Kementerian Kebudayaan membuka peluang baru bagi sineas yang ingin menggarap film bertema perjuangan. Lewat Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Tahun 2026, pemerintah menyiapkan pendanaan sekaligus pendampingan untuk karya yang mengangkat sejarah bangsa ke layar lebar maupun layar pendek.
Program ini muncul di tengah minimnya produksi film kepahlawanan dan film sejarah dibanding genre lain. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai drama, aksi, dan horor sudah punya pasar yang lebih kuat, sementara film bernuansa sejarah masih memerlukan afirmasi khusus agar bisa tumbuh lebih luas.
Fokus pada ingatan dan kebangsaan
Fadli Zon menekankan bahwa film merupakan medium yang efektif untuk menyampaikan edukasi sejarah. Selain itu, film juga bisa menanamkan nilai perjuangan, patriotisme, pengorbanan, dan semangat para pahlawan kepada penonton.
Di saat yang sama, film sejarah tidak selalu punya skala ekonomi yang menjanjikan. Meski ada sebagian judul yang berhasil secara komersial, Kementerian Kebudayaan tetap menempatkan dukungan pada narasi kepahlawanan sebagai bagian dari penguatan industri perfilman nasional.
Sayembara dibuka untuk film panjang dan pendek
Program ini mengusung tema “Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945–1950 dalam Sinema Kontemporer”. Skemanya berbentuk sayembara yang terbuka bagi sineas untuk mengembangkan karya bertema sejarah perjuangan bangsa.
| Kategori | Durasi | Fokus |
|---|---|---|
| Film panjang | Minimal 75 menit | Tokoh, peristiwa, atau dinamika sosial masa mempertahankan kemerdekaan |
| Film pendek | 15–30 menit | Peristiwa sejarah yang sudah ditetapkan sebagai titik awal cerita |
Untuk kategori film panjang, peserta diberi keleluasaan mengangkat tokoh, peristiwa, atau dinamika sosial pada masa mempertahankan kemerdekaan. Pendekatannya juga bisa beragam, selama tetap berada dalam koridor narasi kepahlawanan.
Kategori film pendek punya fokus yang lebih spesifik karena diarahkan pada peristiwa sejarah tertentu. Daftar itu mencakup Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya 10 November, Agresi Militer Belanda, Gerilya Jenderal Soedirman, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau PDRI, serta perjuangan diplomasi dan ekonomi pada masa awal Republik Indonesia.
Pendanaan disertai pendampingan produksi
Kemenbud tidak hanya menawarkan dana, tetapi juga pendampingan menyeluruh bagi peserta yang lolos. Bantuan itu mencakup penyempurnaan skenario, konsultasi dengan sejarawan dan budayawan, hingga pendampingan proses produksi oleh para profesional di industri film.
Soal pendanaan, pemerintah menyebut nominalnya akan berbeda untuk film panjang, film pendek, dan film dokumenter sesuai kebutuhan produksi. Seluruh informasi terkait pendanaan akan ditampilkan secara terbuka melalui situs resmi agar publik bisa mengetahuinya.
Target program ini adalah melahirkan sekitar 20 film pendek dan 10 film panjang. Pendaftaran sayembara akan ditutup pada 10 Agustus 2026, lalu naskah terpilih dijadwalkan masuk tahap pengembangan pada Agustus–September 2026 sebelum berlanjut ke produksi pada akhir tahun.
