
BMKG memprediksi cuaca Jawa Tengah dan sekitarnya pada Minggu, 10 Mei 2026, didominasi berawan hingga udara kabur. Kondisi ini paling terasa pada pagi hari, saat jarak pandang dapat menurun di sejumlah titik strategis.
Situasi tersebut muncul ketika kemarau mulai menguat di wilayah itu. Warga yang beraktivitas di jalan, terutama di jalur perbukitan dan dataran tinggi, diminta lebih waspada terhadap kabut atau asap tipis yang dapat mengganggu pandangan.
Udara kabur lebih mungkin muncul pada pagi hari
BMKG menjelaskan, udara kabur muncul ketika partikel kering melayang di atmosfer saat curah hujan mulai berkurang. Saat hujan tidak cukup untuk membasuh polutan, kualitas udara pagi hari bisa terasa lebih rendah.
Kondisi ini juga memunculkan perhatian pada risiko iritasi pernapasan. Karena itu, penggunaan masker disarankan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari.
Variasi cuaca terlihat di sejumlah wilayah
Di wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan sekitarnya, suhu diperkirakan bervariasi cukup signifikan. Semarang dan daerah sekitarnya diprediksi tetap cerah berawan, sementara kawasan dataran tinggi berpeluang mengalami penurunan jarak pandang.
Data titik pantau di wilayah sekitar Jawa Tengah menunjukkan perbedaan cuaca yang cukup jelas. Kulon Progo diprakirakan berawan, Bantul dan Gunungkidul berpotensi mengalami udara kabur, sementara Kota Yogyakarta cerah berawan dan Sleman berawan.
Rentang suhu dan kelembapan ikut berubah
Untuk Kulon Progo, suhu diperkirakan berada pada kisaran 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 66–98 persen. Bantul diprediksi memiliki suhu 22 hingga 32 derajat Celsius dan kelembapan 63–99 persen.
Gunungkidul diprakirakan berada pada suhu 22 hingga 31 derajat Celsius dengan kondisi asap atau udara kabur. Kota Yogyakarta diprediksi 23 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan 57–98 persen, sedangkan Sleman berada pada rentang 23 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 59–97 persen.
Kemarau mulai merata di Jawa Tengah
Prakiraan awal Mei ini sejalan dengan pola musim kemarau yang mulai meluas di Jawa Tengah. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat sekitar 52 persen wilayah provinsi sudah memasuki musim kemarau penuh pada periode Mei.
BMKG juga menyebut iklim 2026 diperkirakan berada pada kondisi normal, tanpa pengaruh kuat La Nina maupun El Nino. Dalam pola seperti ini, durasi kemarau rata-rata di wilayah tersebut berlangsung 4 hingga 5 bulan, meski di beberapa daerah bisa mencapai 7 bulan.
Dampak mulai dirasakan sektor pertanian
Kondisi kemarau yang makin merata ikut berdampak pada ketersediaan air irigasi. Petani di Jawa Tengah bagian tengah dan timur diminta mewaspadai penurunan suplai air, terutama saat musim kering semakin menguat.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mulai menyimpan cadangan air dan memakai air bersih secara efisien. Sekitar 28 persen wilayah disebut baru akan memasuki musim kemarau pada Juni, sehingga tingkat kekeringan tidak akan sama di setiap kabupaten dan kota.
Warga juga disarankan mengurangi pembakaran sampah di lahan terbuka karena dapat memperburuk polusi udara kabur. Selain itu, hidrasi tubuh perlu dijaga karena suhu udara dapat mencapai 32 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi pada beberapa wilayah.
Source: www.babelinsight.id




