
Kejurda Finswimming Jawa Timur 2026 di Kolam Renang Veteran Lumajang memang sudah selesai, tetapi dampaknya masih terasa jauh setelah air kolam kembali tenang. Ajang ini memperlihatkan bahwa bagi banyak atlet muda, lomba tersebut bukan penutup perjalanan, melainkan awal untuk mengejar level yang lebih tinggi.
Selama tiga hari, 654 atlet dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur turun bertanding dalam suasana yang padat emosi dan persaingan ketat. Di lintasan, ada yang mengejar medali, ada yang memburu catatan waktu terbaik, dan ada pula yang baru pertama kali berani tampil di level provinsi.
Lintasan yang Menuntut Kecepatan dan Kendali
Begitu start dilepas, air langsung terbelah oleh laju atlet yang meluncur dengan monofin dan bifin. Sorakan tribun berpadu dengan instruksi pelatih dari sisi kolam, sementara selisih sepersekian detik bisa menentukan posisi podium.
Nomor surface, bifin, estafet, hingga apnea menjadi pusat perhatian sepanjang kejuaraan. Pada nomor apnea, suasana bahkan kerap berubah hening karena atlet meluncur dari start hingga finis tanpa mengambil udara.
Ketua Umum POSSI Jawa Timur Mirza Muttaqien menegaskan bahwa tantangan apnea tidak hanya terletak pada fisik. Ia menyebut nomor itu juga menguji mental, fokus, dan keberanian atlet.
Medali Bukan Satu-Satunya Cerita
Kejurda ini tidak hanya menghadirkan perebutan podium. Di tribun, para orang tua sibuk merekam momen anak-anak mereka, sementara banyak pelatih langsung memeluk atletnya setelah lomba usai.
Ada juga atlet muda yang tak kuasa menahan air mata setelah menyelesaikan perlombaan. Suasana seperti itu menjadi warna kuat selama tiga hari penyelenggaraan di Lumajang.
Mirza menyebut tidak semua peserta pulang membawa medali, tetapi semuanya membawa cerita. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembinaan atlet ikut hidup di balik kerasnya persaingan.
Persaingan Jawa Timur Makin Merata
Sebanyak 144 nomor pertandingan digelar, mulai dari kelompok usia dini hingga senior. Di klasemen akhir, Kota Surabaya keluar sebagai juara umum dengan raihan 34 emas, 40 perak, dan 33 perunggu.
Posisi berikutnya ditempati Kota Kediri dan Kabupaten Pasuruan, sementara Kabupaten Malang dan Kabupaten Nganjuk melengkapi lima besar. Hasil ini menunjukkan persaingan finswimming Jawa Timur semakin merata dan tidak lagi hanya didominasi kota besar.
Menurut Mirza, Kejurda menjadi bagian penting dalam pembinaan atlet jangka panjang di Jawa Timur. Ia menilai atlet daerah perlu mendapat panggung yang sama untuk berkembang dan bermimpi lebih jauh.
Lumajang Ikut Menerima Dampaknya
Di luar arena, Lumajang ikut merasakan denyut kegiatan besar ini. Kehadiran atlet, pelatih, official, wasit, juri, dan keluarga membuat hotel serta penginapan ramai, warung makan penuh, dan aktivitas di sekitar venue meningkat sejak pagi hingga malam.
Dari arena inilah banyak nama muda mulai dikenal, meski perjalanan mereka masih panjang. Kejurda Finswimming Jawa Timur 2026 sudah berakhir, tetapi bagi para atlet muda yang bertanding di Lumajang, mimpi mereka baru mulai berenang lebih jauh.
Source: konijawatimur.co




