Jejak Tabrakan Planet Raksasa di Gaia20ehk Terbaca dari Debu Panas yang Menguat

Author: Cung Media

Para astronom menemukan tanda langka yang diduga berasal dari tabrakan hebat dua planet muda di sistem bintang Gaia20ehk, yang berjarak sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi. Temuan ini muncul setelah perubahan cahaya bintang itu terlihat tidak wajar dan tidak cocok dengan perilaku bintang seperti Matahari.

Pola yang paling mencolok justru datang dari kontras pengamatan. Di cahaya tampak, Gaia20ehk semakin redup dan tak menentu, sementara di inframerah justru menunjukkan penguatan yang konsisten.

Debu Hangat yang Terbentuk Baru

Perubahan berlawanan itu mengarah pada keberadaan debu circumstellar yang baru terbentuk. Debu tersebut diperkirakan masih hangat, dengan suhu sekitar 627 derajat Celsius, dan memiliki massa konservatif sekitar 400 kuintiliun kilogram.

Para peneliti menilai ada banyak debu dan puing berbatu yang melintas di depan bintang ketika material itu mengorbit sistem. Material ini kemungkinan besar berasal dari tabrakan baru-baru ini antara planetesimal besar, yaitu benda mirip planet purba yang dapat berkembang menjadi planet berukuran penuh.

Petunjuk dari Orbit dan Letaknya

Awan debu itu berada pada jarak sekitar 1,1 unit astronomi dari bintang, setara jarak Bumi ke Matahari. Letak ini membuat peristiwa tersebut sangat penting untuk memahami bagaimana planet berbatu terbentuk di sistem muda.

Dalam sistem tata surya muda, benda-benda yang sedang tumbuh memang bisa saling bertabrakan, bergabung, hancur, atau terdorong ke orbit lain. Ilmuwan menyebut tabrakan seperti ini bisa menyerupai proses besar yang ikut membentuk Bulan sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Kenapa Temuan Ini Jarang Tertangkap

Pengamatan langsung atas proses seperti ini sangat sulit. Dibutuhkan geometri yang tepat agar puing-puing lewat di antara bintang dan Bumi, sehingga kesempatan menangkap peristiwa serupa termasuk sangat langka.

Tim peneliti juga sempat mempertimbangkan penjelasan lain, termasuk kehancuran komet dan gangguan pasang surut. Namun, mereka menyimpulkan bahwa sisa tabrakan planetesimal paling cocok menjelaskan seluruh bukti yang tersedia.

Pemantauan lanjutan dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb diharapkan dapat memberi ukuran lebih akurat atas suhu dan komposisi debu hangat itu. Studi yang dikerjakan Tzanidakis dan James R. A. Davenport telah diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters pada 11 Maret 2026, dan temuan ini membuka jendela baru untuk memahami tahap awal pembentukan planet berbatu.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru