Musim kemarau mulai menekan Jawa Tengah, dan dampaknya sudah terasa di sejumlah wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan. Pemerintah daerah kini bergerak cepat karena pasokan air bersih warga di beberapa kabupaten mulai terancam.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah menunjukkan ada 18 daerah yang masuk peta rawan kekeringan pada musim ini. Wilayah tersebut tersebar di pesisir utara, kawasan selatan, hingga tengah provinsi, sehingga risiko kekurangan air tidak hanya terkonsentrasi di satu titik.
18 daerah yang masuk peta rawan
Daerah rawan itu meliputi Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Sragen, Brebes, Tegal, Pemalang, Boyolali, Kabupaten Semarang, Cilacap, Purbalingga, Purworejo, Klaten, Jepara, dan Banjarnegara. Sebagian wilayah ini sudah mulai merasakan tekanan pada akses air bersih ketika kemarau menguat.
| Daerah Rawan | Keterangan | Kondisi Terkini |
|---|---|---|
| Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Sragen | Wilayah rawan di pesisir utara dan tengah | Masuk pemetaan BPBD Jawa Tengah |
| Brebes, Tegal, Pemalang, Cilacap, Purbalingga, Purworejo | Wilayah rawan di selatan dan barat | Masuk pemetaan BPBD Jawa Tengah |
| Boyolali, Kabupaten Semarang, Klaten, Jepara, Banjarnegara | Wilayah rawan di tengah dan pantura | Masuk pemetaan BPBD Jawa Tengah |
Status siaga darurat mulai ditetapkan
Hingga Juni 2026, delapan daerah sudah lebih dulu menetapkan status siaga darurat kekeringan. Daerah itu adalah Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Kota Tegal, dan Kota Salatiga.
Status tersebut bisa bertambah jika kemarau berlangsung lebih panjang. Karena itu, pemerintah daerah diminta menjaga kesiapan logistik air dan mempercepat respons di titik-titik yang mulai kekurangan pasokan.
Distribusi air bersih jadi langkah cepat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat tiga kabupaten, yakni Klaten, Boyolali, dan Pemalang, sudah terdampak kekeringan. Sebagai respons awal, ratusan ribu liter air bersih telah digelontorkan untuk membantu kebutuhan harian warga.
Pola dropping air juga disiapkan di daerah lain yang berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air. Langkah ini dipakai sebagai penanganan cepat sambil menunggu solusi yang lebih permanen di lapangan.
Jepara, Blora, Rembang, dan Demak perkuat kesiapsiagaan
Jepara memilih pembangunan sumur bor sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk menghadapi musim kemarau. Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan upaya itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air warga selama kemarau.
Sumur bor telah dibangun di Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, serta Desa Kepuk dan Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri. Langkah ini membuat penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada bantuan air bersih.
Di Blora, BPBD mencatat 149 desa dan kelurahan di 15 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 139 desa, sehingga persiapan distribusi air bersih diperkuat.
Sekretaris BPBD Blora, Mulyowati, menyampaikan puluhan ribu liter air bersih sudah disiapkan, termasuk untuk fasilitas pendidikan seperti sekolah rakyat. Di Rembang, pemerintah daerah bersama sektor swasta melalui CSR menyiapkan anggaran Rp275 juta untuk bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menyebut langkah itu penting karena pada 2024 ada 64 desa yang memerlukan bantuan serupa. Demak juga memperketat koordinasi lintas sektor dengan mengerahkan 500 relawan agar respons di lapangan lebih cepat.
Pola penanganan di Jawa Tengah memperlihatkan bahwa kekeringan kini diperlakukan sebagai risiko berulang yang membutuhkan kesiapan sejak dini. Pemetaan wilayah rawan, penetapan siaga darurat, distribusi air bersih, dan pembangunan sumur bor berjalan bersamaan untuk menahan perluasan krisis air.
