Jembatan akar hidup di Meghalaya, India, menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki jembatan biasa: ia tumbuh, menguat, dan bisa bertahan sangat lama. Struktur bernama Jingkieng Jri itu dibentuk dari akar pohon hidup, bukan dari semen, baja, atau kayu tebal.
Di wilayah hutan tropis yang basah dan terjal, jembatan seperti ini menjadi jawaban praktis sekaligus cerdas bagi masyarakat adat Khasi. Mereka memanfaatkan kekuatan alam untuk membangun penghubung antartebing yang sanggup menghadapi sungai deras dan hujan ekstrem.
1. Dibuat dari pohon yang tepat
Jingkieng Jri bergantung pada pohon beringin karet atau Ficus elastica yang tumbuh subur di tepi sungai Meghalaya. Pohon ini menghasilkan banyak akar udara dari batang atasnya, lalu akar-akar muda itu diarahkan agar menyebrang ke sisi lain.
Masyarakat Khasi memakai bambu atau batang pinang yang dilubangi sebagai pemandu tumbuh. Akar yang masih lentur kemudian ditarik dan dijalin sampai membentuk rangka jembatan hidup.
2. Tidak jadi dalam hitungan bulan
Proses pembentukannya berlangsung sangat lama, rata-rata 10 hingga 15 tahun sebelum jembatan siap digunakan. Selama masa itu, akar kecil terus memanjang sampai menembus tanah di seberang sungai.
Begitu akar mencengkeram tanah dengan kuat, struktur tersebut perlahan mengeras dan mulai dinilai stabil untuk dilewati manusia.
3. Semakin tua, semakin kuat
Berbeda dari jembatan beton atau besi yang bisa melemah seiring waktu, Jingkieng Jri justru makin kokoh saat usianya bertambah. Akar yang saling bergesekan mengalami fusi alami atau inosculation, yaitu penyatuan bagian akar menjadi satu kesatuan yang lebih besar.
Proses itu membuat diameter akar terus menebal dan sistem ikatannya makin masif. Jembatan akar yang matang bahkan terbukti mampu menahan beban hingga 50 orang dewasa sekaligus.
| Fakta Utama | Detail |
|---|---|
| Jenis pohon | Beringin karet (Ficus elastica) |
| Waktu pembentukan | 10 hingga 15 tahun |
| Kekuatan beban | Hingga 50 orang dewasa |
| Umur beberapa jembatan terkenal | Lebih dari 180 tahun |
4. Tahan di salah satu wilayah paling basah di Bumi
Meghalaya, terutama kawasan Cherrapunji dan Mawsynram, dikenal sebagai tempat paling basah di Bumi dengan curah hujan tahunan ekstrem. Dalam kondisi seperti itu, kayu biasa cepat lapuk dan besi mudah berkarat.
Jingkieng Jri tetap bertahan karena strukturnya masih hidup secara biologis. Sirkulasi air dan nutrisi di dalam xilem dan floem terus berjalan, sehingga jembatan punya daya tahan alami terhadap pembusukan saat hujan turun tanpa henti.
5. Bisa bertahan ratusan tahun
Sifat hidup dan adaptif membuat jembatan ini memiliki kemampuan self-healing atau memperbarui sel yang rusak secara mandiri. Selama dirawat komunitas adat, umur fungsionalnya dapat berlangsung sangat lama.
Melansir laman resmi Meghalaya, beberapa jembatan akar hidup yang terkenal, termasuk Double Decker Root Bridge di Umshiang, diperkirakan sudah berusia lebih dari 180 tahun dan masih berfungsi baik. Hal itu menunjukkan bio-arsitektur bisa menjadi solusi jangka panjang yang selaras dengan hutan di sekitarnya.
Source: www.idntimes.com






