Jawa Tengah Kejar Regenerasi Petani, 630 Ribu Milenial Disiapkan Jaga Pangan dari Krisis Tenaga Kerja

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat regenerasi petani dengan menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Langkah ini juga didorong oleh kebutuhan tenaga kerja baru di sektor pertanian yang selama ini masih didominasi petani senior.

Di saat yang sama, pemerintah mengarahkan penggunaan teknologi pertanian agar proses budidaya lebih efisien dan produktif. Fokus itu muncul karena keberlanjutan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Milenial Diposisikan Jadi Penggerak Baru

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menilai alumni pelatihan dan petani muda punya peran penting untuk menarik minat generasi baru ke sektor agraris. Ia menegaskan bahwa kontribusi mereka tidak boleh dipahami sebagai kegiatan seremonial semata.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di lapangan,” ujar Sumarno saat menghadiri agenda di Agro Center Soropadan, Temanggung, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga membuat anak muda mau turun langsung ke pertanian.

Sumarno menyebut Jawa Tengah memiliki sekitar 630 ribu petani milenial. Jumlah itu diharapkan dapat menjadi tulang punggung baru untuk menggantikan peran petani senior yang saat ini banyak berada pada usia 40 hingga 60 tahun.

Ia menilai regenerasi menjadi syarat penting agar pertanian tetap berjalan dengan dukungan SDM yang lebih akrab dengan teknologi. Dengan karakter itu, budidaya dapat berlangsung lebih efisien tanpa terlalu bergantung pada pola kerja lama.

Lahan Produktif Jadi Titik Tekan Kebijakan

Selain mendorong lahirnya petani muda, pemerintah provinsi juga memberi perhatian pada perlindungan lahan pertanian produktif. Salah satu langkah yang ditempuh adalah revisi Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW untuk menekan alih fungsi lahan.

Pemprov Jawa Tengah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota agar kawasan pangan mendapat perlindungan yang lebih ketat. Sumarno menyampaikan bahwa proses ini penting agar lahan pertanian tetap tersedia untuk produksi dalam jangka panjang.

“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi,” ujarnya. Upaya tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani dinilai tidak akan optimal jika ruang produksinya terus menyusut.

Karena itu, perlindungan tata ruang ditempatkan sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan daerah. Pendekatan ini dirancang agar peningkatan jumlah petani muda dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan lahan yang mereka garap.

Jaringan Petani Muda Terus Diperluas

Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, mengatakan bahwa kolaborasi lintas daerah terus diperkuat melalui 300 penyuluh dan 300 Duta Petani Milenial. Ia juga menyebut jaringan petani muda di Jawa Tengah tumbuh hampir 35 ribu orang sejak 2019.

Rayndra berharap gerakan ini memberi dampak yang lebih luas, bukan hanya untuk Jawa Tengah tetapi juga secara nasional. Menurut dia, petani muda perlu ruang untuk belajar, berbagi praktik, dan memperluas pengaruh positif di lapangan.

Ia juga menyoroti stigma negatif yang masih melekat pada profesi petani di kalangan anak muda. Rayndra menilai citra itu perlu diubah karena sektor pertanian sebenarnya memiliki potensi modern jika dikelola dengan pendekatan baru.

“Kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu,” katanya. Dorongan perubahan citra ini menjadi penting karena minat generasi muda ke pertanian tidak cukup dibangun lewat program teknis saja.

Target Produksi Tetap Dikejar

Dari sisi teknis produksi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, memaparkan target luas tanam padi tahun 2026 yang mencapai 2,38 juta hektare. Saat ini, penambahan luas tanam harian di Jawa Tengah berada pada kisaran 7.000 hingga 8.000 hektare.

Ia juga menyebut proyeksi produksi padi hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 4,69 juta ton dari target tahunan 10,55 juta ton gabah kering giling. Selain padi, Jawa Tengah juga disebut sebagai kontributor utama bawang putih nasional dengan sumbangan 63,9 persen.

Untuk mengejar target itu, pemerintah menerapkan inovasi pola “sepur” atau sistem percepatan tanam berkelanjutan. Metode ini menghubungkan panen dan tanam secara cepat agar lahan dapat dimanfaatkan lebih optimal.

“Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah,” ujar Defransisco. Kombinasi regenerasi petani, perlindungan lahan, dan inovasi tanam kini menjadi dasar Jawa Tengah dalam menjaga produksi pangan tetap kuat di tengah perubahan kebutuhan sektor pertanian.

Baca Juga

Back to top button