Kenapa Astronot Amerika Turun Di Laut, Sementara Rusia Memilih Tanah Keras

Perbedaan cara mendarat astronot Amerika dan Rusia berawal dari satu pertanyaan sederhana: di mana kapsul paling aman kembali ke Bumi setelah melaju sangat cepat dari orbit. Jawabannya ternyata tidak sama, karena NASA lebih sering memilih laut, sementara program antariksa Soviet dan Rusia bertahan dengan tanah keras.

Pilihan itu bukan soal kebiasaan semata. Setiap metode punya kompromi antara keselamatan, bobot wahana, biaya pemulihan, dan lokasi pendaratan yang tersedia.

Mengapa Amerika lebih sering memilih laut

Saat wahana pulang dari luar angkasa, kecepatannya masih sangat tinggi. Orion dalam misi Artemis II sempat mencapai Mach 35 dan masih bergerak sekitar 20 mph saat mendekati splashdown, cukup untuk merusak wahana atau melukai awak jika menghantam permukaan keras.

Parasut memang membantu memperlambat laju, tetapi belum cukup untuk membuat pendaratan darat menjadi ringan. Laut memberi bantalan besar dan toleransi kesalahan yang lebih luas, meski konsekuensinya biaya pemulihan menjadi lebih tinggi.

NASA harus menyiapkan kapal Angkatan Laut AS dan helikopter untuk mengevakuasi astronaut setelah kapsul jatuh ke air. Di sisi lain, ruang toleransi di laut jauh lebih besar dibanding daratan, yang bisa berbahaya jika kapsul melenceng sedikit saja dari lintasan.

Di darat, selisih beberapa derajat dapat mengubah lokasi pendaratan menjadi area yang tidak aman. Risiko itu mencakup gunung atau wilayah padat penduduk, sehingga splashdown dianggap lebih masuk akal untuk banyak misi berawak Amerika.

Kenapa Soviet dan Rusia memilih tanah keras

Bagi Soviet, faktor lokasi sangat menentukan. Sebagian besar garis pantai Rusia berada di wilayah Arktik yang berlapis es dan sering dihantam badai, sehingga pendaratan di air tidak terlalu cocok untuk misi berawak.

Kazakhstan lalu menjadi pilihan yang lebih praktis karena menyediakan dataran luas dan kosong. Area itu memberi ruang yang lebih aman bagi kapsul yang turun kembali dari luar angkasa.

Namun, daratan keras membuat pendaratan jauh lebih menantang. Parasut saja belum cukup untuk menghentikan Soyuz, jadi para insinyur Soviet menambahkan retroroket sebagai dorongan terakhir sebelum kapsul menyentuh tanah.

Sistem itu masih dipakai kosmonaut Rusia hingga kini. Setelah parasut terakhir terbuka, Soyuz melepaskan heat shield dan menyalakan enam retroroket sesaat sebelum touchdown, lalu memperlambat kapsul hingga sekitar 3 mph.

Biaya yang dibayar untuk pendaratan darat

Keunggulan pendaratan di tanah datang dengan harga teknis yang nyata. Retroroket dan bahan bakarnya menambah berat, padahal setiap kilogram tambahan butuh lebih banyak dorongan dan bahan bakar untuk lepas dari Bumi.

Konsekuensi itu juga terasa pada kapasitas. Soyuz hanya mampu membawa tiga orang, jauh di bawah Orion yang membawa empat astronaut mengelilingi Bulan, atau SpaceX Dragon yang dapat memuat hingga tujuh orang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Michael Lopez-Alegria dari NASA, yang dikutip Smithsonian Magazine, pernah menggambarkan sensasinya sebagai “serangkaian ledakan diikuti tabrakan mobil” setelah berbulan-bulan di ruang angkasa. Gambaran itu menunjukkan bahwa pendaratan di darat memang efektif, tetapi tidak selalu terasa lembut bagi penumpangnya.

Amerika tidak sepenuhnya menutup pintu untuk darat

Amerika sebenarnya pernah mencoba mengejar pendaratan darat. SpaceX sempat merencanakan Dragon memakai retroroket agar bisa mendarat “di mana saja di Bumi dengan akurasi helikopter,” tetapi NASA tidak ingin membayar riset dan pengembangan yang dibutuhkan.

Sebagai gantinya, Dragon tetap memakai pendaratan air dengan bantuan parasut, mirip pendekatan lama. Boeing mengambil jalur berbeda lewat Starliner, yang memakai kantong udara tiup di bawah kapsul agar dapat mendarat di beberapa lokasi di dalam AS tanpa mengandalkan laut.

Kantong itu diisi nitrogen dan oksigen, dengan lapisan dalam yang menyerupai ban. Setelah beberapa uji terbang yang berhasil, Starliner sempat mendarat aman di New Mexico pada September 2024, meski masalah mesin membuat astronautnya tidak bisa pulang bersama wahana itu.

Arah baru menuju wahana yang bisa dipakai ulang

Industri antariksa kini bergerak ke wahana yang bisa dipakai ulang. Space Shuttle pernah mencoba mewujudkan ide itu, tetapi biaya operasionalnya tetap terlalu tinggi untuk membuka era baru penerbangan antariksa.

SpaceX lalu menurunkan biaya lewat Falcon 9, yang mendarat sendiri di drone barge untuk dipulihkan. Namun, itu baru booster-nya saja, sementara tahap atasnya masih dibuang.

Starship sedang dikembangkan agar booster dan tahap atasnya sama-sama bisa kembali ke landasan dan ditangkap lengan “chopstick” di menara peluncuran. Booster-nya sudah berhasil melakukan itu, dan jika tahap atasnya kelak bisa pulang dengan aman, pendaratan astronaut di darat mungkin akan menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal daripada harus mengapung di laut selama berjam-jam.

Exit mobile version