
Lima klub Liga Super India (ISL) menekan Federasi Sepak Bola Seluruh India (AIFF) agar tidak mengesahkan keputusan yang mengikat soal model hak komersial jangka panjang. Desakan itu muncul karena masa depan liga masih berada dalam ketidakpastian, sementara keputusan sponsor justru berpotensi mengunci arah kompetisi untuk belasan tahun ke depan.
Tekanan ini datang di tengah situasi yang sudah rapuh sejak musim sebelumnya terganggu perselisihan kontrak antara AIFF dan mitra dewan, Football Sports Development Limited (FSDL). Para klub menilai kondisi tersebut belum memberi kepastian finansial maupun struktur kompetisi yang jelas untuk musim berikutnya.
Kekhawatiran soal keputusan sponsor
Kelima klub itu menyampaikan sikap mereka lewat pernyataan bersama di Instagram. Mereka menyoroti kekecewaan atas kondisi sepak bola profesional di India dan membuka kemungkinan meninjau ulang komitmen mereka terhadap liga setelah musim berjalan saat ini.
Dalam pernyataan itu, klub-klub ISL mengatakan bahwa ketidakpastian yang terus berlanjut membuat mereka terpaksa mengevaluasi sejauh mana komitmen mereka terhadap liga ke depan. Mereka juga menegaskan bahwa klub-klub telah terus berinvestasi meski situasi operasional berjalan sulit.
Masalah utama mereka bukan hanya soal uang, tetapi juga soal kepastian struktur. Klub-klub itu menyebut kejelasan finansial dari pengelola liga masih belum tampak, sementara mereka diminta terus menjalankan operasi kompetitif dengan beban yang besar.
Tekanan pada AIFF makin besar
Kritik klub juga menyentuh lambannya respons otoritas sepak bola India dalam menata ekosistem liga yang banyak bergantung pada investor swasta. Mereka menilai pihak yang membangun, membiayai, mempromosikan, dan menopang liga justru tetap dibiarkan menghadapi ketidakpastian atas struktur yang harus mereka jalankan.
Dalam pernyataan yang sama, klub menegaskan bahwa sepak bola India seharusnya bisa berkembang jauh lebih besar. Namun, mereka menilai kondisi saat ini justru menunjukkan betapa para penyokong liga masih harus menghadapi ketidakpastian mendasar soal kerangka operasional.
Di tengah situasi itu, klub-klub mengajukan model alternatif yang mereka anggap lebih inklusif dan berkelanjutan. Mereka meminta AIFF menilai proposal itu secara setara dengan proposal lain yang masuk, bukan langsung mengunci keputusan pada satu arah saja.
Negosiasi kontrak ikut terdampak
Ketidakpastian ini sudah merembet ke urusan yang lebih praktis di lapangan. Proses negosiasi kontrak pemain dan staf pelatih untuk musim depan ikut terdampak karena klub belum mendapat gambaran yang cukup jelas soal arah liga.
Seorang CEO klub yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Hindustan Times bahwa para pemilik klub paham mustahil mencapai titik impas. Namun, mereka setidaknya ingin melihat tanda bahwa ada kepastian arah untuk masa depan liga.
Kondisi itu membuat beban operasional klub semakin berat. Saat struktur kompetisi belum jelas, keputusan untuk mempertahankan investasi dan komitmen jangka panjang menjadi jauh lebih sulit dijustifikasi.
Sorotan tertuju pada Genius Sports
Kekhawatiran klub juga menguat karena AIFF disebut condong memilih perusahaan asal Inggris, Genius Sports, untuk memegang hak komersial selama 15 hingga 20 tahun ke depan. Nilai tawarannya disebut mencapai Rp64,4 crore per tahun.
Melalui surat elektronik 13 poin kepada Presiden AIFF Kalyan Chaubey dan Wakil Sekretaris Jenderal M Satyanarayan, CEO FC Goa Ravi Puskur mewakili klub-klub meminta kesepakatan itu ditangguhkan. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada keputusan yang mengikat dalam Sidang Umum Khusus yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Dalam email itu, Ravi Puskur menulis bahwa klub-klub tetap bersedia melanjutkan pembicaraan dengan AIFF dan Genius Sports. Mereka ingin ada kerangka kerja yang kolaboratif, layak secara finansial, dan melindungi kepentingan semua pihak, terutama masa depan sepak bola India.
Hingga kini, agenda sidang umum AIFF dilaporkan masih sebatas diskusi dan pertimbangan karena ada kendala hukum tata negara. Situasi itu membuat keputusan soal masa depan sponsor komersial liga menjadi pusat perhatian, terutama bagi klub-klub yang bergantung pada kepastian struktur kompetisi untuk menjaga kelangsungan operasi mereka.





