
Konflik geopolitik yang terus memanas mulai terasa dampaknya ke sektor farmasi Indonesia. Tekanan terbesar muncul dari gangguan rantai pasok internasional, naiknya biaya energi, dan tantangan logistik yang bisa mendorong biaya produksi obat ikut terkerek.
Kondisi itu menjadi perhatian karena bahan baku obat nasional masih banyak bergantung pada impor. Di tengah situasi global yang tidak menentu, pemerintah, regulator, dan industri diminta bergerak bersama agar harga obat tidak melonjak dan pasokan tetap aman bagi masyarakat.
Biaya produksi obat ikut tertekan
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel disebut memberi efek berantai pada arus pasokan dunia. Dampaknya menjalar hingga Indonesia karena industri farmasi masih membutuhkan banyak bahan baku dari luar negeri.
Kenaikan harga energi global menambah beban produksi. Pada saat yang sama, distribusi internasional yang terganggu membuat pelaku usaha harus menghadapi risiko tambahan untuk menjaga kelancaran suplai obat.
Menkes minta penguatan industri dalam negeri
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga akses masyarakat terhadap obat. Dalam acara Halalbihalal nasional yang digelar Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan obat tetap tersedia dan harganya terjangkau.
“Komitmen Kementerian Kesehatan untuk memastikan akses obat di Indonesia tetap terjaga ketersediaannya dan terjangkau harganya, dengan memberikan dukungan penuh bagi pembangunan dan penguatan usaha farmasi dalam negeri,” ujarnya. Ia juga menyoroti kebutuhan inovasi agar ketergantungan impor bisa ditekan, termasuk mencari alternatif komponen obat seperti kemasan.
BPOM tekankan pengawasan rantai pasok
Dari sisi pengawasan, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut stabilitas farmasi tak cukup hanya bertumpu pada aturan. Ia menilai koordinasi erat dengan industri menjadi faktor penting agar ketersediaan obat tetap terjaga dan harga tidak naik tajam.
“Peran BPOM dalam menjaga ketersediaan obat sekaligus memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat, antara lain melalui penguatan pengawasan rantai pasok obat dan makanan,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa sebagian besar produsen farmasi nasional saat ini berada dalam kondisi sangat baik.
Stok obat dinilai masih aman
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia F. Tirto Kusnadi menyampaikan bahwa stok obat nasional masih berada dalam kondisi aman. Berdasarkan pendataan GP Farmasi, peredaran obat di masyarakat masih tergolong baik hingga tiga bulan ke depan.
Ia menegaskan bahwa GP Farmasi punya peran sebagai penghubung antara regulator dan industri untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga obat. Menurut dia, penguatan rantai pasok domestik harus terus dilakukan agar industri farmasi Indonesia lebih tahan menghadapi gejolak global.
“Momentum kebersamaan ini menjadi sangat relevan untuk menyatukan langkah bersama dalam memperkuat ketahanan farmasi nasional, mengurangi ketergantungan impor bahan baku, serta mendorong daya saing global usaha farmasi Indonesia,” ujar Tirto.
Kolaborasi jadi penopang ketahanan obat
Tema “Merajut Kebersamaan untuk Usaha Farmasi yang Produktif, Efisien, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan” yang diangkat dalam acara di DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran menggambarkan kebutuhan akan kerja sama yang lebih erat di tengah situasi global yang kompleks. Pemerintah, BPOM, dan industri sama-sama dituntut menjaga pasokan agar tekanan harga tidak membebani masyarakat.
Sinergi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem kesehatan nasional yang lebih mandiri. Di tengah konflik global yang belum mereda, penguatan ketahanan farmasi dipandang penting agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas obat, mengurangi risiko gangguan pasokan, dan mempertahankan harga yang terjangkau.
Source: www.suara.com




