Karies gigi anak menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada peserta usia sekolah dan remaja. Kondisi ini dialami lebih dari 40% peserta, melampaui anemia, tekanan darah meningkat, hingga persoalan status gizi.
Angka tersebut menunjukkan masalah kesehatan anak tidak bisa hanya dilihat dari infeksi atau kekurangan gizi. Pemeriksaan juga menemukan risiko yang makin beragam seiring anak memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi, termasuk gangguan kesehatan mental dan penyakit tidak menular.
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta orang telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis. Capaian itu disebut telah melampaui target mingguan yang disiapkan pemerintah.
Masalah Gigi Tetap Dominan di Usia Sekolah
Pada kelompok anak SD, karies menjadi temuan utama, diikuti tekanan darah meningkat, gangguan gizi, serta masalah pendengaran dan penglihatan. Saat memasuki SMP, gangguan gigi masih mendominasi, tetapi kecemasan dan depresi mulai ikut menjadi perhatian.
Pola serupa juga terlihat pada siswa SMA, dengan karies sebagai persoalan yang paling banyak ditemukan. Kelompok ini turut menghadapi risiko tekanan darah meningkat, gangguan kesehatan mental, tuberkulosis, serta gizi kurang maupun obesitas.
| Kelompok Usia | Temuan Utama | Risiko Lain yang Ditemukan |
|---|---|---|
| Anak SD | Karies gigi | Tekanan darah meningkat, gangguan gizi, pendengaran, dan penglihatan |
| Anak SMP | Masalah kesehatan gigi | Kecemasan, depresi, risiko TB, tekanan darah, dan gizi |
| Anak SMA | Karies gigi | Tekanan darah, kesehatan mental, risiko TB, dan gizi |
Data yang dikutip Bisnis.com juga mencatat anemia dialami 27% anak sekolah dan remaja yang diperiksa. Peningkatan tekanan darah ditemukan pada 21% peserta, sementara penumpukan kotoran telinga serta gizi lebih dan obesitas masing-masing tercatat sebesar 7%.
Gizi Lebih dan Gizi Kurang Berjalan Bersamaan
Temuan CKG memperlihatkan persoalan kesehatan anak kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kekurangan asupan. Proporsi gizi lebih dan obesitas disebut makin mendekati angka gizi kurang.
Kondisi tersebut menggambarkan double burden of malnutrition, ketika gizi kurang dan gizi lebih muncul secara bersamaan. Data menurut kelompok usia dinilai penting agar intervensi kesehatan dapat disusun lebih sesuai kebutuhan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan data CKG membantu pemerintah membedakan kebutuhan anak SD, SMP, dan SMA. “Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” lanjutnya.
Skrining Bayi Menemukan Indikasi Kelainan Jantung
Risiko kesehatan juga sudah terlihat sejak masa bayi baru lahir. Dari enam jenis skrining yang dilakukan, penyakit jantung bawaan kritis menjadi kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi.
Pemeriksaan dilakukan melalui pulse oximetry untuk mendeteksi indikasi kelainan yang membutuhkan tindak lanjut. Sampai 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining tersebut.
Sekitar 4,3% atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan dan memerlukan pemeriksaan lanjutan. Temuan ini menempatkan deteksi dini sebagai langkah penting sebelum gangguan berkembang lebih jauh.
CKG Mulai Memantau Pengobatan Penyakit Kronis
Sejak 2026, CKG memasuki tahap tatalaksana bagi peserta yang didiagnosis menderita penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes. Tahap ini menekankan bahwa hasil skrining perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan rutin serta pengendalian kondisi pasien.
| Kondisi | Pasien Kembali Periksa | Kondisi Terkendali |
|---|---|---|
| Hipertensi | 35,4% | 46,9% |
| Diabetes melitus | 33,1% | 69,4% |
Pemerintah menargetkan sedikitnya 50% penderita yang ditemukan melalui CKG menjalani pengobatan rutin pada tahun ini. Sebanyak 50% dari kelompok yang diobati juga ditargetkan mampu mencapai kondisi terkendali.
Budi Gunadi Sadikin menilai pengendalian hipertensi dan diabetes dapat membantu menurunkan kematian akibat penyakit jantung dan stroke. Pemerintah akan memperluas cakupan CKG sekaligus memperkuat tindak lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan primer dengan target 130 juta peserta pada akhir 2026.
Source: lifestyle.bisnis.com






