute yang dipilih tetap layak dilayani bus besar dan tidak memunculkan penolakan.

Masalahnya bukan sekadar mencari jalur yang ramai penumpang, tetapi juga memastikan rute itu tidak mengganggu aktivitas warga dan pelaku usaha di sekitarnya. Dishub Jatim ingin keputusan akhir punya keseimbangan antara kebutuhan transportasi, ruang usaha, dan akses menuju kawasan wisata.

Empat faktor yang sedang ditimbang

Kepala Seksi Angkutan Dishub Provinsi Jatim Cito Eko Yuly Saputro menyebut friksi atau risiko penolakan sebagai komponen pertama. Dua faktor lain yang ikut dihitung adalah supply and demand serta dampak terhadap UMKM, usaha, dan pariwisata di sepanjang jalur.

Dengan kata lain, rute yang dipilih harus punya permintaan penumpang yang tinggi, tetapi tetap aman secara sosial dan ekonomi. Jalur itu juga diharapkan tidak menekan usaha di kawasan yang akan dilintasi bus.

Komponen Penilaian Fokus Utama Dampak yang Dipertimbangkan
Friksi atau penolakan Risiko penolakan di lapangan Kelancaran implementasi rute
Supply and demand Kesesuaian permintaan penumpang Layak atau tidaknya jalur dilayani bus besar
UMKM dan usaha Pengaruh terhadap aktivitas ekonomi sekitar Jangan sampai memberi dampak negatif
Pariwisata Akses menuju destinasi wisata Jangkauan layanan dan kebutuhan penghubung
Titik henti Kesesuaian lahan dan desain pemberhentian Keamanan naik turun penumpang

Titik henti dan lahan masih jadi pekerjaan rumah

Komponen keempat yang ikut menentukan adalah kesesuaian dan luasan pembangunan titik henti. Dishub menargetkan titik henti berada di bahu jalan, tetapi ketersediaan lahan tetap menjadi syarat penting agar bus bisa menaikkan dan menurunkan penumpang dengan aman.

Cito menjelaskan titik henti idealnya memiliki lebar tiga sampai empat meter di bahu jalan. Jika lahan tidak tersedia, penumpang akan kesulitan turun naik dan layanan bus berpotensi kurang menarik.

Arah layanan masih dibahas agar tetap realistis

Dalam pembahasan pariwisata, ada kemungkinan rute Bus Trans Jatim tidak langsung sampai ke pantai atau destinasi wisata lain. Opsi yang mengemuka adalah bus berhenti di Terminal Talangagung, Kepanjen, lalu perjalanan dilanjutkan dengan angkutan penghubung.

Skema itu dipandang lebih realistis untuk menjaga efisiensi layanan bus besar. Untuk menjangkau area wisata yang lebih jauh, Dishub menilai tetap dibutuhkan angkutan desa sebagai penghubung.

Jika jangkauan Bus Trans Jatim dipaksakan terlalu luas tanpa dukungan angkutan lanjutan, kebutuhan APBD dikhawatirkan ikut membesar. Karena itu, skema penghubung dinilai penting agar layanan tetap bisa berjalan tanpa beban biaya yang berlebihan.

Optimisme tetap dijaga

Meski sejumlah kendala masih dibahas, Dishub Jatim tetap optimistis koridor dua bisa terealisasi. Harapan itu disebut sejalan dengan amanah Gubernur Jatim Khofifah Indar Prawansa.

Cito juga berharap koridor dua dapat berjalan seperti koridor satu, dengan dukungan 14 bus operasional dan satu bus cadangan. Dalam gambaran itu, layanan diharapkan bisa menjangkau sejumlah destinasi wisata termasuk pantai di Malang Selatan melalui dukungan angkutan penghubung.

Source: radarmalang.jawapos.com
Terbaru