Kas Rp30,3 triliun menjadi bantalan terbesar ICBP saat memasuki kuartal I 2026. Namun, kekuatan likuiditas itu belum cukup untuk mencegah laba perusahaan turun 3 persen di tengah tekanan nilai tukar dan kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Di saat penjualan masih tumbuh, kinerja bawah garis justru melemah. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,57 triliun, lebih rendah dari periode sebelumnya.
Penjualan tetap naik, tetapi margin tertekan
ICBP mencatat penjualan neto konsolidasi sebesar Rp21,72 triliun, naik 8 persen secara tahunan dari Rp20,19 triliun. Kenaikan ini menunjukkan permintaan masih bertahan, terutama dari lini bisnis utamanya.
Segmen Mi Instan masih menjadi sumber pendapatan terbesar. Kontribusinya mencapai Rp16,13 triliun atau sekitar 74 persen dari total penjualan, dengan Indomie tetap menjadi penggerak paling kuat.
Meski pendapatan meningkat, laba usaha tidak ikut naik. Laba usaha justru turun 10 persen menjadi Rp4,62 triliun akibat selisih kurs pada aktivitas operasional.
Tekanan kurs dan beban usaha ikut membayangi
Fluktuasi nilai tukar menjadi salah satu faktor paling menekan kinerja ICBP pada periode ini. Kondisi itu ikut menambah beban keuangan dan menekan margin laba di tengah pertumbuhan penjualan yang masih positif.
Perusahaan juga mencatat kenaikan piutang usaha dari Rp9,8 triliun menjadi Rp11,8 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan volume penjualan yang lebih besar selama kuartal berjalan.
Di sisi distribusi, sekitar 52 persen penyaluran produk pada kuartal pertama dilakukan melalui PT Indomarco Adi Prima. Pola ini dipakai untuk menjaga efisiensi pasokan ke pasar domestik.
Kas besar jadi penopang strategi ke depan
Posisi kas dan setara kas yang mencapai Rp30,3 triliun memberi ruang napas bagi perusahaan di tengah volatilitas pasar. Dana itu menjadi salah satu penopang penting untuk menjaga daya tahan bisnis saat tekanan eksternal masih tinggi.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer ICBP Anthoni Salim menegaskan fokus perseroan tetap pada efisiensi dan penguatan daya saing. Ia menyebut perusahaan memulai tahun ini dengan hasil kinerja yang positif di tengah tantangan eksternal.
ICBP juga menyiapkan ekspansi ke segmen makanan bernutrisi dan solusi penyedap makanan. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat prospek jangka menengah sekaligus menjaga mesin pertumbuhan di luar bisnis utama.
Perusahaan turut memantau harga bahan baku dan pergerakan dolar AS secara ketat. Pengawasan itu dipakai untuk menjaga arus kas tetap terlindungi di tengah volatilitas yang masih tinggi.







