Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan regenerasi petani sebagai salah satu langkah utama untuk menjaga ketahanan pangan daerah. Di tengah ancaman alih fungsi lahan dan perubahan generasi pelaku usaha tani, dorongan kepada petani milenial dipandang penting agar produksi pangan tetap terjaga.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan hal itu saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dalam Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial Jawa Tengah di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Ia menilai sektor pertanian membutuhkan sumber daya manusia yang lebih adaptif terhadap teknologi dan pembaruan di lapangan.
Regenerasi Petani Jadi Fokus Utama
Sumarno menyebut regenerasi petani bukan sekadar program pendukung, melainkan bagian dari strategi besar untuk mencapai swasembada pangan. Menurut dia, kebutuhan akan petani muda semakin mendesak karena sebagian besar petani saat ini berada pada rentang usia 40 hingga 60 tahun.
Kondisi itu membuat pembaruan tenaga kerja pertanian menjadi penting. Pemerintah provinsi melihat petani milenial sebagai jawaban atas kebutuhan SDM baru yang lebih terbuka terhadap inovasi dan cara kerja yang lebih efisien.
“Regenerasi ini menjadi kunci,” kata Sumarno. Ia menambahkan bahwa SDM baru yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi akan membuat pertanian lebih produktif dan efisien.
Jumlah Petani Muda Mulai Bertumbuh
Pemprov Jawa Tengah mencatat jumlah petani milenial di wilayah itu telah mencapai sekitar 630 ribu orang. Angka tersebut menunjukkan regenerasi mulai berjalan, meski ruang untuk memperluas keterlibatan generasi muda di sektor pertanian masih terbuka lebar.
Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, menyampaikan jaringan petani muda di Jawa Tengah terus berkembang sejak 2019. Saat ini, jumlahnya hampir mencapai 35 ribu orang.
Rayndra menilai pertumbuhan itu penting karena petani muda bukan hanya pelaku usaha tani, tetapi juga bisa menjadi penggerak minat generasi berikutnya. Kehadiran mereka membantu menunjukkan bahwa pertanian tetap relevan sebagai sektor ekonomi yang menjanjikan.
Kolaborasi Penyuluh dan Petani Milenial
Apel siaga di Temanggung diikuti 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota dan 300 Duta Petani Milenial. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kerja bersama antara penyuluh dan petani muda agar swasembada pangan bisa berjalan secara berkelanjutan.
Rayndra menekankan bahwa petani milenial tidak bisa bergerak sendiri. Penyuluh pertanian tetap memegang peran penting dalam membimbing, mendampingi, dan memastikan inovasi yang diterapkan di lapangan benar-benar efektif.
“Kolaborasi ini semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata,” ujarnya. Ia menyebut kontribusi itu diharapkan tidak hanya terasa di Jawa Tengah, tetapi juga memberi dampak lebih luas secara nasional.
Perlindungan Lahan Jadi Penopang Ketahanan Pangan
Selain mendorong regenerasi, Pemprov Jawa Tengah juga memperkuat perlindungan lahan pertanian. Upaya itu dilakukan melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW agar lahan pertanian tidak mudah beralih fungsi.
Pemerintah daerah ingin memastikan lahan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan pertanian tetap mendapat perlindungan ketat. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi pangan dalam jangka panjang.
Sumarno menyampaikan bahwa kebijakan tersebut dijalankan bersama pemerintah kabupaten dan kota. Perlindungan lahan juga dibarengi dengan upaya menjaga sumber daya air dan lingkungan, termasuk kawasan tangkapan air yang menopang sistem pertanian.
Pertanian Tangguh Butuh SDM, Lahan, dan Lingkungan
Pendekatan Jawa Tengah menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada luas panen. Kualitas SDM, perlindungan lahan, dan kelestarian lingkungan ikut menentukan daya tahan sektor pertanian menghadapi tantangan ke depan.
Dengan petani milenial yang makin aktif, dukungan penyuluh yang lebih intensif, serta kebijakan tata ruang yang lebih tegas, Jawa Tengah berupaya menjaga pertanian tetap produktif dan adaptif. Upaya ini menjadi penting agar sektor pangan daerah tetap kuat di tengah tekanan alih fungsi lahan dan kebutuhan produksi yang terus meningkat.
Source: solo.tribunnews.com






