Film Anak Kuasai 22% Waktu Nonton Netflix Indonesia, Keluarga Makin Dilirik

Konten anak di Netflix Indonesia ternyata bukan sekadar pelengkap katalog. Sepanjang 2025, genre ini menyerap sekitar 22% dari total waktu menonton dan menjadi salah satu penggerak utama konsumsi konten keluarga.

Angka itu memperlihatkan bahwa tontonan ramah anak masih punya daya tarik besar di Indonesia. Di saat yang sama, pola menonton bersama di ruang keluarga ikut membuat film dan serial keluarga semakin relevan bagi penonton.

Menonton Bersama Masih Jadi Kebiasaan Kuat

Netflix melihat kebiasaan konsumsi di Indonesia bergerak ke arah co-viewing atau menonton bersama, bukan hanya menonton sendiri. Aktivitas ini banyak terjadi di ruang keluarga dan mendorong minat terhadap konten bertema keluarga.

Director of Public Policy, Southeast Asia, Netflix, Ruben Hattari, menilai pola itu mencerminkan budaya kebersamaan yang masih kuat. Ia menyebut tradisi berkumpul sambil menikmati tontonan bersama sebagai salah satu bentuk semangat gotong-royong yang masih hidup di masyarakat.

TemuanDataKonteks
Pelanggan Netflix Indonesia yang pernah menonton film IndonesiaHampir 90%Menunjukkan minat tinggi pada konten lokal
Porsi waktu menonton dari konten anak pada 202522%Menjadi salah satu kontributor utama konsumsi konten
Film keluarga masuk Global Top 10Hampir setiap pekan selama 4 tahun terakhirMenunjukkan peluang pasar global yang terbuka

Peluang Baru untuk Kreator Indonesia

Netflix juga menyoroti tren global yang bergerak searah. Dalam empat tahun terakhir, hampir setiap pekan selalu ada film keluarga yang masuk daftar Global Top 10, sehingga ruang untuk karya bertema keluarga dinilai makin terbuka.

Bagi Ruben Hattari, kondisi itu bukan hanya menguntungkan industri film nasional, tetapi juga ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas. Bagi Netflix sendiri, Kids & Family diposisikan sebagai pengalaman menonton yang aman untuk keluarga.

Platform tersebut menyediakan sejumlah fitur pengawasan agar orang tua bisa menciptakan pengalaman menonton yang lebih terarah bagi anak. Di tengah semakin luasnya akses anak terhadap konten digital, aspek keamanan menjadi bagian penting dari layanan streaming keluarga.

Co-Viewing dan Arah Kebijakan Digital

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai disrupsi teknologi telah mengubah cara masyarakat menikmati hiburan. Salah satu dampaknya, momen kebersamaan bisa berkurang karena penggunaan gawai membuat aktivitas hiburan makin individual.

Nezar mencontohkan situasi anggota keluarga yang berkumpul, tetapi sibuk dengan perangkat masing-masing. Menurut dia, kondisi itu membuat interaksi sosial di dalam keluarga makin berjarak dan hubungan antaranggota keluarga lebih terfragmentasi.

Karena itu, ia memandang upaya menjadikan film sebagai medium untuk membangun kembali kebersamaan sebagai langkah yang positif. Menonton bersama keluarga bukan hanya mempererat hubungan, tetapi juga membuka ruang edukasi melalui tayangan yang dikonsumsi bersama.

Ia menyebut konsep co-viewing sangat selaras dengan semangat PP TUNAS. Salah satu tujuan aturan tersebut adalah memberi pembatasan usia dalam akses anak terhadap platform digital agar ruang digital yang aman dapat tercipta.

Nezar juga menilai industri film Indonesia berada dalam momentum yang positif. Sejumlah film nasional disebut mampu bertahan lama di bioskop dan bahkan bersaing dengan film impor.

Momentum itu, menurut dia, bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan lebih banyak karya lokal yang ramah anak, edukatif, dan inspiratif. Konten seperti itu diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pengalaman menonton yang lebih berkesan bagi keluarga.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terkait