5 Kebiasaan Sepele yang Diam-Diam Bisa Menurunkan Fungsi Otak, Banyak Masih Dilakukan

Fungsi otak tidak hanya dipengaruhi usia atau penyakit, tetapi juga kebiasaan harian yang terlihat biasa. Sejumlah rutinitas yang sering dianggap normal ternyata bisa mengganggu kemampuan berpikir, mengingat, dan mengatur emosi.

Yang membuatnya perlu diwaspadai, dampaknya muncul perlahan dan kerap tidak terasa di awal. Beberapa kebiasaan ini bahkan sangat dekat dengan pola hidup modern, mulai dari terlalu lama duduk hingga kurang tidur.

1. Terlalu Lama Duduk

Banyak orang duduk berjam-jam saat bekerja, belajar, atau menatap layar. Rata-rata orang dewasa bahkan duduk sekitar enam setengah jam setiap hari.

Sebuah studi tahun 2018 dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa terlalu banyak duduk berkaitan dengan perubahan pada medial temporal lobe atau MTL, area otak yang penting untuk pembentukan memori. Peneliti juga mencatat bahwa orang yang duduk paling lama memiliki bagian MTL yang lebih tipis.

Rudolph Tanzi dari Harvard-affiliated Massachusetts General Hospital menyarankan untuk mulai bergerak setelah duduk 15 sampai 30 menit. Gerakan ringan seperti berjalan keliling rumah atau stretching bisa membantu otak tetap aktif.

KebiasaanTemuan PentingDampak yang Disebutkan
Terlalu Lama DudukBerkaitan dengan perubahan pada MTLBisa terkait penurunan kognitif dan risiko demensia
Jarang BersosialisasiKurang aktif secara sosial dikaitkan dengan penurunan materi abu-abu lebih cepatBerpotensi mempercepat penurunan kemampuan berpikir
Kurang TidurTidur kurang dari 7 jam dikaitkan dengan penurunan kognitifMengganggu kemampuan mengingat, bernalar, dan memecahkan masalah
Stres BerkepanjanganDapat merusak sel otak dan mengecilkan prefrontal cortexBerpengaruh pada belajar, memori, dan kejernihan berpikir

2. Jarang Bersosialisasi

Terbiasa sendiri tidak selalu menjadi masalah, tetapi terlalu jarang berinteraksi dengan orang lain dapat berdampak pada kesehatan mental dan fungsi otak. Kesepian dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi.

Penelitian dalam The Journals of Gerontology: Series B pada 2021 menemukan bahwa orang yang kurang aktif secara sosial mengalami penurunan materi abu-abu otak lebih cepat. Bagian ini berperan memproses berbagai informasi penting yang diterima tubuh setiap hari.

Tanzi menegaskan bahwa interaksi yang bermakna tidak harus banyak. “Kamu tidak perlu punya banyak teman, cukup dua atau tiga orang yang benar-benar bisa diajak berbagi,” ujarnya.

3. Kurang Tidur

Tidur bukan hanya soal istirahat tubuh, tetapi juga waktu bagi otak untuk memulihkan diri. Data CDC menyebut sekitar sepertiga orang dewasa belum mendapatkan tidur ideal tujuh sampai delapan jam setiap malam.

Penelitian dalam jurnal Sleep tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan kognitif seperti mengingat, bernalar, dan memecahkan masalah menurun ketika seseorang tidur kurang dari tujuh jam. Karena itu, kebiasaan begadang sebaiknya tidak dianggap sepele.

Tanzi menyarankan fokus pada tidur lebih awal, bukan memaksa tidur lebih lama. Jika sulit tidur, membaca buku bisa menjadi cara sederhana untuk membantu pikiran lebih rileks.

4. Stres Berkepanjangan

Setiap orang bisa mengalami stres, tetapi tekanan yang berlangsung terus-menerus dan tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi kesehatan otak. Stres kronis disebut bisa merusak sel otak dan mengecilkan prefrontal cortex, bagian yang berkaitan dengan belajar dan memori.

Rudolph Tanzi juga menjelaskan bahwa pola pikir yang terlalu memaksakan segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginan dapat memperbesar tekanan emosional. Saat emosi mulai meningkat, menarik napas dalam dan menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna bisa membantu menurunkan beban mental.

Hal-hal kecil yang terlihat biasa ternyata bisa menjadi ancaman bagi kesehatan otak jika berlangsung terus-menerus. Mengevaluasi rutinitas harian menjadi langkah penting agar fungsi otak tetap terjaga lebih lama.

Terkait