Jejak Baru di Yerusalem Kuno, Kronologi Kehancuran Babilonia Makin Kuat

Author: Cung Media

Temuan baru dari Yerusalem kuno memberi lapisan bukti yang makin sulit diabaikan dalam memahami kehancuran kota itu oleh Babilonia. Peneliti yang mengkaji kronologi Zaman Besi menyebut hasil penanggalan terbaru mereka selaras dengan peristiwa besar yang selama ini dikenal dari catatan sejarah dan Alkitab.

Studi berjudul Radiocarbon Chronology of Iron Age Jerusalem Reveals Calibration Offsets and Architectural Developments itu memadukan radiokarbon, pengukuran radiokarbon atmosfer, dan cincin pohon untuk menyusun ulang urutan peristiwa di Yerusalem. Pendekatan ini dipakai untuk memperjelas sejarah perkotaan di kota kuno yang terus dibangun ulang dari waktu ke waktu.

Penanggalan yang rumit di wilayah Hallstatt

Proses penentuan umur temuan di Yerusalem tidak sederhana karena data radiokarbon di wilayah itu terdampak kondisi dataran tinggi Hallstatt. Campuran pengaruh sinar kosmik dan atmosfer membuat hasil radiokarbon tidak langsung bisa diterjemahkan menjadi usia spesifik.

Untuk mengatasi hal itu, tim melakukan lebih dari 100 pengukuran radiokarbon pada bahan organik. Sampel-sampel itu kemudian diperiksa ulang lewat pendekatan yang disebut arkeologi mikro, termasuk pada lapisan sedimen yang terkait dengan biji-bijian.

Hasilnya diverifikasi lagi menggunakan pengukuran radiokarbon atmosfer dari cincin pertumbuhan pohon yang tumbuh antara tahun 624 dan 572 SM. Menurut Elisabetta Boaretto dari Scientific Archeology Unit Weizmann, bukti arkeologi di Yerusalem memang tersebar, tetapi kronologi Zaman Besi tetap bisa disusun.

Jejak kehancuran Babilonia di Kota Daud

Para peneliti meneliti 103 sampel biji dan sisa organik lain dari lima situs di kawasan Kota Daud, di selatan Temple Mount. Dari kumpulan data itu, mereka menetapkan kronologi yang memanfaatkan bukti kehancuran Babilonia pada 586 SM sebagai penanda penting.

Penanggalan baru tersebut mendukung sejumlah peristiwa utama yang disebut dalam Alkitab, mulai dari pemukiman kota, gempa bumi besar, hingga penghancuran Yerusalem oleh bangsa Babilonia. Studi itu juga menyebut akhir periode pemukiman ditandai kebakaran besar yang diidentifikasi sebagai kehancuran Babilonia pada 586 SM.

Urutan peristiwa itu dinilai sejalan dengan penjelasan dalam Alkitab dan catatan Neo-Babilonia. Boaretto mengatakan gabungan konstruksi berlapis dan tantangan dari dataran tinggi Hallstatt akhirnya bisa diatasi untuk menyusun kronologi Zaman Besi yang lebih rapi.

Masih ada perdebatan di kalangan ahli

Meski hasilnya dianggap penting, tidak semua arkeolog langsung menerima kesimpulan tersebut. Israel Finkelstein, profesor Universitas Tel Aviv yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai banyak sampel berasal dari konteks arkeologi yang kurang ideal.

Ia juga menyoroti bahwa hanya satu dari lima situs sejarah yang dianggap benar-benar dapat diandalkan. Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa pembacaan atas kota-kota kuno tetap membutuhkan kehati-hatian, terutama ketika bukti fisik harus dipadukan dengan teks sejarah.

Namun, studi ini tetap menambah dasar pembahasan baru tentang kapan Yerusalem kuno berkembang dan kapan kehancuran besar itu terjadi. Bagi kajian sejarah Timur Dekat kuno, penanggalan yang lebih rapat seperti ini menjadi kunci untuk membaca ulang banyak peristiwa penting yang selama ini diperdebatkan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru