Jateng Ubah Sekolah Jadi Mesin Kemandirian Ekonomi, Dari Kebun Hingga MBG

Jawa Tengah mulai menempatkan pendidikan bukan sekadar sebagai ruang belajar, melainkan sebagai mesin kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Pesan itu menguat dalam peringatan Hardiknas 2026 saat Pemprov Jateng memilih SMKN 1 Kedawung, Kabupaten Sragen, sebagai pusat upacara.

Pilihan lokasi itu menegaskan arah kebijakan yang lebih luas dari seremoni tahunan. Pemerintah provinsi ingin menunjukkan bahwa sekolah juga harus ikut menopang ketahanan pangan nasional dan memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah.

Pendidikan yang menyatu dengan pembangunan daerah

Gubernur Ahmad Luthfi menilai pendidikan perlu bergerak seiring dengan pembangunan daerah. Ia menekankan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di keluarga, masyarakat, dan media.

Dalam amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang dibacakannya, Ahmad Luthfi menyebut pendidikan sebagai proses memuliakan manusia. Ia juga menyampaikan bahwa hasil pendidikan adalah anak-anak yang mampu berinteraksi, beradaptasi, dan siap menjadi masa depan bangsa.

Tema peringatan tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, ikut menegaskan pentingnya kolaborasi. Pemprov Jateng ingin memperkuat pendidikan yang inklusif dan berdaya saing lewat sinkronisasi kebijakan pusat dan inovasi daerah.

SMKN 1 Kedawung jadi contoh sekolah pangan

SMKN 1 Kedawung dipilih karena dinilai menjadi role model pendidikan berbasis ketahanan pangan. Sekolah ini juga sejalan dengan roadmap pembangunan Jawa Tengah 2026 yang menargetkan swasembada pangan.

Di sekolah itu, siswa tidak hanya belajar teori. Mereka juga praktik langsung melalui pengelolaan kebun dan peternakan yang menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.

Sejumlah komoditas sudah dibudidayakan di lingkungan sekolah. Di antaranya kelengkeng, jeruk, durian, dan jambu.

Sebagian hasil produksi itu dimanfaatkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ahmad Luthfi menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kemandirian siswa dan berharap praktik seperti itu terus berkembang.

Dukungan pendidikan untuk kebutuhan pangan

Kepala SMKN 1 Kedawung, Fahmi Khoiruman, menjelaskan sekolahnya memiliki beragam program keahlian di sektor pertanian dan pangan. Bidangnya mencakup hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, pengolahan hasil pertanian, hingga tata boga.

Fahmi mengatakan sekolah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Ia juga menyebut sekolah tersebut sudah berkontribusi menyuplai buah, telur, dan ikan untuk program MBG.

Model pembelajaran seperti itu memberi gambaran bagaimana sekolah dapat terhubung langsung dengan kebutuhan nyata di daerah. Pada saat yang sama, pendidikan vokasi ditempatkan sebagai penggerak yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga nilai ekonomi.

Apresiasi untuk guru dan siswa berprestasi

Dalam momentum Hardiknas itu, Pemprov Jawa Tengah juga menyerahkan penghargaan dan beasiswa kepada insan pendidikan. Penghargaan Satyalencana Karya Satya diberikan kepada guru PNS dengan masa pengabdian 10, 20, hingga 30 tahun lebih.

Penghargaan lain diberikan kepada pelajar berprestasi tingkat nasional. Mereka adalah Muhammad Azka Abdurrahman, peraih medali emas bidang Teknologi Digital, dan Naila Aini Bahri, peraih emas bidang Wirausaha Sosial dalam Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia atau FIKSI 2025.

Pemberian penghargaan itu menunjukkan perhatian Pemprov Jateng tidak berhenti pada pembangunan fisik sekolah. Pemerintah juga menempatkan prestasi guru dan siswa sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang mendukung kemandirian ekonomi daerah.

Source: www.rmoljawatengah.id
Exit mobile version