Kepercayaan Eropa ke AS Anjlok, Solidaritas Regional Mulai Dianggap Lebih Aman

Kepercayaan publik Eropa terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu keamanan kini berada di titik rendah. Survei European Council on Foreign Relations (ECFR) menunjukkan hanya 11% warga di 15 negara Eropa yang masih memandang AS sebagai sekutu.

Perubahan ini bukan sekadar soal persepsi politik. Di banyak negara, warga justru lebih yakin pada kerja sama antarnegeri Eropa sebagai sandaran keamanan yang lebih dapat diandalkan.

AS Tak Lagi Jadi Pilihan Utama

Hasil survei ECFR memperlihatkan pergeseran sikap yang cukup tajam. Sebanyak 13% responden menyebut AS sebagai saingan, sementara 12% lainnya menganggapnya musuh langsung.

Angka yang menyebut AS sebagai sekutu juga terus melemah, dari 16% enam bulan sebelumnya dan turun jauh dari 22% pada November 2024. Ini menandakan penurunan kepercayaan yang berlangsung cepat dalam waktu relatif singkat.

Keyakinan pada Bantuan Washington Merosot

Keraguan terbesar muncul saat responden ditanya apakah AS akan membela negara mereka bila diserang. Mayoritas di hampir semua negara yang disurvei menjawab tidak yakin Washington akan turun tangan.

Polandia mencatat tingkat kepercayaan tertinggi, tetapi hanya 37% responden yang percaya AS akan membantu. Di bawahnya ada Inggris 35%, Belanda 32%, Prancis 29%, Italia 27%, Jerman 26%, Hungaria 25%, dan Portugal 25%.

Tingkat kepercayaan terhadap komitmen AS bahkan lebih rendah di sejumlah negara lain. Swedia hanya mencatat 21%, sedangkan Spanyol menjadi yang terendah dengan 12%.

Eropa Sendiri Dinilai Lebih Bisa Diandalkan

Saat kepercayaan pada AS menurun, keyakinan terhadap bantuan sesama negara Eropa justru lebih kuat. Di Denmark, hanya 20% responden percaya AS akan membantu, tetapi 88% yakin setidaknya ada beberapa negara Eropa yang akan turun tangan.

Pola serupa terlihat di Swedia. Hanya 21% warga yang percaya pada dukungan AS, sementara 81% meyakini negara-negara Eropa lain akan memberi bantuan jika krisis terjadi.

Data itu menunjukkan bahwa solidaritas regional semakin dipandang sebagai jaminan keamanan yang lebih masuk akal. Ketergantungan pada Washington tampak mulai bergeser ke kerja sama di dalam kawasan.

Sejumlah Isu Ikut Menggerus Kepercayaan

ECFR menyebut penurunan kepercayaan ini dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah operasi militer AS di Timur Tengah melalui Operasi Epic Fury, yang ikut memicu kekhawatiran atas arah kebijakan luar negeri Washington.

Faktor lain yang disebut mempercepat perubahan persepsi adalah ancaman terhadap Greenland, rencana penarikan pasukan AS dari sejumlah pangkalan militer di Eropa, serta meningkatnya keraguan terhadap masa depan NATO. Kombinasi isu itu membuat banyak warga Eropa bersikap lebih pragmatis soal keamanan kawasan.

Meski hubungan transatlantik sedang diuji, masih ada harapan perbaikan di masa depan. Di hampir semua negara yang disurvei, kecuali Bulgaria, mayoritas responden percaya hubungan Eropa dan AS akan membaik setelah Donald Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Dorongan untuk Mandiri di Bidang Pertahanan

Menurunnya kepercayaan pada AS juga diikuti dukungan yang lebih besar untuk kemandirian pertahanan Eropa. Mayoritas responden di hampir semua negara mendukung pengurangan ketergantungan pada perangkat keras militer buatan Amerika Serikat.

Dukungan tertinggi untuk pembelian produk pertahanan buatan Eropa tercatat di Denmark sebesar 75%. Setelah itu ada Belanda 72%, Swedia 70%, Portugal 69%, Prancis 66%, Swiss 64%, lalu Inggris dan Spanyol masing-masing 62%.

Survei ini juga menemukan rata-rata warga Eropa kini 4% lebih mungkin mendukung peningkatan anggaran pertahanan nasional dibandingkan tahun sebelumnya. Italia menjadi satu-satunya negara yang mayoritas warganya masih menolak kenaikan belanja pertahanan.

Dukungan untuk Pembiayaan Bersama Uni Eropa

ECFR mencatat 47% responden mendukung skema pinjaman kolektif Uni Eropa untuk membiayai peningkatan anggaran pertahanan, sementara 35% menolak. Dukungan terbesar datang dari Portugal 59%, disusul Denmark 56% dan Belanda 55%.

Spanyol juga termasuk negara yang menunjukkan dukungan tinggi terhadap pembiayaan bersama. Namun, ide pemotongan anggaran publik domestik demi pertahanan masih mendapat penolakan luas di banyak negara.

Penolakan terbesar terhadap pemotongan anggaran publik terlihat di Italia sebesar 63%, Austria 59%, Jerman 56%, Spanyol 54%, dan Denmark 52%. Data ini memperlihatkan bahwa publik Eropa memang makin ingin mandiri dalam pertahanan, tetapi tetap berhati-hati soal biaya yang harus ditanggung sendiri.

Source: www.beritasatu.com

Terkait